Perayaan Puisi dalam Pesta Demokrasi

Perayaan Puisi dalam Pesta Demokrasi

Kini pesta demokrasi bukan lagi monopoli politisi. Pada Pemilu 2024 yang tinggal menghitung hari, kalangan penyair ikut mewarnainya. Mereka tidak sekadar hadir di bilik suara 14 Februari mendatang. Tetapi terlibat langsung dalam hajatan politik lima tahunan itu.

TENTU, partisipasi nyata para penyair sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Yakni, berupa sejibun karya puisi. Ditulis oleh para penyair dari seluruh negeri. Sebagai wujud kepedulian terhadap masa depan bangsa dan negara.

Ratusan puisi tersebut terabadikan dalam dua buku antologi puisi. Dua komunitas besar sastra di Indonesia menjadi inisiator penerbitannya. Yakni, Gerakan Puisi Menolak Korupsi (GPMK) dan komunitas TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia).

Keduanya kompak mengangkat tema ”Presiden”. GPMK menjuduli buku antologi puisinya Mencari Presiden Antikorupsi (MPA). Sedangkan TISI memilih Aku Presiden sebagai judul antologinya.

Baca juga beragam CERPEN atau PUISI

MPA merupakan buku kesembilan GPMK. Sebelumnya, GPMK yang dikomandani penyair Sosiawan Leak secara istiqamah telah menerbitkan delapan buku Puisi Menolak Puisi. Sedangkan TISI sudah meluncurkan empat buku puisi.

Puisi-puisi dalam buku MPA berisi harapan sekaligus peringatan bagi presiden terpilih: jangan menjadi koruptor! Sebab, tulis Joko Pinurbo, kebiasaan koruptor berpesta pora telah memberi tugas baru bagi air bah: Banyak sekali tugas banjir hari ini,/dari merendam hati manusia/hingga mencuci piring-piring kotor/bekas pesta para koruptor (Joko Pinurbo, ”Tugas Banjir”, hal 184).

Jokpin –panggilan karib Joko Pinurbo– tidak sendirian. Para penyair top ikut meramaikan pesta demokrasi Mencari Presiden Antikorupsi. Di antaranya, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), D. Zawawi Imron, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noor, Isbedy Stiawan Z.S., Mustofa W. Hasyim, dan Tengsoe Tjahyono. Juga ada Syarifuddin Arifin, Kurnia Efendi, Ulfatin Ch., Riri Satria, Sihar Rames Simatupang, Beno Siang Pamungkas, Tri Astoto Kodarie, Sofyan R.H. Zaid, dan lain-lain.

Baca juga beragam artikel tentang SERBA-SERBI SASTRA biar engkau makin akrab dengan sastra

Lewat puisi ”Nabi Sulaiman Tersenyum” (hal 190), Gus Mus secara sarkas mengajak presiden terpilih kelak merenung. Kiai yang penyair itu menyuguhkan dialog puitis antara semut sebagai kelompok paling kecil tak berdaya dan Raja Digdaya Nabi Sulaiman: …Dan semoga semua yang di atas/Seperti Nabi Sulaiman/Sudi mendengar dan mengerti/Mereka yang di bawahnya. 

Tentu, Gus Mus tidak asal menulis rangkaian kalimat tak bermakna. Sebaliknya, pesan puisi Gus Mus itu mencerminkan fenomena kepemimpinan mutakhir. Yakni, pemimpin yang obral janji (saat kampanye) sekaligus mudah melupakan janjinya (setelah terpilih).

Meski harus hidup perih gegara korupsi, penyair Ulfatin Ch. mengingatkan, kita harus tetap mencintai Indonesia: …Saat aku mencintaimu, Indonesia/dan aku ingin terus mencintaimu/meski tanpa gurung emas, biji besi, nikel, rotan, dan batubara/yang hilang terperah penjarah negeri sendiri/aku mencintaimu, Indonesia/aku tetap mencintamu/meski dengan luka/kuserahkan utang pada anak cucu/yang terborgol tangannya/menggenggam ratapan keadilan (”Saat Aku Mencintaimu, Indonesia”, hal 353).

Baca juga beragam opini dan pandangan di rubrik SUDUT PANDANG

Sikap dan tingkah koruptor sangat memuakkan. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang diharapkan menjadi ”sapu” pembersih lantai penuh debu korupsi kini malah ikut-ikutan kotor. Pucuk pimpinannya menjadi tersangka korupsi. Puluhan bawahannya yang bertugas menjaga tahanan koruptor diduga melakukan korupsi. Kondisi itu membuat penyair Sofyan R.H. Zaid muak. Dia mengekspresikannya hanya dalam satu kata dalam puisi berjudul ”Tuhan”: Tahan!

Buku MPA semakin prestisius dengan sampul guratan penyair yang juga pelukis D. Zawawi Imron. Penyair Celurit Emas itu membuat ilustrasi seorang berdasi merah lengkap dengan jasnya sedang duduk di tumpukan uang. 

Kedua tangannya memangku tumpukan uang di atas pahanya. Bisa ditebak, lelaki berkaca mata itu pasti koruptor kakap. Zawawi menggoreskan tanda silang besar berwarna merah di wajah sosok itu. Gambar ilustrasi itu pun menjadi sangat puitis.

Baca juga beragam CERITA RAKYAT lainnya

Banyak sekali pemuisi yang ikut merayakan pesta demokrasi di panggung antologi MPA. Tercatat 208 penyair yang mengirim naskah. Namun, tim kurator, Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Dr Dewa Sahadewa (Kupang), dan Dr Riri Satria (Bogor), hanya memilih 153 penyair (dengan 258 karya).

Buku MPA diluncurkan di PDS H.B. Jassin Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (24/11/2023). Selain koordinator nasional GPMK Sosiawan Leak, acaranya juga dihadiri tokoh, sastrawan-penyair, dan peminat sastra Indonesia dari berbagai kota.

Berbeda dengan antologi MPA, tema antologi Aku Presiden lebih fleksibel. Tidak sebatas mencari sosok presiden antikorupsi. ”Para penyair silakan mengandaikan dirinya sebagai presiden. 

Apa yang harus dilakukannya ketika melihat kenyataan di sekelilingnya. Bisa masalah ekonomi, kemiskinan, tengkes, pendidikan, dan lain-lain. Silakan tema-tema itu diolah dengan kata-kata puitis,” kata Presiden TISI Mohammad Octavianus Masheka.

Buku Aku Presiden dalam proses kurasi oleh Mahrus Andis (Makassar) dan Hermawan (Dr Hermawan, dosen PBSI STKIP Rokania, Rokan Hulu, Riau). Rencananya, Aku Presiden diluncurkan setelah coblosan.

 ”Nunggu kata pengantar presiden terpilih,” kata Octa, sapaan Mohammad Octavianus Masheka, seraya berharap, ”para penyair Aku Presiden diundang ke Istana Negara. Berdiskusi langsung dengan presiden terpilih. Masak hanya artis dan pelawak yang diundang.”

Wa ba’du. Lewat buku Mencari Presiden Antikorupsi dan Aku Presiden, penyair mengingatkan pemimpin bangsa, puisi tidak bisa dilepaskan dari masalah bangsa. Puisi itu sangat penting. ”Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya,” nasihat John F. Kennedy. (*)

Baca juga beragam kisah inspiratif di rubrik SOSOK yang akan menambah benih motivasi bagi dirimu dalam mengarungi hidup ini

Ditulis oleh SAMSUDIN ADLAWI, Penyair tinggal di Banyuwangi. 

*Artikel ini pertama kali terbit di Jawa Pos Miungguan rubrik Halte edisi 11 Januari 2024. Editor: Ilham Safutra. Ilustrator: Bagus/JawaPos

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment