Bertumbuh dengan Merelakan

Setiap orang punya mimpi di dalam hidupnya. Mimpi itu dapat berupa pekerjaan, perguruan tinggi, jabatan, dan sebagainya. 

Mimpi-mimpi tersebut merupakan perwujudan dari harapan dan semangat untuk berjuang menjalani hidup. Namun, di dalam hidup ini, ada banyak kerikil yang sering kali membuat seseorang harus dewasa lewat belajar merelakan. 

Hal ini serupa dengan pembahasan dalam siniar Anyaman Jiwa episode “Kapan Harus Idealistis dan Realistis?”. Dalam episode ini, dikatakan bahwa realitas sering kali menjadi penyebab seseorang harus merelakan mimpinya.

Pahitnya kenyataan memberikan segudang pembelajaran untuk kehidupan. Pembelajaran itu menjadi pendorong bagi seseorang untuk belajar dewasa dalam menerima segala hal di hidupnya.

Baca juga ragam artikel tentang PSIKOLOGI

Realitas dan Hal-Hal di Luar Kendali Kita

Sebagai manusia, kita cenderung untuk merencanakan dan mengatur berbagai hal dalam hidup kita. Beragam keinginan tersusun sebagai tujuan utama kehidupan dan meyakini diri bahwa mimpi tersebut dapat tercapai. Segala usaha, tenaga, dan jerih payah kita pertaruhkan untuk mencapai keinginan itu. 

Namun, tak ada yang menyangka dan menyiapkan hati untuk adanya kemungkinan gagal. Hal ini didukung oleh pernyataan Psychology Today, bahwa sering kali kita gagal menyadari keterbatasan kita atas hal-hal yang terjadi di dalam hidup kita.

Saat sudah menyadari keterbatasan, kita masih sulit untuk menerimanya karena takut kecewa. Perasaan takut maupun sedih akan keterbatasan sangatlah wajar, sebab untuk menerimanya tentu sangat sulit dilakukan.

Baca juga beragam CERPEN lainnya untuk menghibur dan memotivasi jiwa serta pikiranmu setelah seharian beraktivitas, bekerja, dan belajar.

Namun, ada satu pemahaman yang sering terlewatkan; kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Pemahaman tersebut ditandai dengan berbagai peristiwa yang tak pernah kita bayangkan. 

Misalnya, kehilangan rasa akan sesuatu yang dulu kita senangi, kepergian orang-orang yang berarti, dan tidak terkecuali kegagalan.

Ketika dihadapi hal-hal seperti itu, tak jarang kita tenggelam dalam kesedihan. Padahal, selalu ada harapan untuk hal yang jauh lebih besar lewat belajar merelakan.

Bertumbuh dengan Merelakan

Merelakan bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh waktu dan kelapangan hati untuk menerima kenyataan bahwa manusia penuh keterbatasan dan pasti akan diliputi rasa kehilangan.

Namun, perlu diketahui dengan belajar merelakan, kita dapat bertumbuh menjadi dewasa dan bijak menghadapi setiap permasalahan di hidup. Kita juga dapat membangun sebuah mindset positif.

Kalau hidupmu kurang motivasi, mudah lelah dan mletre, sila carger dengan baca kisah dari para SOSOK yang keren.

Oleh karena itu, kita harus bisa belajar merelakan. Melansir PsychCentral, ada beberapa cara yang dapat kita terapkan supaya dapat belajar merelakan.

Pertama, harus ada sebuah pemahaman bahwa hidup tidak berputar pada keinginan kita semata. Contoh, ada saat di mana kita harus merelakan keinginan atau mimpi kita karena berbagai faktor tak terduga, seperti ekonomi, prospek masa depan, minimnya dukungan orangtua, dan lain sebagainya.

Merelakan mimpi memang sulit, namun dengan merelakan ada hal lain yang dapat dijadikan pelajaran. Jika tidak dapat mewujudkan mimpi, kita dapat tetap dekat dengan mimpi itu lewat menjadikannya sebagai hobi. 

Tindakan ini adalah wujud dari hal yang bisa dikendalikan sehingga kita semakin belajar untuk dewasa.

Baca juga beragam artikel Sudut Pandang dari berbagai tokoh berpengaruh, akademisi, dan para pemikir atau ahli.

Setelah mulai belajar untuk dewasa dan merelakan, kita dapat melatih diri untuk menghargai apa yang kita miliki sekarang, seperti karier, kasih sayang dari keluarga dan pasangan, teman-teman yang suportif, dan lingkungan hidup yang nyaman.

Perjalanan menjadi dewasa memang tidak mudah. Sebab, dengan menjadi dewasa berarti juga harus belajar untuk menerima dan merelakan hal yang tak akan menetap di hidup kita. Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah terus melangkah dan percaya akan selalu ada hal baik untuk kita di masa mendatang.

Ditulis oleh Ramos Mangihut Yemima S. dan Ikko Anata. Tulisan ini kemudian dieditori oleh Yohanes Enggar Harususilo. Pertama kali tayang di Kompas, dengan judul yang sama.