Giri Tohlangkir Karya Ni Wayan Wijayanti

Puncak gunung itu dibawa Batara Siwa dari Jambu Dwipa yang jauh di sana. Cecerannya terserpih-serpih di Pulau Jawa.

“GUNUNG takkan pernah membunuh. Ia justru menghidupi.” Bapak kerap berucap demikian, setiap kali gemuruh itu muncul dan membuatku khawatir. 

Mataku masih awas mengamati gumpalan awan-awan hitam yang semakin lama semakin banyak berkumpul di puncaknya. Puncak Hyang Giri Tohlangkir, gunung tertinggi yang dimiliki pulau ini.

“Puncak gunung itu dibawa Batara Siwa dari Jambu Dwipa yang jauh di sana. Cecerannya terserpih-serpih di Pulau Jawa yang disebut Mahameru.” Bapak melanjutkan cerita sembari memetik helai demi helai rumput teki-teki yang tumbuh di sela tanaman singkong di kebunnya yang tandus.

Aku melirik bapak dengan sudut mata tajam. Sudah hapal betul ceritanya tentang gunung itu. Gunung yang begitu dipuja seluruh penduduk pulau, yang konon katanya memberikan penghidupan. Penghidupan yang menurutku sulit.

Bagaimana tidak? Meski berada di kaki gunung, tanah-tanah ini tandus dan gersang. Lereng gunung itu bahkan tampak kecoklatan dan berpasir. Tak nampak satu pepohonan pun jika dilihat dari bawah sini. Jadi, penghidupan seperti apa yang Sang Gunung berikan? Aku benar- benar tak mengerti.

Baca juga Mengganti Nama dengan Mesin Waktu

“Di dalam perut Hyang Tohlangkir, tinggal seekor naga sakti dengan api panasnya. Ialah Hyang Basuki yang memiliki permata berkilau dengan sisik emas.”

Saat aku nyatakan keraguanku terhadap berkat dari gunung itu, bapak malah menjawabnya demikian.

“Pak, naga itu hanya mitos belaka,” balasku sembari duduk di bawah pohon ketapang menyudahi pekerjaan mencabuti rerumput liar kering. “Desa ini panas dan gersang. Harusnya bapak mengizinkanku ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, ketimbang menyuruhku menunggu rezeki besar dari gunung itu, yang bahkan tidak jelas benar datangnya!”

Mendengar keluhanku yang sudah kesekian kali, bapak hanya tersenyum dan ikut mendudukkan diri di sampingku, “Sabarlah, Nak! Kau pemuda tangguh yang harus turut membangun desa ini kelak. Sebentar lagi berkat dari leluhur akan membuncah dari mulut Hyang Tohlangkir itu sendiri. Membangunkan serta Basuki yang terlelap untuk turun ke lautan dan memberikan kelimpahan juga pada ikan- ikan.” Aku mendengus sebal dan memilih pergi meninggalkan bapak sendirian dengan seribu bualannya.

Baca juga Tempoyak Pedas untuk Dewa Dapur

***

“Linuh! Linuh!” Penduduk desa berteriak keras sembari membunyikan kul-kul bulus, seiring goncangan gempa berkali-kali di tanah ini. Sudah beberapa hari desa terguncang gempa yang cukup membuat panik warga. Ditambah gemuruh yang sesekali hadir, membuat suasana menjadi agak gelap dan makin mencekam. Padahal, besok adalah perayaan Eka Dasa Ludra, hari suci yang dilaksanakan setiap seratus tahun sekali di pura terbesar di kaki Gunung Tohlangkir.

“Gempanya semakin besar. Apa bapak yakin akan sembahyang ke sana?” tanyaku cemas, berulang kali melirik ke arah gunung yang tampak semakin samar karena tertutup awan hitam.

Bapak tersenyum dengan teduh, “Perayaan ini hanya setiap seratus tahun sekali. Belum tentu di reinkarnasi berikutnya Bapak berkesempatan melihatnya lagi. Jadi mana mungkin Bapak tidak hadir untuk sekadar menabuh gamelan?”

“Tapi, bagaimana dengan Ibu dan Made?” tanyaku mengiba, berharap bapak mengasihani kami sehingga mengurungkan niatnya. Namun jawaban yang aku inginkan tidak terucap, “Wayan yang akan menjaga keluarga ini. Bapak akan tetap sembahyang, memohon berkat dari Hyang Tohlangkir untuk kita dan penduduk desa.”

Baca juga Cerpen Atavisme Karya Budi Dharma

Sekuat tenaga aku bersikukuh untuk menghalangi laki-laki itu pergi di hari itu. Beberapa letusan kecil dengan semburan abu terdengar jelas. Udara di desa kami semakin tak baik. Debu terhambur membuat semua tampak keperakan. Dan laki-laki itu berjalan menjauh. Meninggalkan punggung bayangan yang seolah sudah mati.

Aku, adik, ibu, dan warga lainnya pergi meninggalkan rumah dengan menenteng beberapa barang tak berharga yang bisa kami bawa. Kami menuju tenda-tenda pengungsian sederhana yang sudah disiapkan pemerintah.

Gumpalan awan turun dengan gemuruh yang semakin dasyat. Lahar merah bahkan terlihat sudah membuncah. Dari tenda pengungsian, kami bisa melihatnya dengan jelas.

Ibu memandang Giri Tohlangkir dari kejauhan dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak, “Sedari awal, bapakmu telah bertekad mempersembahkan jiwa raganya untuk Tohlangkir,” ujar ibu lirih. Namun dari nadanya, ia terdengar telah ikhlas. “Wayan ingatlah ini, bapakmu adalah pahlawan!”

Aku menggeleng kuat-kuat. Sungguh tidak setuju dengan ucapannya. Ibu membelai kepalaku, seolah hendak membagi sebagian deritanya.

Baca juga Tangan-Tangan Buntung Karya Budi Dharma

“Bapak bahkan memilih mati bersama lahar gunung ketimbang menjaga keluarganya sendiri,” celetukku sengit menahan air mata yang pedih. “Tapi dengan menumbalkan nyawanya, ia menjaga seluruh desa dari bencana yang lebih besar, sebagaimana ritual pekelem.”

“Tidak cukupkah pekelem hanya berupa sapi, babi, dan anjing?!” teriakku serak. Tak tahan rasanya dengan tradisi kuno di luar nalar seperti ini. “Nak, para kuncen harus setia sampai mati pada gunung dan salah satunya adalah bapak. Inilah bentuk Yadnya atau pengorbanan tertinggi darinya,” ujar ibu lembut.

“Dhuaaarrr...!!!” Sebuah letusan yang paling besar dibanding sebelumnya, mengagetkan kami dan para pengungsi, disusul gempa yang cukup kuat. Orang-orang berlarian ke luar tenda, khawatir kalau- kalau tenda mereka roboh oleh guncangan tadi. Lahar merah meletus dari kawah gunung, mengalir ke bawah melalui Sungai Unda. Lelehannya bagai seekor naga merah, meliuk-liuk lincah menuju peraduannya di muara sungai. Lahar itu membanjiri kanal-kanal, dengan tanpa ragu mengarah ke lautan yang di ujungnya berdiri Pura Goa Lawah.

Baca juga: Monopoli Amal Karya Puspa Seruni

Sang lahar, Hyang Basuki, telah sampai ke kedalaman samudra. Ia tertidur di sana dalam waktu yang sangat lama. Mengakhiri pesta yang dilakukan-Nya tepat saat perayaan hari suci Eka Dasa Ludra. Hyang Basuki berpayung abu dan hujan yang menyelimuti desa kami. Menyuburkan tanah-tanah yang sebelumnya gersang hingga layak untuk ditanami. Abu itu pula menyelimuti Pura Besakih, di kaki Gunung Tohlangkir.

Sepeninggalan Basuki ke peraduannya, gempa itu pun tak muncul lagi. Orang-orang kembali ke rumah masing-masing dan mulai membangun kembali desa yang porak-poranda, termasuk juga diriku. Namun, kaki ini tak kuasa untuk tidak melihat kondisi Pura Besakih, tempat bapakku mempersembahkan dirinya pada Sang Gunung.

Jadi hari itu, aku menerobos garis-garis penghalang untuk masuk ke dalam pura. Di sana kudapati seonggok raga yang sangat kukenal tengah duduk menabuh gamelan. Ia tidak sendiri. Ada beberapa rekannya sesama para pengikut kuncen.

Baca juga: Dokter Mimpi Karya Bagus Sulistyo

Mayat-mayat tersebut tetap pada posisinya menabuh gamelan. Seolah pada waktu itu mereka tengah berpesta menyambut lahar merah panas yang disebut Basuki. Mengiringi naga itu menari, mengular ke dasar samudra yang entah di mana tepiannya. 

Tanganku menyentuh lengan lelaki yang terlapis abu itu. Butir-butirannya rapuh dan hilang tertiup angin. Mungkin saja angin tersebut telah membawa raganya terbang sampai angkasa, terlarut bersama pelukan awan-awan putih, dan turun kembali pada pertiwi sebagai hujan.

“Pak, jika ada yang bertanya padaku di mana dirimu saat ini, maka aku akan menjawab bahwa kamu telah dimakamkan di langit sana, menyatu dengan udara yang kini kami hirup, dan memeluk kami sebagaimana bayangan.”

Baca juga: Komisi Kebanaran (Sebuah Reportase) Karya Ida Fitri

***

Beberapa puluh tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Ibu telah lama pergi menyusul bapak yang mengembara bersama Basuki. Abu ibu dilarung ke laut, tak jauh dari Pura Goa Lawah tempat perlintasan lahar suci itu. 

Berbeda saat aku muda dulu, tanah perkebunan ini terasa jauh lebih subur. Rupanya abu itu membawa material ajaib berisi doa-doa para leluhur kami sehingga ia mampu menumbuhkan segala apapun yang ditanam bahkan hingga ratusan generasi selanjutnya.

“Pak, kamu benar... Gunung tidak membunuh. Ia justru menghidupi.” 

***

Catatan:

Kul-kul bulus: kentongan tradisional yang dibunyikan saat terjadi peristiwa bahaya.

Pekelem: ritual pengorbanan yang menggunakan beberapa jenis hewan tertentu. Biasanya dipakai untuk menolak marabahaya. Ritual tersebut merupakan salah satu jejak tradisi aliran Tantra kuno yang masih dilakukan hingga saat ini.

Baca juga CERPEN dan PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa dan pikiranmu setelah seharian lelah beraktivitas, bekerja, atau berlajar.

Ni Wayan Wijayanti. Lahir di Gianyar, Bali. Tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, seperti Kompas, Ceritanet, Majalah Bobo, Tatkala.co, Indonesiana.id, Negeri Kertas, dan Cerano. Merupakan Finalis Ubud Reader and Writer Festival 2004. Karyanya yang lain sempat terpilih sebagai 30 cerita terbaik McD’s Indonesia tingkat nasional 2022. Saat ini aktif sebagai seorang SEO content writer untuk beberapa agensi dan sales marketing penginapan wilayah Ubud.

Dede Wahyudin. Lahir di Bandung, 8 Mei 1975. Menempuh pendidikan S-1 Seni Rupa UPI Bandung. Selain melukis, bekerja sebagai guru seni budaya di SMA Pasundan 8 Bandung. Sejak tahun 1999 telah berpameran tunggal sebanyak empat kali. Terakhir pameran tunggal di Orbital Dago Bandung tahun 2023

Cerpen ini pertama kali diterbitkan di Kompas edisi 18 Februari 2024

 

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment