Dokter Mimpi Karya Bagus Sulistyo

Orang yang bahagia tentu tidak memerlukan psikiater. Cerpen Dokter Mimpi Karya BAGUS SULISTIO

Hari ini klinikku tidak begitu ramai. Dari pagi hingga hampir petang, hanya dua orang saja yang datang. Keduanya mengalami masalah seperti orang pada umumnya yang datang ke psikiater. Tidak ada hal aneh untuk mereka berdua.

Pasienku yang pertama adalah seorang pemuda. Aku taksir umurnya tidak lebih dari dua puluh lima tahun. Ia mengalami masalah dengan pola tidurnya. Katanya, sering kali mengalami kesusahan untuk tidur malam. Hampir pagi hari pemuda itu baru bisa memejamkan mata. 

Padahal pada pagi harinya pemuda tersebut harus pergi ke kantor. Jelas, masalah insomnia menjadi hal yang berat bagi dirinya.

Tadi, aku sudah memberikan beberapa saran kepadanya. Seperti dokter kepada pasien, aku menyuruhnya untuk sering berolahraga. Dengan olahraga, bisa jadi insomnianya akan berkurang. Selain itu, aku juga memberinya obat doxylamine dengan dosis rendah. Barangkali juga obat sedikit membantunya ketika pemuda itu sangat susah sekali untuk tidur.

Baca juga cerpen Terima Kasih, Paman Karya Yudhi herwibowo

Pasienku yang kedua adalah seorang gadis sekolah menengah atas. Ia mengaku seorang bipolar berdasarkan hipotesisnya sendiri. Sebagai seorang psikiater, aku tidak bisa serta-merta percaya dengan hipotesis pasien. 

Aku harus meneliti lebih lanjut. Yang jelas, keluhannya datang kemari adalah merasa sangat stres. Ia terkadang suka menangis tiba-tiba, gampang bahagia tiba-tiba, dan sulit fokus ketika sekolah.

Memang, hal tersebut menjadi salah satu ciri gejala bipolar. Akan tetapi, setelah aku mengeruk lebih dalam dari sisi psikologi, ada hal yang dapat disimpulkan. Menurutku, gadis itu stres karena sering dirundung oleh teman-temannya.

Ia mengaku seorang bipolar berdasarkan hipotesisnya sendiri.

Baca juga CERPEN dan PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa dan pikiranmu setelah seharian lelah beraktivitas, bekerja, atau berdoa.

Wajahnya yang tidak begitu cantik dan badannya yang gemuk menjadi obyek serta bahan untuk dirundung. Aku tidak bisa mengatasi masalah tersebut dari luar. Perundungan merupakan hal yang banyak dijumpai di sekolah. Seorang psikiater tidak bisa mencegah hal perundungan secara masif. 

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan olehku adalah memberikan penanganan dari sisi dalam korban. Aku memberinya fluoxetine dengan dosis rendah untuk meminimalkan rasa cemas, stres, dan takutnya.

Setelah melayani dua orang tadi dan kukira tidak ada pasien lagi, aku bergegas merapikan meja kerjaku. Namun, tiba-tiba seorang perempuan dewasa masuk ke dalam ruang kerjaku. Ia tidak berujar apa-apa hingga memancing rasa penasaran.

”Ada yang perlu dibantu, Ibu?”

”Saya sangat stres, Dok. Saya tidak kuat menjalani hidup ini. Saya ingin bermimpi selamanya. Apakah Dokter bisa membuat saya bermimpi selamanya?”

”Maksud Ibu? Jika Ibu meminta demikian, tentu saya tidak bisa membantu sama sekali. Tapi saya bisa sedikit membantu menghilangkan rasa stres Ibu. Kalau boleh tahu, ada masalah apa hingga stres berat, Bu?”

Baca juga cerpen Mbah Ganyong dan Ratapan Pohon-Pohon Karya Daruz Armedian

Awalnya, perempuan itu hanya diam dan menangis saja. Karena sudah terbiasa menghadapi situasi demikian, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan—memberi ruang untuk menenangkan diri.

Beberapa saat kemudian, baru mulutnya mulai terbuka. Ia berkisah perihal suaminya yang malas bekerja. Suaminya hanya keluyuran tidak jelas dan mabuk-mabukan. Kebutuhan keluarga tercukupi karena perempuan inilah yang bekerja. Ia bekerja menjadi pedagang kue keliling setiap hari. 

Kendati demikian, suaminya tetap tidak menghargai perjuangan perempuan itu. Setiap pulang berjualan, pasti ada saja yang diributkan hingga si suami main tangan.

Masalah selanjutnya ada pada mertua perempuan tersebut. Setiap kali bertemu selalu saja nyinyir dan mengejek karena perempuan itu mandul. Sejak lima tahun yang lalu membina keluarga, perempuan itu belum juga dikaruniai buah hati. Hal tersebut menjadi bahan gunjingan mertuanya.

Baca juga: Cerpen Guru Honorer Karya Muhammad Abdul Hadi

”Tolong berikan saya obat untuk bermimpi, Dok. Saya ingin bermimpi membunuh suami dan mertua saya. Saya tidak bisa melakukannya di kenyataan, Dok. Mungkin dengan bermimpi membunuh mereka membuat saya sedikit lebih bahagia.”

Aku sempat kaget mendengar permintaannya. Kendati sambil memelas dan menangis, keinginan perempuan tersebut tidak bisa aku penuhi. Aku berusaha menyadarkannya.

”Walaupun kenyataan kejam, Ibu harus kuat menjalaninya. Ibu harus hadapi permasalahan dengan mental yang teguh dan tentu saja dengan hal yang baik. Pikiran tersebut harus dibuang jauh-jauh.”

”Tapi saya tidak kuat, Dok. Apakah saya bunuh diri saja?”

”Huss, Ibu tidak boleh begitu. Bunuh diri hal yang dilarang oleh apa pun. Nyawa Ibu lebih berharga dari apa pun. Saya akan membantu Ibu dengan memberikan beberapa obat. Obat-obat tersebut semoga bisa membantu hati Ibu tenang.”

Tapi saya tidak kuat, Dok. Apakah saya bunuh diri saja?

Baca juga: Menyusu Ibu Karya Dian Supangat

Aku mengambil beberapa obat untuk perempuan tersebut. Kemudian memberikannya. Perempuan tersebut sempat bertanya perihal harga layanan. Namun, rasa iba kepadanya membuat aku tidak menginginkan uang atas pelayanan, begitu juga obat. 

Setidaknya pemberian pelayanan dan obat gratis dapat membantunya sedikit lebih bahagia. Benar saja, ketika ia hendak pulang, ada sedikit senyuman pada bibir keringnya.

Tidak ada pasien lagi setelah aku tunggu hampir setengah jam. Malam itu aku memutuskan untuk menutup klinik. Pulang ke rumah dan melanjutkan pekerjaan besok lagi.

***

Baca juga cerpen Puisi Apa yang Kau Tulis setelah Hari Ini

Suasana pagi hari ini tampak cerah. Aku berharap tidak ada pasien yang datang ke klinikku. Semakin sedikit bahkan tidak adanya pasien merupakan sebuah indikasi bahwa para penduduk sekitar sedang merasa bahagia.

Orang yang bahagia tentu tidak memerlukan psikiater. Walaupun tidak ada yang datang ke klinik membuat kantongku kering, aku lebih bahagia ketika mereka baik-baik saja.

Hampir tiga jam aku duduk di depan meja kerja. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda pasien datang. Aku merasa bosan setelah menunggu sambil membaca buku psikologi. Kuputuskan untuk membeli koran di lampu merah yang tidak begitu jauh dari klinikku.

Sesampainya di sana, aku membeli koran lokal dan mulai membaca berita terbaru. Dari halaman awal hingga halaman ketiga tidak ada berita yang menarik di kota ini. 

Namun, ada berita kriminal yang membuatku sedikit tercengang. Aku termenung melihat berita dengan judul ”Sepasang Paruh Baya dan Seorang Laki-laki Ditusuk hingga Tewas”.

Baca juga: Petani dan Puing-Puing Langgar

Setelah membaca berita tersebut, aku teringat akan pasienku kemarin. Jangan-jangan pelaku yang belum diketahui oleh pihak berwajib adalah pasien terakhirku. Aku bergegas kembali ke klinik, lalu mencari berkas kemarin. 

Aku menyusuri biodata perempuan itu dan menemukan nomor teleponnya. Langsung kutelepon perempuan tersebut.

Pertama kali menelepon tidak tersambung. Yang kedua kalinya tersambung, tapi tidak diangkat. Yang ketiga kalinya, baru perempuan itu mau mengangkat teleponku.

”Halo, Bu. Ini saya, Pak Wilis, psikiater yang kemarin Ibu kunjungi.”

”Iya. Ada apa, Dok? Saya sudah meminum obat yang Dokter berikan, kok.”

”Baguslah kalau begitu. Bagaimana keadaan Ibu sekarang?”

”Saya semakin bahagia, Dok. Berkat obat dan saran Dokter, saya menjadi sangat bahagia.”

”Syukurlah. Lalu bagaimana dengan mertua dan suami Ibu? Apakah suami Ibu masih kasar?”

”Tidak, Dok. Suami saya tidak bisa kasar lagi kepada saya. Begitu juga dengan mertua saya. Mereka sudah saya beri kenyataan yang pahit. Ha-ha-ha....”

”Maksud Ibu?”

Telepon terputus. Sepertinya perempuan itu yang mematikan teleponnya. Aku mencoba meneleponnya kembali berkali-kali. Hasilnya nihil, telepon tidak kunjung terhubung.

Ditulis oleh Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Desa Karangsalam, Susukan, Banjarnegara. Saat ini menjadi guru wiyata bhakti PAI di SDN 1 Karangsalam dan mentor kepenulisan cerpen di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Ia juga menjadi Wakil Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Banjarnegara dan anggota di KPBJ. Karyanya pernah menjadi nomine sayembara esai Balai Bahasa Jawa Tengah, Juara 2 Esai Bahasa Arab FAC FEBI IAIN Purwokerto, dan Juara 2 Lomba Cerpen Nasional FAH UIN Jakarta.

*Cerpen ini pertama kali terbit di Kompas(dot)id rubrik Cerpen edisi Sabtu (2/12/23) dieditori oleh Dwi As Setianingsih

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment