Puisi-Puisi Derek Alton Walcott, Peraih Nobel Sastra 1992

Derek Alton Walcott lahir di Castries, Saint Lucia, 23 Januari 1930, adalah seorang penulis dari Saint Lucia. Ia memenangkan Penghargaan Nobel Sastra pada 1992. Berikut ini beberapa puisi Derek Alton Walcott yang sudah diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.

Omerus

(Petikan dari Buku Enam Bab XLIV)

I

Di kota-kota perbukitan, antara San Fernando dan Mayaquez,
fajar yang sama menggoyangkan lembing-lembing berbulu di padang tebu
sepanjang jalan raya kepulauan itu. Semilir angin pertama
membentur-benturkan tombak-tombak itu dan bunyinya seperti hujan di kejahuan
berbaris menuruni perbukitan, seperti rumah kerang di telingamu.

Di hari-hari Ahad aspal sejuk Kepulauan Antalia
cahaya membawa sejarah pahit gula
melintasi kebun-kebun, menjelang panen,
ke arah panji-panji yang memudar warnanya dari penyebaran orang-orang India.

Cahaya rintik-rintik bertiup melintasi sabana
menyebabkan kuda-kuda pacuan  itu tampak gelap kulitnya: perlahan kabut menghapus
pohon palem di puncak-puncak perbukitan dan
seluruh perbukitan itu. Bidang-bidang tanah coklat bekas kuda-kuda itu merumput
mengkilap sebasah kulitnya. Seekor kuda jantan gugup
tersentak, melotot mata-kelerengnya mendengar geludug
menyelimuti perbukitan, tetapi tukang kuda menariknya masuk
bagai seorang tangan, kemudian dengan tangan yang lain mengencangkan kendali
dan menciutkan lingkarannya. Langit menggeledek
dan sebatang pohon garpu berkilat, dan mendadak hujan hitam
yang bisa melengapkan seluruh kepulauan
di siang bolong mengguyurkan paku-paku timah di atap-atap,
memukul-mukul balkon rumah. Kututup pintu balkon
dan membayangkan kuda-kuda di kandang yang sebelah telapak kakinya
sedikit diangkat, sambil menyaksikan tali-temali huja. Aku berbaring di tempat tidur
sementara tak ada lampu lantaran listrik putus dan mendengar auman
angin menggoyang-goyang jendela, dan aku ingat akan
Achilles di tikarnya sendiri dan Hektor yang putus asa
berusaha menolong perahunya, kurenungkan Helena
ketika pulauku lenyap dalam kabut, dan aku yakin
takkan pernah kusaksikan dia lagi. Mendadak
hujan berhenti dan kudengar luapan air
di selokan sana. Kubuka jendela ketika
matahari muncul. Ia menggusur sapu-sapu kecil pohon palem
di punggung bukit. Di atap-atap seng sekitar
lapangan rumput, bekas hujan mengkilap, kemudian tukang-tukang kuda
membimbing kuda-kuda itu ke rumputan baru dan melatih
mereka lagi, dan terasa ada kecerahan yang beda
di segalanya, di daunan, di mata kuda-kuda itu.

Baca juga beragam PUISI karya penyair-penyair keren lainnya

II

Kucium bau daunan berlepasan di penghujung tahun
di Januari hijau di villa-villa oranye
dan barak-barak militer tempat tinggal Plunketts,
pelabuhan kena noda angin yang tiba bersama Natal,
yang pernah bersinggungan dengan kutub utara, yang dibaptis menjadi Vent Noel;
ia tinggal sampai Maret dan, kalau untung, sampai paskah.

Ia menyegarkan pohonan cedar, melumuri laurier-cannelle,
dan menyembunyikan camar Afrika. Kucium bau gerimis
di aspal meninggalkan Gunung Morne, baunya mirip
seterika di kain basah; kudengar geretas
ikan digoreng di wajan, kulitnya mengkilap tembaga;
kucium bau ham diisi cengkeh, accra yang mengeras
lilin di kamar tamu yang dipernis: Mari masuk. Mari masuk,
tanganan kursi Morris likat oleh sampang;
kusaksikan perahu layar pergi dan perahu layar datang,
dan semilir angin begitu sejuk menyibakkan gorden renda
bagaikan rok dalam, bagaikan layar perahu menuju Ithca;
kucium bau air di seluran mampet.

Baca juga beragam CERPEN karya cerpenis dan sastrawan nasional

III

Ah, Januari berkepala kembar, yang melihat dua kala:
kala lampau, mereka telah meyakinkan kita, yang terlahir hina,
dan kala kini yang mengangkat kita bersama suara
angin di daunan keluwih begitu tingginya
sehingga bertentangan dengan yang lampau! Peluru-peluru
sukun busuk dari Perang Para Wali,
lubang-lubang bekas peluru di dinding-dinding bata
benteng. Aku hidup di sana sepenuh indera.

Kuhirup bau dengan mataku, kusaksikan segalanya lewat lubang hidungku.

Baja juga Kumpulan Puisi Karya Sudjiwo Tejo

Dunia Baru

Setelah firdaus,
adakah sesuatu yang mengejutkan?

Tentu saja ya, keheranan Adam
pada manik-manik keringat pertama.

Sejak itu, daging
harus ditaburi garam,
agar menghayati batas musim,
kekhawatiran dan panen,
rasa gembira yang sulit,
namun yang, akhirnya, milik sendiri.

Ular? Ia tak akan berkarat
di pohon bercabang itu.

Ular mengagumi kerja,
ia tak akan meninggalkan Adam sendirian.

Dan keduanya akan menyaksikan daun-daun
memutihkan pohon adler,
pohon ek menguningkan Oktober,
semua jadi uang.

Dan ketika Adam dibuang
ke Firdaus Baru kita, dalam perut bahtera,
ular itu pun melingkar di sana
sebagai sahabat; itu memang maunya.

Adam punya gagasan.

Ia dan ular itu akan berbagi keuntungan
atas hilangnya Firdaus.
Jadi keduanya menciptakan Dunia Baru. Dan tampaknya bagus

Baca juga Kumpulan Puisi Karya Sutardji Colzoum Bachri

Agustus Kelam

Begitu banyak hujan, begitu penuh hidup bagai langit bengkak
di Agustus hitam ini. Kakak perempuanku, si matahari,
merenung dalam kamar kuningnya dan tak mau keluar.

Segalanya menuju neraka; bukit-bukit memancarkan uap
bagai ketel, sungai-sungai meluap; namun,
tetap saja kakakku tak mau bangun untuk menghentikan hujan.

Ia di kamarnya, menimang-nimang barang-barang tua,
sajak-sajakku, membuka-buka album. Bahkan ketika geledek pecah
berantakan bagai piring jatuh dari langit,
ia tak mau keluar juga.

Tak tahukah kau bahwa aku mencintaimu tapi putus asa
tak mampu menghentikan hujan? Tapi aku sedikit demi sedikit belajar
mencintai hari-hari kelam, bukit-bukit memancarkan uap,
udara penuh nyamuk yang bisik-bisik,
dan menghirup obat kepahitan,
sehingga jika kau tak muncul, kakakku,
menyibakkan manik-manik hujan,
dengan dahi bunga-bungamu dan mata ampunanmu,
segalanya tidak akan seperti yang dulu, tetapi akan menjadi tulus
(kautahu mereka tak akan membiarkanku mencinta
seperti kehendakku), sebab kakakku, nanti
aku sudah belajar mencintai hari-hari kelam seperti mencintai hari-hari terang,
hujan kelam, bukit-bukit putih, ketika pernah dulu
aku hanya mencintai kebahagiaanku dan kamu.

Baca juga beragam artikel yang membahas BUDAYA di Indonesia

Peta Dunia Baru

                                                                  Kepulauan
Di akhir kalimat ini, hujan akan turun,
Di tepi hujan, layar perahu.
Perlahan-lahan perahu itu tak menampak pulau-pulau;
akan lenyap ke dalam kabut
keyakinan akan persinggahan bagi seluruh bangsa.

Perang sepuluh tahun telah selesai.

Rambut Helena, awan kelabu.

Troya, lubang abu putih
di tepi laut yang gerimis.

Gerimis menegang bagai senar-senar harpa.
Seseorang dengan mata berawan memungut hujan
Dan memetik larik pertama Odyssey

Baca juga beragam pemikiran di rubrik SUDUT PANDANG

Bulan Pagi

Masih dihantui oleh peredaran bulan
yang melaju dengan layar penuh
melewati Gunung Morne Coco yang bagai lengkung punggung ikan paus,
aku megap oleh kecemerlangan cahayanya.

Ini awal Desember,
angin sepoi menyegarkan kulit bumi ini,
permukaan laut yang bagai kulit angsa,
dan kuperhatikan semburat biru
bayang-bayang Gunung Morne Coco,
jam-matahari Desember,
bahagia bahwa bumi masih berubah,
bahwa bulan purnama masih bisa membutakanku dengan dahinya
pada hari cerah ini,
dan bahwa ranting-ranting putih mulai bersemi di janggutku.

Jika kamu lelah, sila baca beragam kisah menarik di rubrik SOSOK dijamin mood dan motivasi tumbuh subur.

Disarikan dari berbagai sumber kredibel.