Puisi Apa yang Kautulis setelah Hari Ini? | Armin Bell

Cerpen Puisi Apa yang Kautulis setelah Hari Ini? karya Armin Bell

Dia khawatir akan menjadi satu-satunya orang yang nanti pulang tanpa pilihan yang jelas hari itu. Rekonsiliasi, menyembuhkan luka, munculnya lebih banyak cerita yang selama ini tenggelam –yang jadi warna paling besar dalam diskusi itu– memusingkannya. ”Saya tidak tahu ada di posisi mana, Kak,” bisiknya lirih.

SAYA tertawa kecil. Menjelaskan padanya bahwa percakapan hari itu bukan tentang memilih ada di posisi mana, rasanya belum terlalu perlu sekarang. Siapakah yang bisa berpihak pada dua hal yang sama-sama dia tidak yakini? Tetapi alisnya mengernyit sepanjang diskusi. Sesekali matanya berbinar, sekali waktu berkaca-kaca, lalu sendu, kadang menatap kosong. Katanya, terlalu banyak informasi yang dia dengar dari dua pihak (yang berbeda?) tentang peristiwa puluhan tahun silam itu. Yang satu dari pelajaran sekolah dan yang lain dari pertemuan-pertemuan yang serupa dengan festival ini –sama-sama membuatnya ingin memilih setiap kali mendengar.

Baca juga cerpen Petani dan Puing-Puing Langgar

Hujan sedang turun sederas-derasnya ketika diskusi yang dilaksanakan di Serambi Soekarno itu baru tiba di sesi tanya jawab bagian pertama. Narasumber dan peserta sama-sama sibuk berbagi. Pengalaman personal, kisah-kisah orang yang mereka dengar, dan stigma yang terus-menerus terjadi pada siapa saja yang generasi terdahulunya terlibat gerakan terus dituturkan.

"Diskusi ini sudah seperti ajang curhat, ya?" Saya menawarkan bahan lain sebab sejak tadi dia hanya mengulang-ulang cerita yang sama:

Pada peringatan Hari Lahir Pancasila yang baru lalu, dia adalah salah satu dari tim kirab yang membawa bendera kertas dengan bangga. Merah Putih kecil itu dia kibar-kibarkan ketika presiden melintas, berjalan sangat perlahan, di tengah kerumunan masyarakat Kota Ende yang riang gembira. Dia bilang dia mencintai Ende sebab Pancasila lahir di sini, lalu bertanya apakah sikapnya mencintai kota ini telah benar. Saya jawab dengan mengangguk saja sebab pada saat yang sama salah seorang narasumber melihat ke arah kami; anggukan itu untuk mereka berdua.

Baca juga cerpen Kangen Bapak karya Ema Afriyani

"Tetapi sekarang saya jadi merasa salah. Kakak dengar cerita yang tadi itu kan? Dulu, di Ende, ternyata ada pembantaian juga."

Saya baru saja akan melengos ke tempat yang lain. Alasan hendak ke toilet sudah saya siapkan, tetapi batal sebab dia mulai berbisik lagi.

"Saya harus percaya yang mana, Kak?"

"Kau belum jawab yang tadi. Menurutmu, yang sekarang ini diskusi atau curhat?"

"Memang harus beda, ya, Kak?"

Saya tidak menjawab. Tidak juga tertawa kecil seperti sebelumnya. Hujan mereda dan suara narasumber menyampaikan kata akhirnya terdengar jelas. ”Saya hanya menulis apa yang saya dengar dari kakek saya. Bahwa dalam perjalanan bangsa ini, kita pernah melalui jalan-jalan itu dan tugas berikutnya adalah melihat semua hal dengan jernih. Meluruskan sejarah? Saya tidak ingin menyebutnya demikian. Tetapi tidak semua yang kita dengar dan yakini selama ini, terutama yang ditulis pemenang itu, benar seluruhnya,” kata penulis muda itu.

Baca juga cerpen Ibu Tidak Menjual Lukisan Ayah Karya Yuditeha

Moderator kemudian menutup diskusi dengan basa-basi sebagaimana seharusnya dan menitipkan harapan agar percakapan hari itu tidak lantas ditinggalkan di Serambi Soekarno. Kupikir itu harapan yang baik sebab setelah ini kami akan bergerak ke tempat yang lain, ke Rumah Pengasingan Bung Karno, lalu ke Taman Renungan. Ada sesi lain dari kegiatan festival ini yang akan dilaksanakan di sana.

"Tidak harus selesai di sini. Banyak hal yang bisa kita bawa pulang, kita bahas dengan semakin banyak orang, menemukan lebih banyak jawaban, mengumpulkan lebih banyak lagi cerita, atau berita, atau tangisan? Hanya dengan terus mempercakapkannya kita akan lebih dekat dengan kebenaran," paparnya, lalu mengutip filsuf entah siapa di ujung akhir diskusi itu.

Rerumputan di halaman Serambi Soekarno seperti mengibas diri ketika angin bertiup lebih kencang, angin yang juga menggoyang-goyang dahan-dahan pohon mangga. Butir-butir air di daunnya terlempar kencang, pecah kecil-kecil, menerpa wajah kami yang memandang keluar. Seketika sejuk setelah percakapan sekitar dua jam yang menguras emosi, dan seketika itu pula ingatan tentang peristiwa besar yang terdiri atas kisah-kisah kecil di tiap-tiap kota menari-nari di kepala. Kuceritakan padanya yang saya tahu di kota kami.

Baca juga cerpen Guru Honorer Karya Muhammad Abdul Hadi

Di Ruteng, di tempat bernama Puni, pada suatu masa sebelum pembangunan mengubah wajahnya menjadi pasar, tempat itu punya kisahnya sendiri. Kisah yang ingin saya tuturkan juga di forum diskusi tadi, tetapi urung.

Dahulu, tahun baru belum lama datang. Baru berjalan sekitar dua bulan. Mereka yang nama-namanya ada dalam daftar gerakan dikumpulkan di sana, berbaris di depan lubang yang mereka gali sebelumnya, berlutut dengan mata ditutup kain hitam, dan kautahu bagaimana kisah seperti itu kemudian.

Tanta Tina, seorang kerabat keluarga, ada di sana sekarang. Di Pasar Inpres Puni. Menyewa satu lapak milik pemerintah, menjual apa saja yang bisa dia jual agar bisa ada di sana setiap hari. Kekasih masa remajanya yang manis, entah bagaimana, adalah anggota gerakan yang pada masa itu ikut berlutut berbaris, lalu ledakan terdengar berentet, dan yang berlutut segera tumbang ke lubang-lubang di belakangnya. Tanta Tina pernah berkisah. Dia dan semua orang yang menyaksikan peristiwa melihat dalam diam dengan mulut setengah terbuka, sampai beberapa orang menutup lubang panjang yang menganga itu. Kekasihnya ada di balik tanah. Selamanya.

Baca juga cerpen Sebotol Bir di Kedai Air Mata karya Hendy Pratama

Tetapi tulang-tulang mereka sesungguhnya telah dipindahkan. Hanya, Tanta Tina merasa kekasihnya itu masih di sana. Juga ayah dan saudaranya; orang-orang yang dia kasihi mati karena nama-nama mereka ada dalam daftar gerakan.

Pada sesi diskusi tadi, beberapa peserta menceritakan kisah yang mirip. Juga dengan informasi-informasi baru yang lain. Di kota yang lain di ujung timur pulau ini, sehamparan tanah tak pernah digarap sampai saat ini sebab di tempat itulah anggota gerakan dulu dibantai. Di tempat yang lain lagi, beberapa keluarga korban harus hidup berdampingan dengan keturunan algojo dan masih saling menyimpan dendam.

"Kak, kami punya opa dulu sebenarnya juga masuk dalam daftar gerakan itu," suaranya lebih lirih sebab beberapa orang lain mendekat, memandang halaman yang sama, menunggu hujan benar-benar berhenti.

Saya menoleh, "Maksudnya? Mereka ikut jadi korban pembantaian juga?"

Dia menggeleng. "Daftar itu hilang. Kabarnya dibakar oleh ketua mereka."

"Di mana ketua mereka itu sekarang?"

"Lari. Entah ke mana. Tidak pernah pulang sampai sekarang. Dari kampung kami tidak ada yang dibunuh sebab tidak ada satu dokumen pun yang membuktikan bahwa mereka adalah anggota organisasi."

"Kalian beruntung."

"Belum tentu."

"Bagaimana bisa?"

Dia lalu bercerita tentang keluarga mereka di kampung tetangga yang jadi korban pada peristiwa itu –para kerabat itu mendaftar pada satu waktu yang sama, tetapi melalui ketua yang berbeda.

Baca juga cerpen Mata Dibalas Mata Karya Meutia Swarna Maharani

Tak lagi ada yang sama setelah pembantaian itu. Ikatan kekerabatan merenggang, acara-acara adat yang harus mereka ikuti sebagai satu keluarga besar berlangsung begitu datar di permukaan dan begitu penuh bisik-bisik di ruang-ruang kecil.

"Mereka merasa kami menyogok seseorang sehingga tidak turut diburu. Padahal memang tidak ada alasan untuk orang-orang di kampung kami dibunuh karena tidak ada nama dalam daftar kan?"

"Malam nanti ikut ke Taman Renungan Bung Karno?"

"Kakak ikut?"

"Saya penasaran apa yang bisa saya renungkan di sana."

"Dan saya hanya ingin tahu apakah saya bisa memilih ada di pihak yang mana."

Saya tertawa kecil. Panitia mengumumkan bahwa rangkaian kegiatan kami berikutnya adalah mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno. Sudah pukul 16.30 Wita. Kami berangkat ke sana, berjalan kaki saja sebab tempat itu tak jauh dari Serambi Soekarno. Dari sana kami menuju Taman Renungan Bung Karno. Hari sudah malam. Angin berembus menggerakkan daun pohon-pohon beringin di tempat itu. Beberapa daun terbang jatuh.

"Selain soal Tanta Tina, adakah hal lain yang mungkin menghubungkan kakak dengan peristiwa yang sama?"

"Kenapa?"

Dia tertawa. Mengatakan sesuatu tentang saya yang bukan penulis, tetapi jauh-jauh datang dari Ruteng untuk ikut dalam festival para penulis itu. Ketika saya bilang bahwa saya pembaca, dia tertawa lagi. Lebih keras, lalu mengatakan hal lain yang tak jelas terdengar.

"Apa?"

"Kalau semua pembaca seperti kakak, pasti menyenangkan sekali. Tidak hanya mau percaya bacaan, tetapi perlu datang sendiri untuk terlibat langsung dalam diskusi."

Saya ceritakan padanya tentang kegiatan ini yang saya tahu dari Instagram. Dari sana saya tahu bahwa dia ikut juga, saya ingin melihatnya lagi. Kami bertemu setahun lalu di satu kegiatan yang lain. Saya menyukainya. Pernah beberapa kali bercakap-cakap via kotak pesan IG, semakin menyukainya dan ingin melihat apakah ada peluang bagiku untuk menjadikannya kekasih.

"Melihat saja?"

"Bicara?"

"Tentang?"

"Asmara?"

Dia tertawa terbahak-bahak. Menganggapku sedang bercanda. Lalu tawanya berhenti setelah kukatakan sekali lagi bahwa saya benar-benar ingin melihatnya lagi dan kalau bisa mengatakan sesuatu padanya.

"Apa?"

"Sesuatu yang ingin saya katakan sejak dulu. Tetapi sebelumnya saya mau bilang bahwa kita barangkali tidak akan ke mana-mana setelah ini."

Baca juga cerpen LOP karya Putu Wijaya

Kelap-kelip lampu disko dari panggung pertunjukan mulai menyala. Pembawa acara berteriak di pelantang, penuh semangat, menyampaikan urutan acara yang akan kami lalui bersama malam itu. Namanya ada di daftar pengisi acara. Membaca puisi dari buku kumpulan puisi terbarunya –yang membuatnya diundang ke acara ini.

"Kakekku adalah satu di antara mereka yang sekarang sering disebut algojo. Tanta Tina adalah saudari jauhnya. Kau mau tahu saya ada di pihak yang mana?"

Mulutnya menganga mendengar informasi itu.

"Kau mau jadi pacarku?" tanyaku kemudian, menuntaskan tugasku datang jauh-jauh ke tempat ini; aku jatuh cinta padanya.

Pembawa acara memanggil namanya sebelum pertanyaanku sempat dia jawab. Dia bergerak ke balik pohon beringin, lalu pergi begitu saja, hilang. (*)

Ditulis oleh ARMIN BELL. Tinggal di Ruteng, bergiat di Klub Buku Petra. Buku kumpulan cerpennya berjudul Perjalanan Mencari Ayam (Dusun Flobamora, 2018). Saat ini sedang menyiapkan kumpulan cerpen terbaru: Keluarga Oriente.

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment

© Untaian Abjad. All rights reserved. Developed by Jago Desain