Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Tahukah kalian apa yang terjadi setelah naskah proklamasi disetujui? Para tokoh yang terlibat dalam perumusan naskah proklamasi kembali ke kediaman masing-masing pada pukul 05.00 pagi.

Para pemuda selanjutnya membagi tugas untuk persiapan proklamasi. Beberapa di antara mereka mencetak naskah proklamasi dengan menggunakan fasilitas dari kantor berita Domei dan menyebarkannya (Malik, 1970).

Pada awalnya, para pemuda merencanakan pembacaan proklamasi di Lapangan Ikada (sekarang lapangan Gambir atau lapangan Monas). Namun, saat para pemuda sampai di sana, mereka mendapati lapangan itu dijaga ketat oleh tentara Jepang sehingga tidak mungkin proklamasi dibacakan di sana.

Selain itu, banyak di antara para pemuda yang tidak tahu bahwa PPKI telah menyepakati pembacaan proklamasi dilaksanakan di rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Sejumlah pemuda yang bergerak ke Lapangan Ikada mendapat informasi bahwa proklamasi akan dibacakan di rumah Sukarno sehingga mereka menuju ke sana. Beberapa prajurit Peta berjaga-jaga di sekitar kediaman Sukarno.

Suwiryo yang merupakan Walikota Jakarta memerintahkan Wilopo untuk mempersiapkan pengeras suara dan mikrofon. Kedua alat itu berhasil didapatkan dari Gunawan yang merupakan pemilik toko radio Satria di Salemba (Tempo, 1975).

Suhud mempersiapkan sebatang bambu yang ada di belakang rumah dan dibersihkan untuk tiang bendera. Karena suasana tegang, ia lupa bahwa sebenarnya di depan rumah Sukarno masih ada dua tiang bendera yang dapat digunakan (Soedjono dan Leirissa, 2010).

Para pemuda yang sudah hadir mulai tidak sabar menunggu pembacaan proklamasi dan mendesak agar Sukarno membacakannya. Namun, Sukarno menolak melakukannya tanpa kehadiran Hatta. Hatta datang sekitar lima menit sebelum pukul 10.00.

Baca juga ragam artikel SEJARAH biar engkau menjaga pesan Soekarno "Jas Merah"

Proklamasi kemerdekaan Indonesia kemudian dilangsungkan secara sederhana. Sukarno menyampaikan pidato secara singkat dan membacakan naskah proklamasi.

*

Pidato Proklamasi

Saudara-saudara sekalian! Saja telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menjaksikan satu peristiwa maha penting dalam sedjarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berdjoang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah bertus-ratus tahun!

Gelombangnja aksi kita untuk mentjapai kemerdekaan kita itu ada naiknja dan turunnja, tetapi djiwa kita tetap menudju kearah tjita-tjita. Djuga didalam djaman Djepang, usaha kita untuk mentjapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti.

Didalam djaman Djepang ini, tampaknja sadja kita menjandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnja, tetap kita menjusun tenaga kita sendiri, tetap kita pertjaja kepada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnja kita benar-benar mengambil nasib-bangsa dan nasib-tanah-air didalam tangan kita sendiri.

Hanja bangsa jang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnja. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musjawarat dengan pemuka-pemuka rakjat indonesia, dari seluruh Indonesia.

Permusjawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnja untuk menjatakan kemerdekaan kita. Saudara-saudara! Dengan ini kami njatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami:


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan
Kemerdekaan Indonesia
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama Bangsa Indonesia
Soekarno – Hatta

Demianlah saudara-saudara!
Kita Sekarang telah merdeka!
Tidak ada satu ikatan lagi jang mengikat tanah-air kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita menjusun Negara kita ! Negara Merdeka,
Negara Republik Indonesia, merdeka kekal dan abadi.
Insja Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.

Itulah teks pidato yang disampaikan oleh Presiden Soekarno dalam momentum proklamasi.

*

Baca juga ragam artikel KEBAHASAAN biar diksimu makin banyak dan kemampuan bahasamu makin jago.

Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih. Bendera itu sudah disiapkan dan dijahit sebelumnya oleh Fatmawati setelah adanya janji kemerdekaan dari Koiso (Soedjono dan Leirissa, 2010).

Pada awalnya, S.K. Trimurti yang diminta untuk mengerek bendera, namun ia menolak dan meminta Latief yang melakukannya dengan dibantu oleh Suhud (Jazimah, 2016). Pengibaran bendera itu diikuti dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Peristiwa proklamasi diabadikan dalam foto oleh Frans Mendur dan Alex Mendur yang pada saat itu berprofesi sebagai wartawan. Namun, foto-foto karya Alex dirampas dan dihancurkan oleh tentara Jepang sehingga foto-foto proklamasi yang dapat kita saksikan saat ini adalah hasil karya Frans Mendur.

Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung secara sederhana. Meskipun demikian, peristiwa ini sangat besar dampaknya bagi bangsa Indonesia.

Baca juga: Cipung

Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah sangat lama berlalu. Namun, kita sebagai generasi penerus bangsa masih dapat merasakan dampaknya.

Peristiwa proklamasi pada 17 Agustus 1945 merupakan sebuah pernyataan tegas dari bangsa Indonesia yang tidak mau lagi berada di penindasan bangsa asing.

Kita yang hidup di masa kini dapat menikmati kemerdekaan itu dan tidak harus merasakan hidup di bawah penjajahan. Oleh karenanya, kita semua patut bersyukur atas kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah oleh para pendahulu kita.

*Disarikan dari sumber-sumber liteartur yang kredibel.