Munculnya Sentimen Rasial dan Dampak Politik dari Penjajah di Negeri Koloni

Munculnya Sentimen Rasial dan Dampak Politik dari Penjajah di Negeri Koloni

Apabila kalian ditanyakan mengenai dampak yang ditimbulkan dari tindakan penjajahan, tentu akan lebih banyak uraian dampak negatif dibandingkan nilai positifnya. Jamak diketahui orang masyarakat umum bahwa penjajahan selalu meninggalkan efek negatif, menyengsarakan rakyat Pribumi dan selalu mendatangkan keuntungan bagi negara Induk.

Namun, tahukah kalian dalam kenyataan sejarah yang terjadi di Indonesia, pendudukan penjajahan bangsa asing ternyata memberikan dampak dan makna tersendiri bagi bangsa Indonesia yang dapat direfleksikan pada kehidupan saat ini.

Dengan tidak bermaksud menafikan kenyataan bahwa masa penjajahan Belanda juga turut menyengsarakan rakyat, tetapi hal tersebut memberikan dampak munculnya sentimen rasial dan dampak politik. Berikut paparan detailnya.

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Munculnya Sentimen Rasaial

Munculnya sentimen rasial pernah terjadi pada masa penjajahan kolonial Belanda. Bahkan masalah rasisme diatur melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda. Dengan sengaja Pemerintah Kolonial Belanda membeda-bedakan golongan berdasarkan ras.

Kebijakan itu semakin tegas sejak awal abad ke-19 yang mana pemerintahan Hindia-Belanda membagi penduduk menjadi tiga golongan, yakni:

  1. Golongan Eropa sebagai golongan pertama atau yang tertinggi.
  2. Golongan Timur Asing yang terdiri dari Cina, Arab, India dan negara lainnya sebagai kelas kedua.
  3. Golongan Pribumi sebagai kelas ketiga tau golongan terendah

Baca juga beragam artikel Sejarah di Indonesia

Hal tersebut tentu memunculkan perasaan sentimen rasial di kalangan pribumi. Pembagian golongan ini mendorong suatu gerakan untuk melawan kebijakan rasial tersebut. Pada 13 Juli 1919 orang-orang Indo (campuran Eropa Pribumi) atas prakarsa Karel Zaalberg membentuk Indo Europe Verbond (IEV).

IEV sendiri adalah golongan yang ingin menuntut hidup mereka dipermudah dan melawan sikap rasis dari orang-orang Belanda totok, karena orang-orang Indo pun bisa dibilang hanya separuh beruntung mereka terkadang tidak diterima di kalangan pribumi dan ditolak oleh kalangan Belanda totok.

Namun, pada kenyataannya merekalah yang bersikap rasis kepada pribumi. Mereka menganggap orang pribumi rendah yang disebut sebagai inlander. Inlander sendiri adalah ungkapan kasar dan rendahan bagi orang-orang pribumi dan disamakan dengan bodoh dan udik.

Baca juga beragam CERPEN atau PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa serta pikiranmu setelah seharian beraktivitas, bekerja, dan belajar.

Berbeda dengan orang pribumi, sekalipun golongan Cina diperlakukan secara rasialis, mereka lebih makmur dibandingkan pribumi di bawah kekuasaan kolonial.

Penyebabnya adalah sejak masa VOC hak-hak milik mereka dilindungi secara hukum Barat karena orang Cina dapat dimanfaatkan dalam posisi perekonomian seperti halnya menjadi pedagang perantara dan pengawas antara koloni dengan pribumi. Jangan sampai kita melestarikan warisan dari sentimen rasial itu.

Dampak Politik

Pada masa VOC diangkat kepemimpinan tertinggi di negara koloni yaitu, Gubernur Jenderal. Kedudukannya hampir sama dengan Presiden dan bahkan setingkat dengan raja-raja lokal di Indonesia.

Kerajaan Belanda juga memberikan kekuasaan penuh kepada Gubernur Jenderal berupa Hak Oktroi, hak istimewa di bidang politik yaitu boleh membuat perjanjian dengan raja, mengangkat dan menurunkan pimpinan setempat. Tidak jarang upaya tersebut ditempuh dengan cara politik adu domba.

Baca juga beragam artikel Sudut Pandang dari berbagai tokoh berpengaruh, akademisi, dan para pemikir atau ahli.

Memasuki abad ke-20, Belanda menerapkan kebijakan politik etis atau politik “balas budi” pada 1901 untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Perkembangan inilah yang kemudian melahirkan golongan cendekiawan.

Untuk melawan penjajah, bangsa Indonesia menyadari bahwa rakyat harus bersatu untuk perjuangan yang bersifat nasional. Inilah yang dikenal sebagai masa “Pergerakan Nasional”.

Faktor lain yang ikut memengaruhi lahirnya pergerakan nasional atau Nasionalisme ini yakni Volksraad atau lembaga perwakilan rakyat Hindia Belanda yang berdiri pada 1918, telah mempertemukan elite-elite bumi putera dari berbagai daerah dan suku bangsa.

Baca juga artikel SOSOK dan PSIKOLOGI yang akan menghadirkan banyak inspirasi dan motivasi dalam melakoni hidupmu.

Hubungan di antara mereka dalam lembaga tersebut terutama oleh adanya berbagai diskriminasi dari pihak Belanda, telah menumbuhkan perasaan senasib dan sepenanggungan di kalangan kaum bumi putera sekaligus kesadaran bahwa pada dasarnya sama.

Nasionalisme telah membentuk perjuangan-perjuangan di bawah pimpinan cendekiawan dan melahirkan organisasi-organisasi di kalangan pribumi. Tidak selalu bergantung pada senjata, pembentukan organisasi modern digunakan juga untuk perjuangan kemerdekaan dengan metode perundingan.

Adapun beberapa organisasi yang muncul pada masa pergerakan nasional yakni, tahun 1908; Boedi Oetomo, tahun 1911; Sarekat Dagang Islam dan tahun 1912; Indische Partij.

Baca juga artikel KEBAHASAAN agar dalam menulis dan berbicara makin jago.

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel.

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment