Dampak Penjajahan Jepang di Bidang Mobilisasi Perempuan dan Tenaga Kerja

Dampak Penjajahan Jepang di Bidang Mobilisasi Perempuan dan Tenaga Kerja

Pada masa penjajahan Jepang, kaum perempuan juga dimobilisasi melalui organisasi yang disebut sebagai Fujinkai. Para perempuan dalam organisasi ini diberikan kesempatan untuk bergerak dan berorganisasi, namun tetap dalam pengawasan ketat dari Jepang.

Para perempuan Fujinkai diharapkan membantu Jepang untuk memobilisasi massa, memberikan pengajaran kewanitaan, dan memberikan solusi atas persoalan sehari-hari yang terjadi di kalangan masyarakat.

Sebagai contoh, saat terjadi kelaparan, ibu-ibu Fujinkai memperkenalkan makanan alternatif berupa bubur campuran yang dinamakan ‘bubur perjuangan’, ‘bubur Asia Timur Raya’, dan sebagainya (Kurasawa, 2016).

Kosasih (2019) menyebut Fujinkai mempertemukan perempuan Indonesia dari berbagai kelas sosial sehingga jangkauan komunikasi dan pergerakan perempuan menjadi semakin luas.

Selain mendapat kesempatan untuk bergerak, banyak juga perempuan di Indonesia yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang, misalnya dalam bentuk Jugun Ianfu.

Banyak di antara para perempuan ini yang ditipu akan disekolahkan atau diberi pekerjaan. Beberapa di antara mereka bahkan diambil paksa atau diculik dari desanya dan kemudian dijadikan perempuan penghibur bagi orang Jepang.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Fenomena Jugun Ianfu juga dapat ditemukan di daerah jajahan Jepang lainnya, seperti Korea dan Tiongkok. Para perempuan Jugun Ianfu adalah korban perang.

Nasib mereka sangat menyedihkan, banyak di antara mereka yang menderita penyakit fisik dan mental. Saat perang berakhir, mereka tidak berani bersuara karena berbagai hal, mulai dari trauma hingga rasa malu.

Pada awalnya, pihak Jepang juga tidak mengakui masalah ini hingga pada bulan Desember 1991, tiga orang mantan Jugun Ianfu dari Korea bersuara dan menuntut permintaan maaf serta ganti rugi dari pemerintah Jepang (Tempo, 25 Juli 1992).

Bagaimana dengan nasib para mantan Jugun Ianfu di Indonesia? Apakah mereka juga mendapatkan ganti rugi? Kalian dapat menelusuri berbagai sumber sejarah primer atau sekunder untuk menjawabnya.

Selain Jugun Ianfu, penderitaan di masa penjajahan Jepang juga dirasakan oleh para romusha.

Secara harfiah, romusha berarti prajurit pekerja, meskipun dalam kenyataannya yang mereka jalani adalah kerja paksa. Model perekrutan romusha dilakukan secara terbuka melalui berbagai propaganda Jepang.

Beberapa orang Indonesia tertarik untuk ikut menjadi romusha karena tertipu oleh propaganda Jepang yang ingin memakmurkan Asia Timur Raya. Namun, ada juga yang menjadi romusha karena terpaksa.

Beberapa di antara mereka dipekerjakan di daerahnya sendiri, namun ada juga yang dikirim ke wilayah jajahan Jepang lainnya seperti ke Thailand dan Birma untuk proyek pembangunan rel kereta api atau proyek-proyek pembangunan lainnya.

Keadaan mereka juga sangat menyedihkan karena beban para pekerja yang berat dan kurang sandang maupun pangan. Banyak di antara romusha yang meninggal saat bekerja dan tidak pernah kembali ke kampung halamannya.

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment