Perempuan yang Membawa Kematian Karya Keira Alexandra

Cerpen Perempuan yang Membawa Kematian Karya Keira Alexandra

Alicia Karo tinggal di sebuah desa terpencil. Wajahnya memesona, tetapi sebuah tato misterius di lehernya telah lama membuat orang-orang waspada. Ketika ia masih kecil, tatonya belum memiliki kekuatan sepenuhnya. 

Seluruh anggota keluarga terkena penyakit misterius yang tidak dapat disembuhkan. Ayahnya, sosok yang bijak dan tua, akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan rahasia keluarganya yang terkutuk oleh Sang Dewi Kematian.

”Anak perempuan yang berasal dari keturunan kita akan selalu terkutuk,” kata ayah Alicia dengan suara serak.

”Orang-orang yang kamu cintai akan mati dengan cara yang misterius. Lalu, apakah kalian sakit karena kutukanku?” tanya Alicia dengan mata berair.

Ibunya pun tersenyum. ”Janganlah kau khawatir, kami akan baik-baik saja,” kata ibunya sambil memeluk Alicia.

Baca juga cerpen Terima Kasih, Paman Karya Yudhi herwibowo

Namun, kutukan itu benar-benar terwujud ketika Alicia baru berusia 10 tahun, ketika penyakit ibunya semakin parah. Ibunya berpesan kepada Alicia, ”Alicia, janganlah kamu menyalahkan dirimu jika kami meninggal nanti, karena ini adalah suatu hal yang tidak dapat kita kendalikan,” ucap ibunya.

Kemudian, anggota keluarga Alicia pun satu per satu mengalami kematian yang tragis. Setelah kejadian tragis itu, orang-orang di desa mereka mulai menyebutnya sebagai ”Perempuan yang Membawa Kematian”, dan karena itu, banyak orang yang menghindarinya.

Namun, takdir berubah ketika seorang peneliti bernama Lukas tiba di desa mereka. Lukas telah mendengar cerita supranatural tentang Alicia dan mengambil tugas untuk mencari tahu lebih dalam tentang kutukan itu dan membantu Alicia melepaskan kutukannya. Dia ingin mendekati Alicia untuk memahami kutukan yang telah menghantuinya sejak masa kecil.

Baca juga cerpen Mbah Ganyong dan Ratapan Pohon-Pohon Karya Daruz Armedian

Keduanya bertemu di pinggir hutan, tempat Alicia sering pergi untuk merenung dan melarikan diri dari pandangan curiga orang-orang desa. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin dekat, dan Alicia merasa memiliki seseorang yang bisa dia percayai dan dia andalkan untuk pertama kali dalam hidupnya.

Pada suatu hari, saat mereka duduk bersama di rumah Alicia, Lukas bertanya dengan serius, ”Apakah kamu benar-benar ingin melepaskan kutukan ini, Alicia?”

Alicia mengangguk, matanya penuh dengan harapan; ”Ya, aku ingin melepaskan kutukan ini, kutukan ini telah menghancurkan hidupku dan membawa kematian ke dalam keluargaku. Tetapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

Baca juga CERPEN dan PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa dan pikiranmu setelah seharian lelah beraktivitas, bekerja, atau berdoa.

Tiba-tiba, Lukas mengeluarkan selembar peta tua yang tampak kuno. Peta kuno tersebut menunjuk kepada suatu tempat di dalam hutan. ”Ketika aku sedang melihat-lihat rumahmu, aku menemukan ini di loteng,” ujar Lukas, menyodorkan peta tersebut kepada Alicia.

Alicia mengenali tempat yang ditunjukkan pada peta tersebut sebagai gua terpencil di dalam hutan. Dengan harapan yang tumbuh, mereka memutuskan untuk mengikuti petunjuk tersebut. Mereka berharap bahwa jawaban atas kutukan tersebut mungkin ada di sana.

Perjalanan mereka sangat melelahkan, melewati hutan yang lebat dan suram. Dalam perjalanan, Lukas berkata kepada Alicia, ”Hey, aku ingin bertanya, apakah kamu membenci dirimu karena keluarga kamu meninggal?”

Baca juga ragam artikel tentang SOSOK yang akan menginspirasi dirimu.

Alicia tersenyum dengan mata berair dan menjawabnya, ”Dulu aku sempat menyalahkan diriku, namun ibuku pernah berkata bahwa seluruh hal tragis yang aku alami merupakan suatu hal yang tidak dapat dikendalikan. Ucapan ibuku merupakan suatu hal yang berharga yang membuatku terus hidup hingga sekarang.”

Mereka pun melanjutkan perjalanan dan setelah 3 hari, akhirnya mereka tiba di depan gua. Di atas gua tersebut tertulis ”Gua Karo”. Di dalam gua yang gelap dan tampak seram mereka menemukan lukisan-lukisan seni cadas yang menceritakan tentang sejarah keluarga Alicia. Lukisan-lukisan ini menceritakan kisah yang sangat kuno, pada zaman dahulu kala, tentang Dewi Kematian yang dikenal sebagai ”Mortessa”.

Diceritakan bahwa Mortessa pernah memiliki seorang anak laki-laki bernama Bas, yang mencintai seorang manusia dengan tulus. Namun, nasib buruk menghampiri cinta mereka ketika manusia itu mengalami kecelakaan serius. Bas, yang sangat mencintai manusia tersebut, meminta tolong kepada Dewi Kehidupan.

Baca juga ragam artikel BUDAYA biar makin mencintai keberagaman yang ada di negeri kita tercinta, Indonesia.

Dewi Kehidupan setuju untuk membantu, tetapi dengan syarat: Bas harus rela menjadi manusia untuk menyelamatkan orang yang dicintainya. Bas setuju, dan mereka berhasil menyelamatkan manusia tersebut. Lalu, cinta mereka terwujud dalam pernikahan dan kelahiran seorang anak laki-laki.

Namun, kebahagiaan mereka singkat karena Bas tewas terbunuh oleh seseorang di desa. Dewi Kematian yang dikenal sebagai Mortessa marah dan menyalahkan manusia tersebut atas kematian Bas. Dengan sorotan mata yang gelap, Dewi Kematian mengutuk keturunan keluarga manusia itu. 

Mortessa berkata, ”Ini semua salahmu! Akan kukutuk keturunan keluargamu selamanya! Semua orang yang dicintai oleh anak perempuan dari keluargamu akan mati secara misterius!”

Kemudian, Alicia dan Lukas lanjut berjalan menuju ujung gua, di sana mereka menemukan sebuah batu besar dengan tulisan yang kuno. ”Apakah kamu bisa membacanya?” tanya Lukas.

”Tentu saja, ini adalah salah satu bahasa yang masih digunakan di desaku,” jawab Alicia.

Baca artikel lainnya tentang Sudut Pandang

Tulisan itu menyatakan bahwa jika Alicia ingin melepaskan kutukannya, ia harus menjalani sebuah ritual dan menyerahkan sesuatu yang sangat berharga untuk Dewi Kematian, Mortessa.

Melihat tulisan itu, Alicia dan Lukas memutuskan untuk memulai ritual tersebut. Mereka merenung dan bermeditasi selama berjam-jam untuk mencari cara yang tepat. Akhirnya, mereka berhasil merumuskan lingkaran sihir yang sesuai dengan petunjuk yang ada.

Mereka pun mulai menggambar lingkaran sihir dan setelah mereka selesai, Lukas dengan tulus berkata kepada Alicia, ”Alicia... Aku rela mengorbankan diriku kepada Dewi Kematian agar kamu bisa bebas dari kutukanmu.”

”Apa?” teriak Alicia sambil terkejut, tak percaya bahwa Lukas rela mengorbankan dirinya.

Tiba-tiba, lingkaran sihir yang mereka gambar menyala dengan cahaya kemerahan, dan Sang Dewi Kematian, Mortessa, muncul di hadapan mereka, mengenakan gaun hitam.

Baca juga beragam artikel KEBAHASASAN biar keterampilan berbahasamu makin jago.

”Dewi Mortessa!” teriak Lukas dengan penuh tekad. ”Aku rela menyerahkan diriku kepadamu agar kutukan Alicia dilepaskan!”

Alicia, terkejut oleh tindakan Lukas, berteriak, ”Tidak! Mengapa kamu rela menyerahkan dirimu begitu saja? Aku lebih memilih untuk memiliki kutukan ini selamanya daripada melihatmu mengorbankan dirimu untukku!”

Aku rela menyerahkan diriku kepadamu agar kutukan Alicia dilepaskan!

Lukas tersenyum dan menjawab Alicia, ”Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Alicia. Aku tidak tahan melihatmu menderita lagi.”

Mendengar pengakuan tulus Lukas dan melihat betapa kuatnya cinta di antara mereka berdua, Dewi Mortessa merasa terharu dan tersentuh. Ia menyadari bahwa cinta yang tulus mampu mendorong seseorang untuk mengorbankan diri mereka sendiri demi kebahagiaan dan kebebasan orang yang mereka cintai.

Dewi Mortessa pun berbicara, ”Cinta yang tulus adalah hal yang langka, dan itu adalah kekuatan yang luar biasa. Untuk cinta kalian berdua, aku akan melepaskan kutukan ini.”

Tato misterius di leher Alicia pun tiba-tiba menghilang, dan beban kutukan yang telah menghantuinya sejak masa kecilnya mereda. Dewi Mortessa pun menghilang tanpa jejak.

Setelah itu, Alicia dan Lukas kembali ke desa mereka, dan penduduk desa bersukacita karena kutukan telah dilepaskan. Keduanya akhirnya menikah dan hidup bahagia bersama, membuktikan bahwa cinta yang tulus mampu mengatasi kutukan terkuat sekalipun.

*Cerpen ini pertama kali terbit di Kompas(dot)id rubrik Cerpen edisi Kamis (9/11/23) dieditori oleh Dwi As Setianingsih

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment