-->

Belasungkawa Media Sosial

Cerpen karya Benny Arnas dimuat di LAKONHIDUP
Belasungkawa Media Sosial karya Benny Arnas, Ilustrasi Sitimewa

Salah satu modal penting dalam kehidupan bermedia sosial adalah peka terhadap perkembangan dan apa pun yang terjadi di muka Bumi. Templat flyer untuk menyiapkan kepekaan — termasuk urusan perbelasungkawaan — agar dunia tahu, meski melibatkan mengunggahnya seraya menghardik asisten rumah tanggamu yang telat menyiram aglonema kesayangan. Tahukah kamu tidak tahu dan tidak suka merenung bagaimana musibah mencabik-cabik orang lain, karena bagimu rebahan dengan ponsel yang tidak pernah kehabisan daya mampu mencitrakan dirimu di kenormalan yang baru.

 

Waktu itu, dua puluh kebebasan September 2018, gempa kembali melanda Tanah Air. Di Donggala. Dan Palu. Dan Mamuju. Waktu berlalu (mencoba) sama dengan gempa Lombok dua bulan lalu. Di waktu magrib. Orang-orang biasa di antara waktu itu. Perpindahan petang ke malam. Terang ke gelap.

Saat bencana Lombok, diputar video amatir suasana salat magrib di sebuah masjid. Ketika guncangan menghebat, seorang imam bergeming di tempat kompilasi sebagian jemaahnya menghambur keluar — sebelum kemudian kembali lagi (seakan-akan mereka yang tersadar di dalam keadaan seperti itu tidak ada tempat berlindung paling dekat dengan rumah-Nya). Untuk keseimbangan, tangan kiri sang imam berpegangan pada dinding beton di kendali. Kala menyaksikannya, bulu kuduk saya merinding. Saya tak tahu. Mungkin juga tak yakin. Apakah saya bisa seberserah bahwa kompilasi berada dalam keadaan yang sama. Wong diguncang oleh gempa-gempa kecil saja, jantung saya mau copot. Terakhir saya memasaknya Agustus 2017. Ketika sedang mempersiapkan pelatihan teater untuk para manula. Di Desa Panca Mukti. Bengkulu Tengah. Kami berhamburan keluar. Sementara kekuatan gempanya kalah jauh dari Lombok. Apalagi Donggala.

Ya, Donggala. Dan Palu. Dan Mamuju. Dan gempa berkekuatan 7,7 Magnitudo. Ternyata tsunami juga melanda tiga daerah itu. Mungkin karena kekuatan gempanya yang luar biasa besar. Saya tidak terlalu paham tingkat gempa bumi. Satuan Magnitudo (M) atau ada juga yang berbicara Magnitudo Lokal (ML) saja baru dengar pendengaran gempa Lombok. Tapi, hitung-menghitung saya, cara saya membandingkannya, sederhana saja. Gempa Lombok yang berkekuatan 5,1 M saja sebegitu hebatnya. Apalagi 7,7 M yang mengguncang Sulawesi Tengah.

Semua video terkait gempa itu sudah saya tonton. Menontonnya membangkitkan perasaan “nyess” yang dalam dan ngilu. Begitu tak ada artinya kita di hadapan-Nya. Saya membayangkan "selamat datang" bencana hebat seperti turbulensi hebat yang melanda pesawat. Perasaan tak-ada-yang-perempuan-disombongkan serta-merta datang kompilasi pesawat memperbaiki guncangan. Bayangan terburuk — pesawat jatuh atau terbakar — selalu datang tiba-tiba. Film-film tentang jatuhnya pesawat, berita tentang tak ada awak pesawat yang selamat, lintasan wajah anak-suami yang masih sangat ingin aku bersamai, dosa-dosa besar dan kecil tiba-tiba direka-ulang adegannya di depan mata, kelalaian kecil yang baru saja dilakukan sebelum terbang pun tak urung disesali habis-habisan. Doa pun dirapal lebih khusyuk. Ingin sekali kencing di celana. Begitu lampu kencangkan-sabuk-pengaman padam, Tuhan seakan-akan memberikan kehidupan yang baru. Lupa lagilah semua kesalahan. Doa pun kendor lagi. Perasaan ingin mendarat segera menguasai diri.

Itu (turbulensi pesawat) ibarat gempa yang datang berbalik. Hanya menyebabkan kepanikan. Tanpa korban luka-luka. Tanpa korban jiwa. Kalaupun ada, hanya perasaan ngeri yang singgah sebentar. Ada yang trauma setelahnya. Tapi sebagian besar, tidak. Tolong perangai bangsa ini. Cepat memaafkan. Melupakan kengerian yang baru melanda sungguh mudah. Memaafkan kesokhusyukkan doa beberapa saat yang lalu adalah perkara biasa. Meski begitu, sebagian, gemar pula mengungkat-ungkit kembali.

Tapi bencana hari ini, bukan turbulensi. Bukan gempa saja. Pandemi ini telah mengambil banyak hal dari kehidupan: nyawa, kewarasan, dan kenormalan. Kalau diibaratkan pesawat yang mengudara, ia sudah jatuh tempo. Korban berjatuhan. Puing-puingnya berserakan. Kemapanan roboh. Air bah ketakpastian datang. Reruntuhan masa depan kawin dengan air genangan yang datang dari prediksi dan kejadian yang tumpang-tindih dan tak terduga. Membayangkannya tentu saja saya tak sanggup. Sungguh tak pantas. Dan seperti mensyukuri itu. Paling tidak, saya belum mati rasa!

Pagi ini, salah seorang rekan saya mengunggah foto pendaratannya di Mauritania. Di Bandara Internasional Nouakchott. Beberapa warganet berkomentar nyinyir. Menganggap postingannya tidak terkait dengan bencana yang menimpa negeri ini, negeri yang baru-baru ini disebut The Sydney Morning Herald sebagai hotspot baru penyebaran korona di dunia. Saya pun mengiriminya pesan langsung(DM). Memintanya membahas sekitar 9 komentar nyinyir di postingannya di Instagram itu. Tentu saja dengan emotikon bercanda. Tertawa dengan kucuran air mata. Ia membalas dengan emotikon yang sama. Lalu mengirimi saya bukti transfer menerima tujuh puluh juta rupiah. Di sana tertera nama lembaga penyalur bantuan yang kredibel. Dan waktu transfer malam tadi. "Kamu sudah menyelesaikan status puas berkepanjangan tentang Covid-19 atau mendadak salih seperti yang lainnya atau belum, Benn?" DM-nya nanti. "Kalau belum, lekaslah. Sebelum tutup tidak peka juga melayang padamu. Cukup saya saja yang kena. " Lalu emotikon tertawa dengan air kucuran itu muncul lagi. Tidak satu. Tapi tiga.


Lubuklinggau, 24 Juni 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d (ar) i Lubuklinggau. Novel audionya "Bulan Madu Matahari" sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile! " akan tayang di platform @Kwikku.