-->

Mutiara Makna Dibalik Tembang Dolanan Sluku-Sluku Bathok (Asal Muasal dan Ilmu Tasawuf)

Sejenak diri harus merangkak menuju masa silam dan ruang-ruang yang hidup memenuhi gelombang kehidupan yang abadi dalam kenang pun syarat akan tuntunan untuk bekal kehidupan.

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar atau membaca sebuah kalimat Sluku-Sluku Bathok?

Apakah perasaan dan jiwa Anda dibawa oleh sebuah gelombang ingatan akan menuju masa silam ketika serambi langgar penuh dengan perbincangan, diskusi, tawa dan peleburan antara tetua dengan remaja dan anak-anak, sebelum dunia kehidupan direnggut oleh gawai? Ataukah merasa asing ketika mendengar atau membaca kalimat Sluku-Sluku Bathok?

Sluku-Sluku Bathok merupakan tembang Jawa yang sangat akrab di telinga anak-anak Jawa. Tembang tersebut biasanya dinyanyikan ketika bermain-main. Pada masanya anak kecil sangat bahagia dan senang ketika bermain sembari menyanyikan tembang ini, walaupun mungkin pada masa itu mereka hanya sedang dalam posisi senang dan bahagian namun belum mengetahui maknanya secara mendalam.

Tembang Sluku-Sluku Bathok  sebuah tembang yang digunakan oleh Wali Songo sebagai metode pun media dakwah. Asal muasa syair ini yakni gubahan dari bahasa Arab oleh seorang yang memiliki falsafah sangat tinggi dan mendalam, Sunan Kalijaga. Dalam temabng ini menyimpan makna filosofis dan religiusitas tentang kehidupan masyarakat Jawa serta ajara Islam. Penggubahan bahasa Arab ke bahasa jawa ini merupakan metode yang digunakan para Wali dalam berdakwah sebagaimana pesan Rasulullah “Khâtibun-nâsa bilughati qaumihim” yang berarti ‘berbicaralah atau berdakwahlah kepada manusia dengan bahasa kaumnya.

Secara umum makna yang tersirat di dalam tembang  Sluku-Sluku Bathok yang sering dinyanyikan oleh anak-anak saat bermain secara etimologi muat nilai didaktis-religius mengajak dan membiasakan anak-anak untuk selalu manunggal  dengan Gusti dengan cara berdzikir, berdoa dan salat. Salat dalam syair itu dituliskan atau diucapkan dengan kata Sala atau Solo. Dalam bahasa kawi Sala bermakan Pohon Salva (Vatika Sousta). Pohon ini memiliki ciri tinggi menjulang yang mengandung makna balairung, aula, paseban. 

Paseban yakni sebuah balai pertemuan atau balai yang digunakan untuk menghadap (raja dan sebagainya). Raja yang paling raja dalam hidup ini adalah Gusti Kang Mahaagung, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, Gusti Allah, Tuhan. Salva mempunyai makna simbolis, bahwa dalam hidup manusia manusia harus mencari, dan berjuang terus agar mendapatkan keteduhan, kesuburan dan payung keutamaan dari Tuhan.

Sadar tidak sadar di dalam syair itu termuat kata yang diawali dengan huruf M yang berjumlah lima. Orang Jawa dalam mengingatkan dan memberikan petuah untuk anak cucunya selalu bilang Aja Molimo. Secara simbolis lima kata yang diawali dengan huruf M itu yakni 1) Minum; menenggak miras, 2) Main; Judi, 3) Maling; Mencuri, 4) Madon; Berzina, 5) Madat; Kecanduan obat bius. 

Siapapun yang melakukan molima pasti hidupnya akan hancur dan lupa akan keindahan pun kenikmatan dari Tuhan, lupa akan ajaran, darma, pedoman, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh yang sudah dipaparkan jelas di dalam kitab-kitab. Bagi manusia yang sedang berjuang melemahkan hawa nafsu atau puasa hidup untuk manunggaling kawula gusti pasti akan mecucurkan air mata ketika melakukan hal tersebut. Penyesalan akan mengalir deras.

Dalam syair tembang dolanan tesebut mengajarkan bahwa manusia hendaklah membersihkan tubuh dan batinnya untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah dengan mengucap ela-elo (laillaha ilallah). Namun dibalik makna etimologis yang memuat nilai didaktis-religius, tersembunyi makna ergonomis-fisionomi. Di mana gerakan-gerakan dari dolanan Sluku-Sluku Bathok mengaktifkan jaringan syaraf untuk merangsan pengembangan otak kanan. 

Semakin sering gerak dolanan tersebut dilakukan maka kepekaan otak kanan anak akan semakin peka, kemampuan daya ingat pun akan semakin menguat. Para wali memang memiliki cara tersendiri dalam mendidik anak-anak, bukan hanya sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan melalui metode belajar sambil bermain, namun dibalik hal tersebut tersembunyi sebuah usaha sistematis untuk meningkatkan kecerdasan anak dengan mengaktfkan dan merangsang perkembangan ota kanan, otak kiri, otak atas yang dipadukan secara integral dengan perkembangan intuisi anak, (Agus Sunyoto).


Sumber gambar : riza

Berikut syair tembang Sluku-Sluku Bathok dan asal muasalnya serta paparan tentang maknanya.

Sluku Sluku Bathok

Sluku-sluku bathok,
Bathoké éla-élo
Si Rama menyang Solo,
Oléh-oléhé payung mutho.
Mak jenthit lolo lo bah,
Yén mati ora obah
Yén obah medéni bocah,
Yen urip goléko dhuwit


 

Uraian makna dan asal-muasa syairnya.

Sluku-sluku bathok

Kalimat ini banyak penafsirannya, ada yang mengatakan bahwa kalimat ini berasal dari bahasa Arab ‘Ghuslu-ghuslu bathnaka’ artinya mandikanlah batinmu. Membersihkan batin merupakan keutamaan sebelum membersihkan badan atau raga. Memang bukan perkara mudah untuk membersihkan batin daripada membersihkan badan atau raga. 

Jika membersihkan badan atau raga manusia bisa dengan mandi, menggosok tubuhnya agar tidak ada kotoran yang menempel. Namun berbeda dengan membersihkan batin, sebab dibutuhkan sebuah tekad untuk memilih jalan hidup sunyi untuk dalam membasuh hati agar terhindar dari noda hitam pemikiran pun perasaan negatif terhadap apapun. Pemikiran negatif inilah yang sangat sulit ditanggulangi.

Misalnya, kalau ada teman yang pincang lantas kita memanggilnya atau membulinya ‘hei pincang; itu loh si pincang’, satu pertanyaan sederhana ‘Dia memang pincang kakinya, namun apakah ketika kita membulinya karena pincang kita sadar atau tidak jika hati kita dan pikiran kita sebenarnya dalam kepincangan dan ketidak seimbangan hidup ketike mengatai pincang? Diri sadar tidak jika hal tersebut mungkin melukai hati orang tersebut?’.

Walaupun memang benar adanya kalau ia pincang. Kita harus ingat, ia pincang itu sudah menjadi beban (sebanarnya juga tidak beban kau menyukuri dan menikmati kepincangannya, namun semua orang memiliki presepsi dan pikirannya sendiri-sendiri dalam memaknai apa yang dialami dan dimiliki), jangan sampai dengan mengatakan pincang diri kita menambah bebannya, entah itu beban mental. Walaupun rekan yang pincang itu tetap tersenyum dipanggil pincang dan dibuli pincang, namun apakah pernah diri kita membayangkan tangis di dalam hatinya? Pernahkah diri kita memikirkan perasaannya di balik senyumnya itu?

Riwayat lain mengatakan dari kata ‘Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah’ artinya masuk masuklah batinmu, batinmu kepada Tuhan. Maksudnya manusia selalu berjuang membersihkan batin. Tanpa batin yang bersih hidup pun tidak akan indah.

Bathoké éla-élo

Bagaimana caranya untuk Sluku-Sluku Bathok?  Sluku-Sluku Bathok bisa dicapai dengan cara ela-elo. Ela elo berasal dari kata ‘bathnaka ila Allah’ atau ‘Batnaka laa illaha ilallahu’ artinya batinmu (melantunkan) laillaha ilallah. Artinya, dalam menjalani hidup ini diri harus senantiasa berdzikir kepada Allah. Sebab semua peristiwa yang dialami manusia yakni sebuah nikmat yang diberikan oleh Allah kepada diri. Tidak ada peristiwa yang tidak mengandung hikmah. 

Sederhana saja, manusia merasa bahwa mata yang digunakan untuk melihat keindahan alam ini yakni miliknya. Namun sejatinya apa yang ada di dalam diri kita ini milikNya. Maka dari itu diri tidak boleh meninggalkan Allah di dalam hidup ini. Setiap detik, setiap nafas, itu semua adalah nikmat dari Allah untuk diri kita, namun kadang diri kita lupa untuk mensyukurinya, bahkan ada juga yang sampai melupakanNya.

Selain itu dengan berdzikir ela elo (laa illaha ilallah) mengingat Allah, maka syaraf neuron di otak akan mengendur. Seperti yang dikatakan di atas bahwa dalam tembang ini ada makna yanfg tersembunyi yakni ergonomis-fisionomi. Selain itu dengan mengucap laa illaha ilallah atau dengan mengingatNya maka hati akan menjadi tentram dan damai, di dalam hidup ini akan melahirkan pemikiran dan lelaku yang positif.

Si Rama menyang Solo,

Berasal dari bahasa Arab Siiruu ma'aa man sholla. Ada juga yang mengartikan Si Rama menyang Solo bahwa Siram (mandi, bersuci) menyang (menuju) Solo (Salat) atau secara lengkapnya Mandilah, bersucilah, kemudian kerjakanlah salat. Maksudnya, sebelum diri kita melaksanakan salat ataupun ibadah lainnya, diri kita harus membersihkan diri dengan cara mandi, atau mensucikan diri dari hadas ataupun kotoran lahir dan batin, karena Gusti Allah itu Maha Suci. 

Apabila diri menemuiNya dala keadaan tidak bersih atau tidak suci, maka sangatlah tidak sopan. Ada juga yang menyebutkan bahwa Si Rama menyang sala berarti bapak pergi ke sala, yang diambil dari kata ‘Sharimi Yasluka’ artinya petik dan ambillah satu jalan masuk. Jalan di sini bermaksud jalan kebahagiaan dan keselamatan, melalui beragama secara benar.

Hal tersebut selaras dengan apa yang ada di dalam budaya Jawa yakni sebuah ungkapan yang termuat di dalam Serat Wedhatama pupuh Pangkur yakni Agama Ageming Aji. Agem artinya pakai, Ageman atinya pakaian. Sedangkan Aji berarti bernilai atau mulia, bisa juga berarti raja. Dua arti tersebut masih berkaitan karena raja biasanya di-aji-aji atau di hormati. Secara keseluruhan Agama Ageming Aji artinya bahwa agama adalah pakaian yang sangat berharga; agama adalah pakaian para raja; agama adalah pakaian orang mulia.

Oléh-oléhé payung mutho.

Dalam mencapai batin yang bersih dan suci, menjaga salat saja ternyata belum cukup. Dalam syair ini masih dilanjutkan lagi dengan lelakon oleh-olehe payung mutho yaitu mengucap ‘laa ilaaha illallah hayyun mauta’ yang artinya mengEsakan Allah dari hidup sampai mati. Diri harus Maksudnya diri harus senantiasa melanggengkan dzikir kepada Allah selagi masih jembar kalangane, padang rembulane atau secara mudahnya selagi diri masih hidup maka harus segera bertaubatlah sebelum datangnya maut. Payung Mutha sendiri yakni sebuah payung zaman dulu yang terbuat dari kertas semen yang sangat besar, biasanya digunakan untuk mengiringi atau memayungi keranda jenazah menuju pemakaman.

Mak jenthit lolo lobah

Maka dari itu di dalam hidup manusia harus Mak jentit lolo lo bah, atau dalam bahasa Arabnya ‘fajaddid allaila lubbah’ yaitu  perbaruilah (imanmu dengan ucapan laa illaha illallah) pada malam ini, yaitu pada tengah (malam)Nya. Jentit di sini memiliki makna gerakan sujud. Mak Jentit juga menunjukkan bahwa manusia itu sangat singkat umurnya di dalam kehidupan ini, sangat gampang putus jika Allah berkehendak. 

Manusia tidak akan pernah bisa menguasai waktu, sepertihanya apakah diri kita satu menit yang akan datang masih hidup atau tidah, satu detik yang akan datang masih hidup atau tidak, diri tidak tahu tentang hal itu. Maka dari itu tidak ada yang lain selain selalu mengingat dan mengucap lafadz Allah.

Ada juga yang mengartikan bahwa Mak jentit lolo lobah  berasal dari kata ‘mandzalik muqarabah’ yang berarti maka siapa yang dekat pada Allah. Secara implisit seperti yang disebutkan di atas bahwa diri harus selalu berjuang melebur, manunggaling kawula Gusti dan nyawiji marang Gusti.

Yén mati ora obah

Yén mati ora obah (jasad yang sudah meninggal tidak dapat bergerak) berasal dari kata ‘hayun wa mauta innalillah’. Saat kematian sudah datang, semua sudah terlambat. Kesempatan untuk berbuat baik sudah hilang, kesempatan beramal pun hilang. Banyak manusia yang sudah meninggal ingin dan memohon untuk dihidupkan kembali, namun Allah tidak mengizinkannya. Jika mayat hidup lahgi maka bentuknya akan sangat menakutkan dan mudharatnya akan lebih besar.

Yén obah medéni bocah

Yén obah medéni bocah (Kalau dia bergerak akan membuat anak-anak takut) berasal dari bahasa Arab ‘mahabbatan mahrajuhu taubah’ yang artinya kecintaan yang menuju pada taubat.

Yen urip goléko dhuwit

Yen urip goléko dhuwit berasal dari bahasa Arab ‘yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq’ artinya sesungguhnya manusia diciptakan dari air yang memancar. Maka dari itu kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini, saat diri masih diberikan nikmat hidup. Manusia ingin kaya, ingin membantu orang lain, ingin banyak beramal, ingin membahagiakan orangtua, saat inilah saatnya. Namun golek duwit disini bukan hanya perkara untuk menuruti nafsu duniawi melainkan untuk bekal beribadah. Maka jangan menyia-nyiakan kesempatan sebab kesempatan akan tidak datang dua kali. Sebelum terlambat, maka manfaatkanlah kesempatan ini. Tempat beramal hanya disini, di dunia, bukan di akhirat. Di akhirat bukan tempat beramal (bercocok tanam) namun disana adalah tempat memetik hasilnya (panen raya amal perbuatan kita).

Menurut Endraswara (1999), tembang dolanan di atas dapat ditelusuri dari segi sufisme Jawa, yaitu filsafat Jawa yang sudah terpengaruh oleh ajaran Islam sehingga berbau mistik. Larik yang berbunyi “sluku-sluku bathok” berkaitan dengan “ghlusuk-ghlusuk batnaka” yang berarti ”bersihkanlah batinmu” makna dari larik itu adalah berupa perintah agar mencegah hawa nafsu terutama yang berkaitan dengan isi perut karena perut merupakan gambaran dari mikrokosmos.