Kebudayaan dalam Enam Bagian Proposal

Kebudayaan dalam Enam Bagian Proposal
Ilustrasi Nina/Jawa Pos

Jujur, judul esai ini terpengaruh oleh judul film sineas Garin Nugroho, Cinta dalam Sepotong Roti (1991). Tetapi, secara isi, saya merujuk pada pernyataan maestro tari dari Solo, Sardono W. Kusumo.

Pada jurnal Prisma nomor 5 Mei 1977, Sardono masygul dengan kenyataan saat ia mencari peruntungan hidup ke Jakarta menjadi manusia urban. Dia seperti insaf untuk menerima bahwa menjadi manusia kebudayaan yang seutuhnya adalah mesti menjadi manusia proyek.

Seseorang yang menanamkan dalam akal budinya untuk mengerjakan suatu yang adiluhung tanpa terganggu oleh hal-hal teknis, dalam kamus manusia proyek, adalah sesuatu yang usang. 

Menjadi empu untuk menekuni habis-habisan suatu bidang kebudayaan, dalam konteks ’’manusia proyek’’ yang dilihat Sardono itu, adalah angan-angan yang absurd.

Baca juga beragam pemikiran di rubrik SUDUT PANDANG

Di daerah-daerah yang jauh dari gravitasi kebudayaan urban, menjalani laku mistis, misalnya, adalah hal biasa dan wajar. Tetapi, menjadi lain tatkala masuk ke ’’Jakarta’’. 

Manusia seperti Anand Krishna tahu betul mengemasnya menjadi komoditas. Atau, pengajian-pengajian tasawuf yang berbayar jutaan rupiah. Dulu, saya ingat betul, paket-paket siraman rohani Aa Gym sangat laku di kalangan sosialita en ambtenaar Jakarta sebelum dihunus isu poligami.

W.S. Rendra bisa sangat laku pertunjukannya saat tampil di Taman Ismail Marzuki. Atau, Butet Kartaredjasa dan Agus Noor yang betul-betul menjadikan Jakarta sebagai kota untuk ’’mempresentasikan’’ tafsir dari kebudayaan yang mereka bawa dari ’’daerah’’ seperti Jogjakarta.

Baca juga: Pertanian Masa Depan Maluku Utara

Apakah, baik Rendra maupun Butet, memang sangat pintar mengemas dan mengomunikasikan ’’suara nurani’’? Atau, orang Jakarta yang sudah kehilangan bahasa budaya dan suara-suara yang jauh di sana yang karena saking jauhnya terasa aneh dan asing.

Sardono menjawabnya karena faktor kedua: orang ibu kota kebanyakan adalah pegawai negeri. Mereka hanya bisa bergerak kalau dipicu oleh proyek. Tak ada proyek, diam. Dengan karakteristik user budaya seperti ini, seperti itu pula model kebudayaannya. Barangkali, Sardono terlalu simplistik memberi rumusan, tetapi ia tak terlalu keliru.

Kebudayaan kita akhir-akhir ini bertumbuh, ramai, gegap gempita, dan wah dalam karnaval yang tak putus-putusnya, justru kebudayaan kita berada pada tahap proposal. Komunitas-komunitas unggulan penghasil jumlah pertunjukan atau produk budaya umumnya berasal dari kelompok yang ahli dalam dunia proposal.

Baca juga: Makna Rila Lamun Ketaman, Ora Getun Lamun Kelangan

Ada perbedaan proposal kebudayaan dan kebudayaan proposal. Proposal kebudayaan menjadikan kebudayaan tetaplah sesuatu yang inti, sementara proposal adalah pelengkap belaka. 

Ada atau tak ada proposal, kebudayaan tetaplah dihidupkan, dinyalakan. Sementara, kebudayaan proposal menjadikan proposal adalah induk, narasi utama; sedangkan kebudayaan hanya pelengkap. 

Bahkan, dalam kebudayaan proposal, produk kebudayaan bisa berbentuk fantasi belaka alias hantu. Tak ada kegiatan, tapi dalam proposal ada. Kebudayaan berumah seluruhnya dalam proposal.

Baca juga: Jadi Salah Satu Ikonik Benua Afrika, Simak Sejarah hingga Karakteristik Unik Suku Himba | Elista Ita Yustika

Jika dulu proposal kebudayaan dianggap sebagai "apaan, sih", kini tidak boleh lagi dianggap remeh. Dana kebudayaan semuanya di tangan pemerintah, di rekening para ambtenaar. Untuk bisa mendapatkannya, keahlian dan kecakapan membuat proposal menjadi syarat mutlak.

Enam bab proposal bukan lagi dibikin asal jadi, tetapi mesti ditempatkan sebagai blue print kebudayaan terpenting. Tanpa kemampuan itu, jadilah penonton karnaval. Proposal itu sendiri terkadang lebih penting dari apa pun, termasuk kebudayaan itu sendiri.

Termasuk dalam paket "kebudayaan proposal" itu. Mulai dari konsepsi, pemilihan tema, penganggaran, badan hukum organisasi, pelaporan, pajak, dokumentasi, hingga kecakapan hospitality. Itu semua ada caranya, itu semua ada ilmunya, itu semua ada lokakaryanya.

Baca juga: Guru di Persimpangan Politik

Dalam praktik berkebudayaan mutakhir, memiliki kecakapan dalam kebudayaan proposal menjadi sinyal komunitas budaya bisa makmur dan sejahtera untuk periodisasi tertentu. 

Saya lupa, dalam kebudayaan proposal juga yang dilatih betul adalah sensibilitas untuk menangkap informasi lembaga pemerintah mana yang sedang membuka pintu proposal untuk dimasuki, perusahaan mana yang menunggu masuknya proposal untuk CSR.

Sebab, pintu-pintu masuk proposal itu kerap tak jelas kapan dibukanya. Dana Istimewa atau Danais Yogya, misalnya. Setengah mati kalian mencari di mana dan kapan pintu proposal dibuka untuk dimasuki publik secara bebas. 

Tak ada situs web, tak ada pengumuman di koran luring maupun daring. Danais itu adalah dana publik, tetapi menggunakan sistem tertutup feodalistis.

Baca juga: Mengakhiri Perundungan di Sekolah

Jika seperti itu kondisinya, sekali lagi, sensibilitas sebagai pekerja budaya masa kini dari kebudayaan proposal diuji kesaktiannya. Pergaulan antara pelaku budaya pun lebih seru saat membahas siapa yang harus dihubungi dan dinas mana yang sedang membuka diam-diam pintu proposal.

Jangan nyinyir. Kita sedang berada dalam jenis kebudayaan ini. Mula-mula ’’gejala Jakarta’’, tetapi saat ini, menurut saya, menjadi ’’arus utama’’ yang merayapi semua kota. Karena ’’arus utama’’, mari kita pelajari: kebudayaan proposal. 

Sialnya, tidak ada satu pun fakultas budaya di kampus-kampus beken memasukkan bagian ini dalam satu mata kuliah tersendiri yang dipelajari secara serius.

Baca juga beragam artikel BUDAYA biar makin cinta dengan budaya bangsa kita

Kembali lagi kepada Sardono W. Kusumo 46 tahun silam. Kebudayaan kita berada dalam ekosistem pegawai negeri plus pengusaha yang dipaksa undang-undang guna menyalurkan keuntungan usahanya untuk kegiatan kemasyarakatan.

Sardono menyebut dirinya yang pindah ke Jakarta dari daerah vorstenlanden macam Surakarta bersiap menjadi manusia proyek. Mustahil membicarakan kebudayaan yang berorientasi pada ’’manusia utuh’’ dalam situasi kebudayaan seperti ini. 

Sardono sadar betul dengan itu. Maka, ia persiapkan mental dan ilmu tentang kebudayaan yang ia sebut ’’gejala Jakarta’’.

Pada akhirnya, kebudayaan bukan ditentukan pada penguatan fondasi di mana kebudayaan berdiri, melainkan menyesuaikan pada budaya pegawai negeri, budaya birokrasi.

Proposal itu berasal dari sana. Tahun ini, berapa proposal budayamu tembus atau tertolak semua dari 14 proposal yang diajukan secara random, Kawan? Bersabarlah. Belajar lagi. Itu. (*)

Baca juga beragam CERPEN atau PUISI biar hidupmu makin bergairah

Ditulis oleh MUHIDIN M. DAHLAN, Pendiri @warungarsip Jogjakarta

*Artikel ini pertama kali terbit di Jawa Pos rubrik Halte edisi Minggu (31/12/2023) dan dieditori oleh Ilham Safutra

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment