Menanti Sisi Mulia Manusia | Prof. Al Makin

Manusia awalnya kosong, sama kita semua. Kebaikan atau kejahatan adalah hasil dari perjalanan hidup selanjutnya.

Dalam menanggapi berbagai perbedaan dan pilihan yang beragam antarsahabat, sebaiknya kita berbaik sangka saja. Manusia pada akhirnya akan kembali pada sifat baiknya. Perbedaan hanya sementara. 

Kita berharap baiknya saja, toh semua akan melupakan dan saling memaafkan dengan sendirinya. Manusia adalah makhluk yang baik dan akan kembali pada kebaikan yang ada dalam dirinya. 

Politik itu sementara. Pilihan dalam Pemilu juga ada akhirnya. Pemihakan pada calon dan simbol-simbol juga ada batasnya.

Baca juga beragam artikel Sudut Pandang dari berbagai tokoh berpengaruh, akademisi, dan para pemikir atau ahli

Kebaikan akan muncul pada diri kita masing-masing akhirnya. Semua adalah anak bangsa. Semua adalah manusia. Kenyataan itu lebih abadi.

Pemikir Inggris John Locke (1632-1704) menekankan pentingnya berbaik sangka dengan watak asli manusia. Katanya, manusia lahir itu putih bersih tanpa dosa. 

Manusia awalnya kosong, sama kita semua. Kebaikan atau kejahatan adalah hasil dari perjalanan hidup selanjutnya

Baca juga ragam artikel tentang SOSOK yang akan menginspirasi dirimu.

Manusia itu bisa menjadi baik atau buruk, tidak seketika dan sejak awal, tetapi dari pengalaman interaksi sosial antarsesama manusia. Dari situlah manusia belajar dan diri masing-masing terbentuk secara unik. 

Dalam mitologi Yunani, alam dewa dan alam manusia itu terhubung. Dewa masih terus intervensi manusia, tetapi manusia bisa melawannya.

Pertarungan antara dewa dan manusia sering terjadi. Manusia kadangkala lebih mulia dari para Dewa. Dewa kadangkala bermaksud tidak baik pada alam manusia. Tetapi manusia mempunyai daya untuk berjuang dan melawan. 

Para tuhan dalam versi Yunani itu menyerupai manusia. Mereka jatuh cinta, berkeluarga, dan bersaing antartuhan. 

Baca juga CERPEN dan PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa dan pikiranmu setelah seharian lelah beraktivitas, bekerja, atau belajar.

Perseus adalah anak dewa Zeus dengan ibu manusia, Danae. Kemampuannya melebihi manusia lain, sakti. Dia membunuh bahkan Medusa, perempuan berambut ular, juga dewa. 

Manusia bisa melebihi dewa atau tuhan: segi hati dan kemampuannya. Dalam cerita-cerita Yunani kuno, manusia acap kali membantu para dewa untuk mengalahkan musuh para dewa dan dewa itu sendiri. 

Hercules, misalnya, adalah anak dewa Zeus dengan perempuan manusia bernama Alcmene. Kesaktian Hercules tidak hanya melebihi manusia lain, tetapi juga mengungguli beberapa dewa. 

Ceritanya, Ibunya Hercules itu cucu Perseus. Kehebatan Hercules bisa mengalahkan banyak musuh yang bahkan bisa mengancam alam dewata.

Baca juga ragam artikel BUDAYA biar makin mencintai keberagaman yang ada di negeri kita tercinta, Indonesia.

Konon, kebaikan, ketulusan, dan kemuliaan hati Hercules yang menjadikan dirinya setara dengan para dewa. Dia bisa naik ke kahyangan, alam para dewa.

Pemikir Jerman Sigmund Freud (1859-1939) sering menggunakan pandangan-pandangannya tentang manusia dengan kembali pada mitologi Yunani. Salah satunya adalah pengalaman anak dan orangtuanya dalam mitologi Oedipus. 

Oedipus mempunyai rasa memiliki pada ibunya, karena kedekatan hubungannya dan cinta. Ia pun cemburu pada bapaknya yang lebih menguasai ibunya. 

Dalam mitologi Yunani, Oedipus tidak sengaja membunuh bapaknya. Namun Freud menjadikan suatu teori bahwa sesungguhnya anak selalu bersaing dengan bapaknya untuk rebutan ibunya, rebutan cinta dan memiliki.

Baca juga beragam artikel KEBAHASAAN biar keterampilan berbahasamu, baik lisan atau tertulis makin jago.

Kebencian anak terhadap bapak, itulah pengalaman manusia pertama tentang rasa cemburu, bersaing, dan keinginan untuk mengenyahkan yang lebih perkasa, sang bapak.

Pandangan Freud lebih cocok dengan Thomas Hobbes (1588-1679), yang memperingatkan sisi buruk watak manusia. Freud berpandangan bahwa manusia mempunyai trauma masa kecil yang kurang menyenangkan.

Ketika sudah dewasa dan mempunyai kekuatan untuk mewujudkan kekecewaan, ketidakpuasan, dan pengalaman buruk itu, manusia bisa bertindak luar biasa. Namun, sisi baik manusia juga bisa dirasakan pada narasi kuno India. 

Baca juga ragam informasi dan pemikiran tentang pendidikan di rubrik SELUK BELUK DUNIA PENDIDIKAN

Dalam Mahabarata dan Ramayana, manusia yang mumpuni mempunyai kebajikan hingga bisa naik di alam kahyangan dan bisa berbincang dengan para dewa. Manusia yang bijak, bahkan juga jelmaan dewa itu sendiri. 

Krisna, tokoh penting dalam Mahabarata, adalah jelmaan Wisnu. Begitu juga Rama, tokoh utama Ramayana. Dewa sering hadir dalam bentuk manusia. Hati-hati dengan manusia yang bijak, kuat, dan sakti, siapa tahu mereka adalah dewa.

Kita bisa saja berburuk sangka pada manusia lain. Namun harapan berbaik sangka juga terbuka. Manusia akan ingat watak asalnya, kembali pada kebaikan.

Perjanjian Lama juga menyebutkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Tuhan. Kitab Kejadian 1: 26-27 dan Kitab Yakobus 3: 90 menyebut manusia diciptakan segambar Allah. Dalam Al-Qur’an, manusia adalah wakil Tuhan di bumi, khalifah (Al-Baqarah: 30). 

Sementara, manusia mempunyai watak baik, bersih, dan mulia seperti para dewa dan tuhan. Di sisi lain, manusia juga mempunyai sisi buruk dan jahat. Freud dan Hobbes mengatakan itu.

Baca juga: Kiat Menuju Hidup Bahagia

Ditulis oleh Prof. Al Makin, Rektor UIN Sunan Kalijaga Novel terbarunya Sukma Sunarmi (NAD Publishing, 2023).

Opini ini pertama kali terbit di Kompas rubrik Opini edisi 16 Desember 2023

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment