Mengelola Musik Tradisi ala Korea | Aris Setiawan

Warisan budaya Korea Selatan tercermin dengan jelas melalui penghargaan yang mendalam terhadap musik tradisional. Kunjungan saya bulan lalu ke National Gugak Center memberikan gambaran menarik tentang pelestarian cermat terhadap warisan musik ini.

Pameran museum dari notasi kuno dan alat musik tradisional seperti haegeum, janggu, geomungo, gayageum, dan ajaeng menjadi bukti komitmen Negeri Ginseng itu untuk menjaga harta budayanya. Dalam konteks demikian, Indonesia dengan tradisi musiknya yang kuat patut untuk mencontohnya.

Baca juga: Filosofi Blangkon

Integrasi

Salah satu poin paling menarik dari pendekatan National Gugak Center terhadap musik tradisional adalah integrasi ciamik antara warisan tradisional dan teknologi modern.

Museum ini bukan hanya menjadi wadah untuk mengekspos artefak bersejarah, tetapi juga menjadi perwujudan harmoni antara masa lalu dan masa depan. 

Sebuah langkah akseleratif terlihat dari penggunaan notasi kuno dalam displai interaktif. Ketika lembaran-lembaran notasi dibuka, tidak hanya disajikan simbol-simbol lawas, tetapi tiba-tiba menyala dan menghasilkan melodi yang menggema seantero ruangan. 

Pengunjung tidak hanya melihat sejarah melalui notasi, tetapi juga mendengar dan merasakan dengan cara yang lebih menggoda.

Baca juga: Kobro Siswo dan Proses Islamisasi di Borobudur

Dengan menyatukan tradisi dengan teknologi, National Gugak Center membuktikan bahwa kekayaan budaya bisa tetap relevan dan menarik, tidak hanya membuka jendela menuju masa lalu, tetapi juga membentuk panggung baru di mana warisan musik tradisional Korea terus beresonansi dalam kehidupan kontemporer. 

Ketika saya memasuki ruang pertunjukan, beberapa panggung prosenium, terlihat jelas bagaimana mereka menghormati kesakralan bunyi. Terdapat kebijakan untuk menghindari penggunaan mikrofon atau pengeras suara. 

Keputusan ini tidak semata-mata bersifat kebetulan, melainkan merupakan upaya sadar untuk mengutamakan kesempurnaan akustik. Dan beberapa panggung pertunjukan lain sedang menjalani prosesi serupa. 

Baca juga: Kiat Menuju Hidup Bahagia

Pada era di mana teknologi audio semakin canggih, keinginan untuk mengembalikan musik ke ”yang nyata” atau ke suara asli-alami menjadi semakin relevan dan mendesak dilakukan. Suara alami memberikan pengalaman mendalam dan emosional, sulit ditandingi oleh rekayasa suara melalui perangkat elektronik.

Keunggulan akustik bukan hanya tentang menolak teknologi modern, melainkan tentang menghargai keanggunan suara asli yang ditawarkan oleh instrumen tradisional. 

Penekanan pada kesempurnaan akustik memberi pengunjung pengalaman mendengarkan lebih dekat dengan esensi musik tradisional Korea. Suara yang tidak terdistorsi oleh perangkat pengolah bunyi elektrik (sound mixer) membawa pendengar pada perjalanan jauh lebih intim, otentik, dan nyata. 

Baca juga: Makna Eling Nalika Lara Lapa dan Makna Rila Lamun Ketaman, Ora Getun Lamun Kelangan

Sebuah pengalaman yang kontras dengan pertunjukan modern, yang sering kali menggunakan efek elektronik dengan distorsi berlebihan. Pada satu sisi, National Gugak Center mengaplikasikan teknologi untuk mendukung pewarisan musik tradisi, namun di sisi lain justru menolaknya. 

Ada kesadaran penting bahwa teknologi harus diperlakukan secara arif, tidak ditembakkan sana-sini.

Maestro dan Pendidikan Musik

Komitmen terhadap pelestarian warisan budaya melibatkan lebih dari sekadar artefak sejarah. Korea memperlihatkan penghargaan mendalam terhadap maestro musik tradisional sebagai aset nasional tak ternilai. Sebutlah misalnya Chae Jo-byung, seorang maestro daegeum terkemuka. 

Pengakuan akan keunggulan musikalnya tidak semata terdengar di atas panggung seni, tetapi juga tercermin dalam kebijakan negara yang unik. Ia terbebas dari wajib militer sebagai pengakuan atas kontribusinya yang tak tergantikan.

Tren menarik muncul di institusi bergengsi seperti Universitas Nasional Seoul, kampus terbaik di Korea Selatan, di mana program musik tradisional menjadi semakin populer. 

Baca juga CERPEN dan PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa dan pikiranmu setelah seharian lelah beraktivitas, bekerja, atau belajar.

Fakultas musik di universitas ini membawa peran sentral dengan memprioritaskan kemampuan mahasiswa memainkan alat musik tradisional. Bermimpi menjadi musisi musik tradisional tidak hanya menjadi impian pribadi, melainkan juga sebuah prestasi yang mendapat penghargaan tinggi. 

Fakultas musik menciptakan lingkungan yang merangsang aspirasi, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk tampil di atas panggung dan diapresiasi oleh khalayak luas. 

Seiring dengan penghormatan terhadap maestro, pendidikan ini menjadi fondasi untuk mendorong generasi muda menggenggam tongkat estafet dalam melestarikan dan mengembangkan kekayaan musik tradisional. 

Baca juga beragam artikel Sudut Pandang dari berbagai tokoh berpengaruh, akademisi, dan para pemikir atau ahli

Melalui kombinasi ini, negara tidak hanya menjaga warisan budayanya, tetapi juga membentuk masa depan cerah untuk musik tradisional Korea.

Perlakuan Korea Selatan terhadap musik tradisional tidak hanya menciptakan dampak lokal, tetapi mencanangkan standar baru yang berpotensi memberikan inspirasi bagi negara-negara lain yang memiliki warisan musik tradisional kuat, termasuk Indonesia. 

Hal ini mengingatkan kita bahwa musik tradisional bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga tentang membentuk dan mengembangkan keberlanjutan budaya. 

Korea, melalui upayanya dalam pengelolaan dan penghargaan terhadap musik tradisional, menjadikannya lebih dari sekadar warisan bersejarah. Mereka melihat musik tradisional sebagai bagian hidup yang terus berkembang, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akarnya. 

Baca juga ragam artikel tentang SOSOK yang akan menginspirasi dirimu.

Kisah ini menjadi sumber inspirasi bagi negara-negara yang mungkin masih berjuang dalam menjaga kekayaan musik tradisional mereka, katakanlah Indonesia.

Indonesia, meskipun memiliki potensi besar, pengelolaan musik tradisional belum mencapai tingkat layak. Kekayaan musik tradisi sering kali hanya dipandang sebagai warisan kuno tanpa diintegrasikan secara baik ke dalam kehidupan generasi muda, menjadi aset yang kurang mendapat perhatian.

Idealnya, upaya untuk menjaga dan mengembangkan musik tradisional tidak hanya berhenti pada level pemerintah atau lembaga, tetapi juga mencakup partisipasi aktif dari masyarakat.

Dengan memberikan nilai lebih dan mengintegrasikan musik tradisional ke dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya Indonesia dapat mencapai dampak yang lebih mendalam, meresapi budayanya dengan lebih baik.

Baca juga ragam artikel BUDAYA biar makin mencintai keberagaman yang ada di negeri kita tercinta, Indonesia.

Sebagai catatan kritis, penting untuk dicatat bahwa keberhasilan Korea Selatan dalam melestarikan musik tradisional tidak datang tanpa tantangan. Mereka telah melibatkan masyarakat, maestro, dan lembaga-lembaga pendidikan terkait secara komprehensif.

Indonesia perlu memandang kekayaan musik tradisionalnya sebagai modal yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap identitas dan keberlanjutan budaya. Dengan langkah-langkah tepat, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengangkat musik tradisionalnya satu tingkat lebih tinggi, menginspirasi generasi mendatang, dan memberikan dampak global yang jauh lebih positif. (*)

Baca juga artikel tentang PSIKOLOGI biar jiwamu tetap aman meski sibuk bekerja atau belajar seharian.

Ditulis oleh ARIS SETIAWAN, Etnomusikolog dan pengajar ISI Solo

*Artikel ini pertama kali terbit di Jawa Pos edisi Minggu rubrik Halte (3/12/23)