Rangkuman: Penjajahan Jepang di Palembang

Rangkuman: Penjajahan Jepang di Palembang

Palembang merupakan sebuah kota yang penting bagi Jepang selama masa penjajahannya karena adanya sumber minyak dan posisinya yang strategis. Palembang yang ada di Pulau Sumatra berada di bawah penguasaan Angkatan Darat ke-25 yang berpusat di Bukittinggi.

Pada mulanya kedatangan Jepang disambut dengan gembira oleh masyarakat lokal yang menganggap mereka sebagai liberator yang membebaskan Indonesia dari dominasi kolonial Belanda.

Meskipun demikian, ada pula perlawanan lokal yang langsung ditindas oleh tentara Jepang.

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Dalam bidang pemerintahan, Jepang melakukan beberapa perubahan. Jabatan-jabatan tinggi seperti kepala karesidenan (Syucookan), walikota (shi-coo), bupati (ken-coo), hingga asisten residen (bunshu-coo) yang tadinya diisi oleh orang Belanda digantikan dengan orang Jepang.

Peranan orang pribumi hanya terbatas sampai kepada tingkatan gun-coo (wedana) saja.

Struktur pemerintahan mulai dari gun-coo, son-coo (camat), ku-coo (kepala desa), aza (kepala kampung) dan gumi (kepala RT/rukun tetangga) semuanya dijabat oleh orang-orang pribumi dengan kriteria untuk gun-coo dan son-coo harus berasal dariorang-orang elit tradisional setempat.

Baca juga beragam artikel Sejarah di Indonesia

Sementara untuk ku-coo, aza dan gumi adalah orang-orang yang dianggap memiliki kesetiaan paling tinggi terhadap pemerintahan militer Jepang.

Kepentingan utama Jepang di Palembang adalah untuk mendapatkan minyak buminya. Saat itu, produksi minyak bumi di Palembang mencapai 82% dari total produksi di Indonesia.

Baca juga beragam CERPEN dan PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa serta pikiranmu setelah seharian sibuk beraktivitas, bekerja, atau belajar.

Kebijakan ekonomi Jepang di Palembang diarahkan ke eksploitasi minyak dan mencegah upaya bumi hangus ladang-ladang minyak di Palembang. Para kuli BPP (Badan Pembantu Pemerintah) dan romusha dari dalam dan luar Sumatra dikerahkan untuk eksplotasi minyak.

Namun, kehidupan mereka sangat menyedihkan karena kekurangan makanan dan pakaian. Banyak di antara mereka yang menggunakan karung goni atau kulit kayu sebagai pakaian.

Baca juga ragam artikel KEBAHASAAN biar diksimu makin banyak dan kemampuan bahasamu makin jago.

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment