Rangkuman: Penjajahan Jepang di Enrekang

Rangkuman: Penjajahan Jepang di Enrekang

Saat Jepang berhasil menduduki Sulawesi Selatan, hanya ada sedikit perlawanan terhadap pendaratan Jepang, baik dari pihak militer Belanda maupun penduduk setempat. Bahkan, sebagian penduduk dan kaum nasionalis di Makassar memberikan penyambutan meriah kepada tentara Jepang.

Hal ini terjadi karena sebelum perang Asia Timur Raya berlangsung, Jepang sudah mendekati penduduk setempat dan kaum nasionalis di sana dan meyakinkan bahwa Jepang akan membebaskan mereka dari penjajahan Belanda.

Ketika Jepang datang ke Enrekang, masyarakat lokal di sana juga menyambut dengan baik karena adanya anggapan bahwa tentara Jepang sebagai penyelamat bagi mereka dari penjajahan Belanda.

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Pada awal kedatangannya, tentara Jepang berperilaku dan bersikap baik, misalnya dengan cara membagi-bagikan bahan makanan seperti gula pasir, susu, sabun, dan lain sebagainya. Pihak Jepang juga selalu mempropagandakan “Nippon Indonesia sama-sama”.

Dari segi pemerintahan, Jepang tidak banyak melakukan perubahan dari sistem kolonial Belanda selain mengubah namanya menjadi istilah Jepang dan mengganti pejabat Eropa dengan orang Jepang, sebagai contoh Ken Karikan (Asisten Residen), dan Bunken Karikan (kontroleur/setingkat bupati).

Pejabat-pejabat lokal yang dipakai di masa Hindia Belanda tetap menjalankan tugasnya, seperti kepala distrik yang disebut Suco.

Baca juga beragam artikel Sejarah di Indonesia

Bendera Merah Putih diizinkan berkibar bersama dengan bendera Jepang. Lagu Indonesia Raya juga boleh dinyanyikan bersama dengan lagu kebangsaan Jepang.

Dalam urusan agama, pihak Jepang tidak melakukan pembatasan. Bahkan, orang-orang Jepang yang seagama dengan penduduk lokal didatangkan, seperti Haji Umar Faisal (Islam), Pendeta Miahira (Protestan), dan Alaysius Ogihara (Katolik).

Situasi berubah pada 1943 saat Jepang mulai membangun bungker pertahanan untuk pasukan Jepang. Jepang mulai melakukan pengerahan tenaga secara paksa untuk pembangunan pertahanan, menanam kapas dan pengerjaan lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan makanan tentara Jepang.

Baca juga beragam CERPEN dan PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa serta pikiranmu setelah seharian sibuk beraktivitas, bekerja, atau belajar.

Kelaparan terjadi di mana-mana. Kebutuhan pakaian juga sangat sulit dipenuhi sehingga masyarakat lokal menutup badan dengan menggunakan kulit kayu. Banyak perempuan yang diculik dan menjadi korban pelampiasan nafsu tentara Jepang.

Tekanan semakin berat namun rakyat biasa tidak berani untuk melawan karena takut ditangkap, disiksa atau ditembak.

Penduduk lokal sangat takut kepada Tokkeitai atau polisi militer Angkatan Laut Jepang yang terkenal kejam. Tindakan Jepang ini mematikan simpati yang pernah diberikan rakyat pada mereka.

Baca juga ragam artikel KEBAHASAAN biar diksimu makin banyak dan kemampuan bahasamu makin jago.

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment