Pers dan Sastra Pembawa Kemajuan

Stigma bahwa pemikiran kaum perempuan Indonesia jauh tertinggal dari kaum pria di awal abad ke-20 bisa terpatahkan apabila kita melihat adanya penerbitan Soenting Melajoe. Surat kabar ini adalah surat kabar pertama yang diterbitkan oleh perempuan. 

Rohana Kudus adalah redakturnya sekaligus wartawati perempuan pertama. Meski tidak pernah duduk di bangku sekolah formal, namun tulisan-tulisannya mampu membangkitkan semangat pemuda dan pergerakan nasional di Indonesia.

Sebelumnya sudah ada surat kabar Poetri Hindia di Batavia pada 1908 yang didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo namun usia penerbitan ini hanya sekitar 3 tahun seiring dengan kepopuleran Soenting Melajoe.

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Tirto Adhi Soerjo merupakan orang pribumi pertama yang menggunakan surat kabar dan terbitan berkala sebagai alat pembentuk pendapat umum dan propaganda ide nasionalisme kebangsaan.

Tirto adalah seorang pribumi pertama yang memiliki kesadaran pentingnya pers untuk membela kepentingan politik dan sosial masyarakat pribumi. Ia kemudian mendirikan Organisasi Sarekat Prijaji pada 1906. Salah satu tujuannya adalah untuk memajukan rakyat pribumi dengan cara memberikan beasiswa dan pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Ketika berada di Bandung pada 1907, ia menggagas penerbitan surat kabar Medan Prijaji yang diklaimnya sebagai pers pribumi pertama di Indonesia. Melalui surat kabar ini, ia menginginkan bangsa Hindia Olanda (Indonesia sekarang) maju dan dapat melepas ketertinggalannya dari bangsa lain.

Baca juga beragam artikel Sejarah di Indonesia

Ia menggunakan bahasa Melayu rendahan dalam menyajikan berita-beritanya karena menganggap bahasa ini demokratis. Selain itu Tirto juga menerbitkan majalah Soeloeh Keadilan, Pantjaran Warta, Soeara S.S (Staatsspoorwagen), dan Soeara Pegadaian.

Banyak tulisannya mengkritik pemerintah dan menyebarluaskan tindak sewenang-wenang pejabat kolonial. Pada 1909 Tirto akhirnya dihukum dan diasingkan ke Lampung. Pada 1912 dia diasingkan kembali ke Maluku, setelah sempat dibebaskan, karena tulisannya masih selalu mengkritik pemerintahan. Ia tutup usia pada 1916 dalam usia yang masih muda, 38 tahun.

Menjelang 1920, kritik terhadap kebijakan Belanda semakin ramai diberitakan pers bumiputera. Surat kabar Oetoesan Melajoe (1911) dan Soeara Perempuan (1918) menjadi suara untuk perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia dengan semboyan kemerdekaan.

Baca juga beragam CERPEN atau PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa serta pikiranmu setelah seharian beraktivitas, bekerja, dan belajar.

Tidak hanya lewat terbitan berkala, dari ranah sastra terdapat beberapa karya yang menggugah kesadaran anti kolonialisme dan membangkitkan rasa nasionalisme Indonesia. 

Karya fenomenal yang ditulis oleh Multatuli (nama samaran Douwes Dekker) berjudul Maz Havelaar (1860) telah membuka mata dunia tentang kemelaratan rakyat pribumi di negara koloni. 

Baca juga artikel KEBAHASAAN agar dalam menulis dan berbicara makin jago.

Selain itu, terdapat novel karya bangsa pribumi karya Mas Marco Kartodikromo yang berjudul Student Hidjo terbit pada 1918. Novel ini menceritakan tentang asal muasal kelahiran intelektual pribumi yang berasal dari kalangan elite rendahan atau borjuis kecil yang berani mengontraskan kehidupan di Belanda dengan di Hindia Belanda. 

Novel pribumi lain berjudul Hikayat Kadiroen karya Semaoen dan terbit pada tahun 1919. Novel ini kental dengan sudut pandang paham internasional yang mencoba menggambarkan situasi pergerakan yang berbasis nasional maupun internasional.

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel.