Komunitas Jawi: Interkoneksi Bangsa-Bangsa Asia, sebuah Kebangkitan Bangsa Timur (Nasionalisme Asia)

Komunitas Jawi: Interkoneksi Bangsa-Bangsa Asia, sebuah Kebangkitan Bangsa Timur (Nasionalisme Asia)

Secara etimologi, nasionalisme dapat didefinisikan menjadi dua pengertian. Pertama, nasionalisme merupakan paham kebangsaan yang berdasarkan kejayaan masa lalu. Kedua, paham kebangsaan yang menolak penjajahan untuk membentuk negara yang bersatu dan berdaulat.

Dalam pengertian yang lebih modern, nasionalisme merupakan kesamaan kewarganegaraan dari semua etnis dan budaya di dalam suatu bangsa. 

Perspektif nasionalisme diperlukan sebuah bangsa untuk menampilkan identitasnya. Konsekuensi dari pergeseran definisi Nasionalisme membawa konsekuensi bahwa warga negara tidak lagi bergantung pada identitas nasional yang abstrak namun lebih kepada identitas yang lebih konkret seperti pemerintahan yang bersih, negara modern, demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (Kusuma Wardhani, 2004). 

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Kebangkitan Nasional sudah menjadi fenomena yang terjadi seluruh dunia. Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya kesadaran nasionalisme berbangsa yang kemudian menimbulkan semangat untuk mencapai harapan barunya seperti kemerdekaan lepas dari belenggu penjajahan, persamaan dan kemandirian untuk menentukan kehidupan melalui negara nasionalnya.

Dalam konteks sejarah di Asia, Kebangkitan Nasional dan nasionalisme bangsa Timur lahir karena adanya reaksi dari kolonialisme dan imperialisme pada abad ke-20.

Baca juga beragam artikel Sejarah di Indonesia

Interkoneksi Bangsa-Bangsa Asia: Komunitas Jawi

Apakah kalian pernah mendengar Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-dunia? Organisasi ini merupakan wadah berkumpul bagi pelajar-pelajar Indonesia di luar negeri. Penyelenggaraan Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) di kampus Universitas New South Wales (UNSW), Sydney, Australia, adalah cikal bakal berdirinya perhimpunan ini.

Jauh sebelum PPI terbentuk, pelajar-pelajar Indonesia dan umat Islam dari Asia Tenggara di Makkah telah terhimpun dalam perkumpulan yang disebut Komunitas Jawi. Komunitas ini memiliki kontribusi besar dalam menjadikan Makkah sebagai pusat kehidupan keagamaan Indonesia pada abad ke-19.

Hal ini disebabkan karena pada waktu itu banyak ulama yang datang untuk mempelajari agama Islam ke Makkah kemudian bertemu dengan cendekiawan yang membawa ilmu pengetahuan dan paham baru.

Baca juga beragam CERPEN atau PUISI untuk menghibur dan memotivasi jiwa serta pikiranmu setelah seharian beraktivitas, bekerja, dan belajar.

Sekembalinya ke Nusantara, pengetahuan baru tersebut kemudian disampaikan melalui lembaga pendidikan pesantren, surau, dan dayah (Iswanto, 2013). Akhir abad-19 menandai penemuan bentuk Komunitas Jawi dengan puluhan halaqah yang tersebar di penjuru Makkah.

Pembentukan komunitas ini diawali oleh para ulama Nusantara abad-17 seperti Nuruddin Al-Raniri, Abdul Rauf al-Singkili, dan Muhammad Yusuf Al-Makassari. 

Pembentukan Komunitas Jawi terus berlanjut hingga kedatangan ulama Jawi di abad 18 di antaranya yaitu Syaikh Abd Al-Shamad Al-Palimbani, Kemas Fakhr Al-Din, Syihab Al-Din, dan Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dari nama-nama tersebut, yang paling berpengaruh adalah Syaikh Abd Al-Shamad Al-Palimbani kelahiran Palembang.

Baca juga beragam artikel Sudut Pandang dari berbagai tokoh berpengaruh, akademisi, dan para pemikir atau ahli.

Kitabnya yang paling terkenal adalah kitab Fadha’il al-Jihad berisi tentang kewajiban umat muslimin untuk menjalankan perang suci melawan kaum kafir terutama kaum penjajah kolonial menurut Al-Qur’an dan Hadits.

Ulama terkemuka lainnya yakni Muhammad Nawawi Al-Bantani (lahir 1813, wafat 1897). Ia merupakan salah satu ulama yang berperan penting dalam proses transmisi sejarah Indonesia masa Islam ke masa Hindia Belanda.

Selain itu Nawawi Al-Bantani pernah menjadi “Sayyid Ulama al-Hijaz”, salah satu posisi intelektual terkemuka di Timur Tengah untuk tingkat internasional. Karya-karyanya juga memiliki pengaruh sangat besar di Nusantara. Karyanya menjadi materi utama dalam pembelajaran di pesantren.

Baca juga artikel SOSOK dan PSIKOLOGI yang akan menghadirkan banyak inspirasi dan motivasi dalam melakoni hidupmu.

Maka tidak salah jika ia diakui sebagai arsitek pesantren Nusantara. Karyanya menjadi sumber intelektual dari perkembangan diskursus Islam di Indonesia abad ke-19. Nama besar lain adalah Syeh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Ahmad Khatib memiliki hubungan yang erat dengan orang-orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji dan belajar agama Islam di Tanah Suci.Melalui murid-murid ini terjalin hubungan umat Islam di perantauan dengan umat Islam di Indonesia.

Selain mengajarkan fikih mazhab Syafi’i, Syaikh Ahmad Khatib memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk membaca tulisan-tulisan terbitan majalah al-Urwah al-Wusqa dan tafsir al-Manar karya pembaharu Muhammad Abduh dari Mesir (Noer 1980).

Baca juga artikel KEBAHASAAN agar dalam menulis dan berbicara makin jago.

Penting diketahui bahwa ketika itu dua publikasi tersebut menjadi sarana utama sosialisasi gagasan pembaharuan Islam di dunia Muslim (Abdullah, 2013).

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel.

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment