Rangkuman: Penjajahan Jepang di Jawa

Rangkuman: Penjajahan Jepang di Jawa

Pada awalnya, Jepang menunjukkan sikap baik kepada penduduk Jawa untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Di sepanjang jalan yang dilalui tentara Jepang, penduduk menyambut mereka dengan kata-kata ‘se
lamat datang’ dan ‘banzai’, sebaliknya tentara Jepang menyerukan “hidup Indonesia’.

Sambutan positif ini dapat dipahami sebagai ekspresi harapan mereka untuk lepas dari cengkeraman penjajahan Belanda. Rakyat Jawa juga meyakini ramalan Jayabaya yang menggambarkan akan datangnya jaman baru yang lebih baik.

Namun, akan ada masa peralihan yang didominasi oleh orang kerdil yang berlangsung selama hidup tanaman Jagung. Banyak orang yang mengidentifikasikan orang kerdil itu sebagai orang Jepang.

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Dalam urusan pemerintahan, Angkatan Darat ke-16 yang berpusat di Jakarta melakukan berbagai langkah untuk melakukan transformasi sistem pemerintahan. Posisi gubernur jenderal ditiadakan.

Seluruh Jawa dan Madura (kecuali Surakarta dan Yogyakarta) dibagi atas syu (karesidenan), shi (kotapraja), ken (kabupaten), gun (kawedanan), son (kecamatan), dan ku (desa/kelurahan).  Jabatan-jabatan tinggi yang tadinya diduduki oleh orang Belanda digantikan dengan orang Jepang dan orang Indonesia.

Sebagai contoh, jabatan residen yang di masa sebelumnya hanya bisa dipegang orang Eropa mulai dipegang oleh orang Indonesia, terutama dari kalangan elit lokal.  Selanjutnya, pada 1944 Jepang mulai memperkenalkan tonarigumi (rukun tetangga) di Jawa.

Baca juga beragam artikel Sejarah di Indonesia

Sikap Jepang kepada penduduk Jawa kemudian berubah. Jepang melakukan mobilisasi dan pengerahan tenaga kerja secara paksa untuk menunjang perangnya. Penduduk di Jawa juga diwajibkan untuk menyerahkan padi untuk kebutuhan pasukan Jepang.

Beras yang diambil Jepang kemudian dikirim ke wilayah timur, namun sayangnya pengiriman ini sering gagal karena serangan Sekutu. Oleh karenanya, Jepang memaksa rakyat menyerahkan padi lagi untuk mengganti kehilangan tersebut.

Akibatnya, penduduk mengalami kekurangan gizi. Penduduk didorong untuk makan bahan makanan alternatif seperti singkong, jagung, dan ubi. Kekurangan pakaian juga terjadi di mana-mana selama penjajahan Jepang di Jawa. 

Berbagai penderitaan ini yang kemudian memancing perlawanan bangsa Indonesia.

Baca juga ragam artikel KEBAHASAAN biar diksimu makin banyak dan kemampuan bahasamu makin jago.

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel
Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment