Dampak Penjajahan Jepang di Bidang Budaya dan Pendidikan

Dampak Penjajahan Jepang di Bidang Budaya dan Pendidikan

Jepang ingin menghapus pengaruh Barat di Indonesia, termasuk dalam bidang bahasa dan budaya. Sebagai gantinya, Jepang berusaha mempromosikan bahasa mereka untuk menggantikan Bahasa Belanda. Hal ini salah satunya dilakukan melalui pendidikan.

Namun, karena kurangnya guru yang tersedia dan sedikitnya orang Indonesia yang bisa berbahasa Jepang, pada akhirnya Bahasa Indonesialah yang digunakan secara luas.

Karya sastra yang berbahasa Indonesia juga berkembang di masa penjajahan Jepang. Karya-karya itu misalnya berupa cerita bersambung, cerita pendek, dan sajak yang dimuat dalam media massa yang disponsori oleh Jepang seperti majalah Djawa Baroe.

Baca juga kumpulan Materi Sejarah Kelas XI

Selain memuat karya sastra dan propaganda, majalah ini juga memuat cerita rakyat, esai, dan skenario film (Ensiklopedia Sastra Indonesia, 2016).

Dari segi pendidikan, Jepang menyederhanakan sistem persekolahan. Jika di masa penjajahan Belanda pendidikan formal sistem persekolahannya sangat rumit dan diatur berdasarkan ras, Jepang menyeragamkannya sehingga lebih egaliter.

Sistem pendidikan pada masa itu yakni Sekolah Rakyat (Kokkumin Gakko) selama 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama (Shto Chu Gakko) selama 3 tahun, dan Sekolah menengah Atas ( Koto Chu Gakko) selama 3 tahun.

Baca juga ragam artikel SEJARAH biar engkau menjaga pesan Soekarno "Jas Merah"

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel.

Sistem tersebut merupakan sistem yang diterapkan di Jepang. Bagaimana menurut kalian, apakah merasakan atau mendapati adanya kemiripan dengan jenjang pendidikan yang ada di Indonesia saat ini?

Selain ketiga sekolah tersebut, pemerintahan penjajahan Jepang sebenarnya juga menyediakan sekolah kejuruan, sekolah guru, dan beberapa pendidikan tinggi.

Namun, sekolah-sekolah tersebut menjadi kurang efektif karena suasana perang yang sedang berlangsung. Para pelajar dan mahasiswa diberikan latihan militer yang dianggap lebih penting bagi Jepang.

Suhario Parmodiwiryo (2015) yang pada saat itu sedang menjalani pendidikan kedokteran menuliskan dalam memoarnya:

“Orang Jepang menginginkan kami para mahasiswa untuk membentuk ‘kelompok kepemimpinan’ dan berlatih di depan umum dengan gaya militer, untuk memberi kesan kepada orang-orang bahwa sebagai pemimpin dalam masyarakat, kami bersedia memperluas kekuasaan mereka.

Kami tidak ingin berdebat di antara kami sendiri dan berusaha menghindarinya. Tetapi Kempetai, polisi rahasia Jepang yang paling tangguh dan paling kejam, memanggil kami dan menjelaskan bahwa mereka akan memastikan kami mematuhinya.

Mereka memiliki kekuatan. Kami tidak mungkin berurusan dengan mereka kecuali kami menekan perasaan kami dan menerima kenyataan dominasi mereka.”

Dapatkah kalian membayang-kan kesulitan yang dihadapi oleh Suhario dan kawan-kawannya sesama mahasiswa kedokteran?

Mereka yang pada awalnya hanyalah mahasiswa biasa kemudian terseret dalam pusaran perang dan dominasi Jepang yang begitu kuat sehingga tidak mampu melawan.

*Disarikan dari sumber-sumber literatur yang kredibel
Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment