Perempuan yang Menikahi Tubuhnya Sendiri

Cerpen Perempuan yang Menikahi Tubuhnya Sendiri.

Bukan saja sebab dua kasus kriminal yang membuat tubuh Asti tidak karuan, tetapi sebab mendengar Jalan Kaliurang yang sedikit banyak membuka kesumat dendam yang ia tahan beberapa bulan ini.

*

Sepagi itu, di depan etalase berkaca lindap, Asti sedikit berjinjit untuk mengelap sekali lagi dua manekin terakhir dengan sapu tangan yang baru dibelinya beberapa hari lalu. Matanya awas menelisik setiap sudut, setiap lekuk. Takut-takut ada debu menyisa sehingga nanti mengotori baju-baju bordir yang akan dipajangnya.

Sudah lima hari Asti membuka toko busana dekat kampus ISI Yogyakarta. Sebelum pertigaan pertama dan bersisian dengan warung makan milik Haji Badrun, lelaki tambun yang terkenal dengan kumis tebalnya.

Rabu pagi cerah, begitu gumam Asti. Jalan tampak sedikit lengang. Mungkin ini sebab kegiatan kampus sudah libur dua minggu lalu. Tetapi memang aktivitas warga masih terbilang ramai. Dulu, setelah lepas sekolah menengah ia berandai ingin berkuliah di sini. Seperti Mira, teman sebangkunya dulu. Mereka sama-sama berniat mempelajari lebih dalam ilmu tata busana, tetapi kadang-kadang hidup tak selalu berpihak. Selepas sekolah menengah, hanya Mira yang berkuliah di kampus tidak terlalu terkenal dekat balai kota. Dan Asti, mengikuti kemauan orang tua untuk menikah muda. Meski lagi-lagi, hidup kadang tak sesuai yang diharapkan.

Baca juga: Puisi Apa yang Kautulis setelah Hari Ini? karya Armin Bell

Sekarang ia jadi ingat Mira, satu-satunya kawan paling menyenangkan di masa sekolah menengahnya itu. Terakhir kali mereka berjumpa dua tahun lalu, tidak sengaja bertemu di pengadilan agama. Pertemuan tersebut cukup mengejutkan bagi mereka berdua. Setelah saling bertukar kangen akhirnya mereka tahu bahwa Mira sekarang sedang magang di kantor pengadilan agama tersebut dan lebih kebetulannya lagi kasus gugatan cerai Asti yang akan menjadi kasus pertama Mira untuk segera ditangani.

Antara haru bercampur sedih, keduanya terus meracau dan sesekali berpelukan untuk saling menukar energi positif. Setelah kejadian tersebut mereka tak pernah bertukar kabar lagi, apalagi bertemu untuk sekadar meluapkan kangen. Tetapi baru-baru ini Asti mendengar cerita dari teman-teman lain bahwa Mira, teman sekelasnya itu, sedang meneliti gejala sosial. Setelah itu, tidak ada kabar lagi mengenai Mira.

***

Tiba-tiba Asti dikejutkan dengan kehadiran Haji Badrun, dengan senyum menyeringai sambil menenteng plastik hitam. Sungguh, bagi Asti, pakaian Haji Badrun tampak terlalu necis, seperti pakaian anak muda kebanyakan. Kaus Apollo polos, dengan celana pendek yang memiliki kesan rapi dan elegan. Mungkin jam tangan dan gaya rambutnya saja yang kelihatan ”dipaksakan” dan selebihnya, batin Asti, ”lumayan juga selera berpakaian bapak tambun ini” setelah sejenak diam, Haji Badrun melempar pembicaraan.

Baca juga: Petani dan Puing-Puing Langgar

"Mbak Asti ya, rajin sekali. Masih pagi sudah beres-beres," tanpa merasa risi, Haji Badrun yang lebih cocok jadi bapak itu seperti tebar pesona dan mengambil kursi plastik depan toko.

Sedangkan Asti, tersungut-sungut sendiri sambil berusaha mengalihkan perhatian. Ia berusaha sibuk dengan menghitung baju-baju bordir.

"Iya, Pak. Mumpung masih pagi," begitu ucap Asti setengah malas.

Beberapa saat senyap antara mereka. Baik Asti maupun Haji Badrun seperti ingin menyiapkan kata paling pas untuk kepentingan masing-masing. Asti sendiri sibuk mengira-ngira, keperluan apa sekiranya yang dipikirkan Haji Badrun kepadanya. Karena menurut pemilik kontrakan yang sekarang dijadikannya toko, Haji Badrun tidak pernah berani dengan bininya. Tidak mungkin main ”serong belakang” karena mengetahui bahwa Asti janda muda. Setelah beberapa detik, akhirnya Haji Badrun berdiri lalu memberikan plastik hitam yang sedari tadi dipegangnya dengan erat.

Baca juga: Menyusu Ibu Karya Dian Supangat 

"Tolong ya, Mbak Asti. Bungkusan ini kasihkan ke Sinta. Dua hari ini sepertinya dia sering main ke sini, ya? Lalu sampaikan salam dari saya," dengan tanpa beban Haji Badrun mengatakan itu, setengah tersenyum.

Sambil setengah gugup dan terkejut, Asti mengangguk lalu menerima plastik hitam titipan Haji Badrun dengan pikiran kalang-kabut. Pertama, prediksi Asti mengenai Haji Badrun meleset jauh. Tadinya Asti mengira Haji Badrun akan memberikan plastik hitam itu kepadanya, untuk awal perkenalan agar ada kesan tertentu, misalnya. Tetapi prediksi tersebut salah. Kedua, plastik hitam tersebut ditujukan kepada Sinta, anak kecil tetangga kompleks umur sebelas tahun. Seketika Asti jengkel, apakah janda sepertinya sudah tidak menarik perhatian lagi dan kalah saing dari anak kecil? Tetapi ia singkirkan pikiran itu. Rasa penasarannya entah dari mana timbul, apa sebetulnya yang diinginkan Haji Badrun ini.

***

Tiga hari berlalu setelah kejadian janggal tersebut. Toko busana Asti mulai ada pengunjung satu dua. Ia tampak senang, meski kebanyakan pengunjung datang hanya untuk bertanya tanpa membeli barang satu pun.

Baca juga: Cerpen Guru Honorer Karya Muhammad Abdul Hadi

Toko busana Asti lumayan lengkap memang. Selain baju-baju bordir buatan teman-teman disabilitas yang ia kelola, ada juga baju-baju dengan model terkini yang banyak dipakai berbagai kalangan. Untuk fasilitas sendiri, ia hanya menyediakan dua kipas angin besar yang melekat di atap plafon serta satu televisi layar tipis. Khusus pemasangan televisi tersebut, ia disarankan kakak sepupunya karena tahu tabiat Asti yang cepat bosan dan merasa bodoh amat dengan kabar-kabar dunia luar. Sebetulnya Asti tidak mau, sebab merasa tidak butuh dan demi menghemat kantong keuangannya. Tetapi setelah didesak agar tau mode fashion terkini, akhirnya ia mengalah juga.

Menjelang siang itu, Asti merasa bosan menunggui pengunjung datang. Ia terpikirkan untuk menghidupkan saja televisi agar tidak sia-sia dibelinya. Setelah dua menit iklan, saluran yang ditonton Asti menampilkan Breaking Newstentang kasus-kasus sosial yang baru-baru ini menggemparkan. Menurut presenter tersebut, ada dua kasus besar yang saling berkaitan, yaitu terjadi penemuan mayat seorang perempuan berinisial MS (26) yang sudah dimutilasi dan disebar di berbagai tempat menggunakan kantong plastik hitam. Dugaan sementara pihak terkait, mayat tersebut dimutilasi tiga hari lalu dengan penyebab kecemburuan sosial.

Baca juga: Lelaki yang Menderita Bila Dipuji Karya Ahmad Tohari

Kasus sosial kedua tidak kalah mengejutkan. Ditemukannya sekelompok orang yang memburu anak-anak sekitar 13 tahun ke bawah untuk aktivitas seksual. Dua orang berinisial AP (37) dan AH (27) ditangkap pukul tiga malam, di rumah AH sekitar Jalan Kaliurang KM 14. Seketika jantung Asti berdegup kencang dan perutnya terasa mual. Ia memilih untuk mematikan saluran televisi yang dari tadi ditonton.

Bukan saja sebab dua kasus mengerikan itu yang membuat tubuhnya tidak karuan, tetapi sebab mendengar Jalan Kaliurang yang sedikit banyak membuka kesumat dendam yang ia tahan beberapa bulan ini. Tiba-tiba ia ingat rumah mungilnya, juga mantan suami sialan yang menyebabkan hidupnya hancur meski akhirnya ia kembali pulih.

Asti kemudian melirik ponsel, ternyata sudah jam setengah satu siang. Sudah saatnya istirahat dan makan siang, begitu gumam Asti. Sebelum ia hendak memesan layanan antar makanan di salah satu aplikasi online, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kaca toko. Ia melihat Sinta, anak kecil umur sebelas tahun tetangga kompleks. Mata Asti bekerjap-kerjap. Ia cukup senang dengan kehadiran Sinta karena bagaimanapun, Sinta mampu menyingkirkan kebosanan dengan pertanyaan-pertanyaan polosnya.

Baca juga: Kangen Bapak karya Ema Afriyani

Tetapi siang itu terasa berbeda. Sangat ganjil. Pandangan mata Sinta yang kosong dan gugup, langkah kakinya yang sedikit melebar, juga tubuhnya yang tampak lesu membuat Asti panik. Buru-buru Asti memeluk bocah sebelas tahun itu dengan cepat. Ada sisa isak di wajahnya dan Asti terus mengelus punggungnya. Asti merasakan betis Sinta gemetar lagi lalu refleks mata Asti melirik ke bawah. Astaga! Asti begitu kaget, ternyata ada darah mengalir sedikit. Jantung Asti berdegup lebih kencang. Pelukannya melemas dan ia ikut gemetar.

***

Sudah hampir seminggu kejadian itu mengendap di kepala Asti. Dan sejak itu juga ia memikirkan banyak hal. Kepalanya kadang-kadang berdengung. Kewajiban menjaga toko busana dibebankan kepada teman kampusnya dulu yang kebetulan sedang mencari penghasilan tambahan setelah libur kantor.

Baca juga: Ayah Menitipkan Pisau di Rahim Ibu karya Jimat Kalimasadha

Sore itu, ia kembali ingat Mira, sahabatnya dulu. Biasanya, ketika Asti sedang banyak pikiran begini akan selalu main ke rumah Mira dan memeluknya erat sambil merengek tak jelas. Atau biasanya ia akan menelepon berjam-jam mencurahkan perasaan semrawut tersebut. Tiba-tiba ia tergerak untuk menghubungi Mira.

Satu. Dua. Tiga. Tidak terjawab.

Asti gelisah. Ia keluar rumah. Firasat buruk tiba-tiba menghantui kepalanya. Karena tidak biasanya sahabat Asti mulai dari sekolah menengah itu mengabaikan panggilannya. Apalagi ini sudah kali ketiga ia memanggil. Beberapa menit setelahnya ponselnya berdering. Asti bahagia bukan main, karena ia mengira yang memanggil tersebut adalah Mira, sahabatnya. Setelah ponselnya diambil, ternyata yang berada di layar adalah Ila. Sahabat semasa kuliah yang menjaga tokonya.

Baca juga: Belasungkawa Media Sosial

"Mbak Asti, apakah sudah mendengar kabar mengenai Haji Badrun?" ucapnya dengan gugup.

"Kenapa dengan Haji Badrun?" sergah Asti datar.

"Sekitar jam setengah tiga tadi ia ditangkap polisi. Suasana di sekitar toko busana riuh sekali dari tadi. Ia ditangkap atas tuduhan jadi dalang pembunuhan Mira Sukmawati, berita yang viral kemarin. Dan juga, ditetapkan sebagai tersangka salah satu pemburu anak dengan puluhan korban atas pengakuan tersangka lain, Andreas Hutasuhut," Ungkap Ila, dengan perasaan marah.

Tiba-tiba tenggorokan Asti tercekat. Andreas Hutasuhut? Mas Andreas? Mantan suami sialan itu? Tubuhnya bergetar kuat. Dan Mira? Astaga. Sahabat tercintanya itu? Mata Asti kemudian memerah. Ponsel yang dipegangnya jatuh. Ia terduduk sambil terisak. Dan Haji Badrun, berarti Sinta? Ia semakin lunglai. Matanya berkunang-kunang, lalu pingsan.

Baca juga: Amanat Bapak

Hari sudah gelap ketika ia terjaga. Lampu depan rumahnya belum dihidupkan. Tetapi mungkin rumah dalam hatinya akan tetap meredup.

Ia lalu bergumam, "aku tidak percaya lagi. Tidak akan. Aku akan menikah dengan tubuhku sendiri."

M Rifdal Ais Annafis, Pengarsip dan bakul buku di TBM Kutub Yogyakarta. Memenangi beberapa sayembara penulisan seperti Payakumbuh Poetry Festival 2021. Buku sajaknya yang telah terbit, Artefak Kota-kota di Kepala(2021).

Mahdi Abdullah, lahir di Banda Aceh, 26 Juni 1960. Lulusan STSRI "ASRI" Yogyakarta Program mahasiswa pendengar, tahun 1980-1983 ini sekarang tinggal di Yogyakarta. Sejak tahun 1982 sampai sekarang aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama seniman lain.

Cerpen ini pertama kali terbit di Kompas Digital pada 10 September 2023

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment