Asal Mula Istilah Kurikulum

Awal pengertian kurikulum berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “curir” yang artinya pelari dan “curere” yang berarti tempat berlari.

Kurikulum (curriculum) memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh para pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dewasa ini. Penafsiran tentang kurikulum beragam, sesuai dengan titik berat inti dari pandangan para pakar bersangkutan. 

Awal pengertian kurikulum berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “curir” yang artinya pelari dan “curere” yang berarti tempat berlari. Istilah ini mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish, (Anindia, 2013). 

Arti kurikulum sebagai jarak yang harus di tempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish kemudian digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu kewajiban seorang siswa harus mampu menyelesaikan sejumlah mata pelajaran mulai ia menjadi seorang sampai akhir studinya. 

Abdullah (1999:3) mengemukakan bahwa istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni curriculum awalnya mempunyai pengertian a running course, dan dalam bahasa Prancis yakni courier berarti to run yang berarti berlari. 

Menurut Oemar (2007:16)  istilah kurikulum memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh para pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar bersangkutan. 

Webster dalam  Oemar (2002:33) mendefinisikan  kurikulum sebagai “acourse, especially a specified fixed course of study, as in a school or college, as one leading to a degree”.

Pada definisi ini bermakna bahwa kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran di sekolah atau di akademik atau college yang harus di tempuh oleh siswa untuk mencapai suatu degree (tingkat) atau ijazah. 

Jadi dari beberapa penafsiran dari istilah kurikulum di atas dapat di simpulkan bahwa kurikulum adalah suatu proses waktu pendidikan yang harus di tempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan memperoleh ijazah dapat dinyatakan bahwa siswa tersebut telah mencapai tujuan dari suatu pendidikan, (Oemar, 2002:33).

Menurut Kurnia (2012)  kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak didik. Dalam pengertian lain, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Pengertian ini menggarisbawahi adanya empat komponen pokok dalam kurikulum, yaitu tujuan, isi atau bahan, organisasi dan strategi. 

Selanjutnya Oemar (2007:18) menjelaskan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. 

Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan nasional.

Hasan Langgulung (dalam Aji, 2013) menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.

Pengertian ini menggambarkan segala bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi pengembangan peserta didik, dan bukan hanya terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja.

Pengertian lain yang senada dengan Hasan Langgulung adalah apa yang disampaikan oleh J. Galen Saylor, William M. Alexander, serta Artur J. Lewis, dalam “Curriculum Planning for Better Teaching and Learning” menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut: “The curriculum is the sum total of school’s effort to influence learning, weither in the classroom, on the playgroup, or out school.”

Pada dasarnya, dari segala uraian di atas dapat disarikan bahwa segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak dalam belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah, dapat dikategorikan sebagai kurikulum.

Dengan demikian, kurikulum meliputi segala pengalaman yang disajikan oleh sekolah agar anak mencapai tujuan yang diinginkan. Hal demikian dikarenakan suatu tujuan tidak akan tercapai dengan suatu pengalaman saja, akan tetapi melalui berbagai pengalaman dalam bermacam-macam situasi, di dalam maupun di luar sekolah.

Referensi:
  • Aji W. 2013. Apa itu Kurikulum
  • Anindia. 2013. Pengertian Kurikulum
  • Kurnia. 2012. Pengertian, Fungsi, Dimensi, dan Peranan Kurikulum
  • Oemar, Hamalik. 2007. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdyakara
  • Oemar, Oemar. 2002. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdyakara


Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment

© Untaian Abjad. All rights reserved. Developed by Jago Desain