Hakikat Bahasa: Bahasa Sebagai Perekam Gagasan

Hakikat Bahasa. Bahasa Sebagai Perekam Gagasan. Hakikat bahasa menurut para ahli. Pentingnya bahasa bagi manusia dan kehidupan

Hadirnya bahasa merupakan suatu hal yang amat penting bagi kehidupan umat manusia. Hampir seluruh bidang kehidupan memerlukan bahasa. Adanya bahasa, menjadikan manusia yang hidup saat ini, pada abad 21 ini, mengetahui apa yang terjadi dan dihasilkan manusia ribuan tahun lalu.

Bahasa dapat berfungsi untuk merekam budaya dan berbagai temuan ilmiah sebelumnya, sehingga kebudayaan, ilmu dan teknologi, serta peradaban terus dapat dikembangkan makin maju.

Kita yang hidup saat ini, abad 21, masih bisa membaca dan menikmati beragam karya sastra dan ragam tulisan lainnya. Seperti karya-karya masa Melayu klasik. Karya-karya tersebut, misalnya Si Miskin, Hikayat Malim Dewa, atau puisi-puisi lama seperti pantun, syair, gurindam, dan lain sebagainya. Karya-karya tersebut tidak pernah dikenal siapa penulisnya. Anonim.

Selain itu, kita juga masih bisa menikmati beragam karya sastra Jawa masa lalu, seperti Kakawin Negara Kertagama karya Empu Prapanca, Kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa, Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular, dan karya-karya lainnya yang dikenal penulisnya. Namun, banyak juga karya sastra Jawa yang tidak dikenal penulisnya, seperti Babad Tanah Jawi, Uttarakanda, Adiparwa, Kakawin Ramayana, Kakawin Mahabarata, dan lainnya termasuk berbagai macam Tembang Macapat, Tembang Tengahan, dan Tembang Gedhe.

Bahkan, karena saking hebatnya bahasa, saat ini kita juga masih bisa menikmati beragam karya sastra pada zaman Yunani Klasik yang pada umumnya berupa drama yang telah ditulis beberapa abad sebelum Masehi. Misalnya, karya yang berjudul Oedipus The King, Oedipus at Colonus, dan Antigone (karya Sophocles), Illias, Oddyssey atau Odysseus, Ulysse, (Homerus), Oresteia dan Agamemon (Aeschylus), Medeia dan Phaidra (Euripedes), dan lainnya.

Demikian juga berbagai karya sastra di Benua Eropa sesudahnya, seperti Komedi Surgawi (Dante Alighieri). Selain itu juga berbagai karya William Shakespeare yang masih amat terkenal hingga kini, seperti Hamlet, Romeo dan Juliet, King Lear, dan lain sebagainya.

Mengapa semua itu masih dapat kita baca dan nikmati?

Salah satu jawabannya yang pasti adalah karena berbagai karya tersebut ditulis dalam bahasa. Atau bahasa yang dituliskan. Di dunia ini ada banyak sekali bahasa. Berbagai karya yang ditulis dalam berbagai bahasa itu dapat dikenal pembaca yang berbeda bahasanya antara lain karena adanya jasa penerjemah.

Namun, pada intinya, kita masih dapat menikmati itu semua karena adanya bahasa yang berhasil mengemban fungsinya, yaitu sebagai perekam gagasan, ide, pikiran, dan perasaan. Berbagai gagasan dan perasaan orang pada masa itu dapat direkam dan diabadikan lewat bahasa tulis.

Selain beragam karya sastra tersebut, berbagai karya masa lalu yang masih bisa dinikmati oleh manusia modern dewasa ini yakni ragam karya lain yang secara umum dapat disebut dengan karya nonsastra, seperti karya ilmiah. Berbagai karya ilmiah yang mampu mengubah secara revolusioner, seperti berbagai penemuan mesin di Eropa sehingga memunculkan masa Revolusi Industri, juga berbagai pemikiran modern yang hingga kini masih terasa gaungannya seperti Rene Descartes, Jean Jaques Rousseau, Napoleon Bonaparte, Stamford Raffles, dan lain-lain sampai dengan Albert Einstein.

Namun, jangan juga sampai dilupakan, ragam sastra dan non-sastra yang ditulis para pengarang masa kini, sehingga hasil karyanya dapat kita baca, pahami, hayati, dan nikmati. Pengarang di jagad kasusastraan dunia, pengarang yang mampu mengguncang dunia dewasa ini, misalnya, J.K. Rowling lewat seria Harry Potter  dan Dan Brown lewat novel The Dea Vinco Code, Angles & Demon, The Lost Symbols, dan lain sebagainya.

Pengarang Indonesia ada banyak juga, tetapi nama-nama ini sebaiknya diingat, yakni Ayu Utami, Fira Basuki, Dewi Lestari, dan yang telah hadir pada masa sebelumnya seperti NH. Dini serta pengarang-pengarang perempuan kenamaan lainnya. Pengarang laki-laki Indonesia, antara lain Putu Wijaya, Taufik Ismail, Umar Kayam, WS. Rendra, Y.B. Mangunwijaya, dan lain-lainnya.

Sekali lagi, mengapa kita dapat “berbagai dialog” dengan mereka? Padahal, pada umumnya pembaca tidak mengenal secara langsung para pengarang itu?

Salah satu jawabannya adalah karena mereka “dapat mencipta dunia” lewat kata-kata. Lewat kata-kata itu pula kita sebagai pembaca dapat memahami, menghayati, dan menikmati karya-karyanya. Pada intinya, semua terjadi karena bahasa. Bahasa yang dituliskan. Bahasa yang dipakai untuk merekam perjalanan hati, pikiran, perasaan, dan pandangannya tentang dunia. Mereka berhasil “bermain” dengan bahasa. Bahasa dipergunakan untuk “mengabadikan dunia ciptaannya” pasti tidak main-main.

Namun, juga harus dicatat, bahwa bahasa dapat merekam dan mengabadikan ide, pikiran, perasaan, dan gagasan karena bahasa itu dituliskan. Artinya, bukan bahasa lisan yang sekali ucap akan hilang selamanya. Itu untuk ukuran masa lalu yang belum mempunyai teknologi perekam suara dan aksi seperti saat ini. Jadi, selain dibutuhkan bahasa, juga perlu adanya tulisan yang dipakai untuk menuliskan. Bahasa tulis inilah yang mampu melewati batas waktu dan tempat, bahkan bisa dikatakan “abadi”, dalam pengertian masih eksis sepanjang masih ada sejarah manusia.

*Disarikan dari berbagai sumber dan buku, khususnya Stilistika karya Pak Burhan Nurgiyantoro.

Ruang Literasi dan Edukasi

Post a Comment