-->

Selayang Pandang untuk Rindu karya Maftukhin (Part II)

Hujan

Bukan sekadar gerombolan air yang datang
Ketika awan tak mampu menopang
Jatuhlah kepada debu yang beterbangan
Menjadikannya berat untuk berilalang
Dengan hembusan rasa yang khas terkenang
Hanya seperti terulang 
aroma kerinduan yang berlubang

Itu hanya hujan
Bukan kebahagiaan
Bukan juga kehangatan
Tapi hanya kenangan yang ingin menantang
Dengan pikiran yang beragam
Dan pertanyaan yang berkumandang
Apakah hujan akan pulang?

Itu hanya hujan
Bukan kesedihan
Bukan juga tangisan
Tapi hanya sapaan anugerah Tuhan
Yang selalu mengnigatkan
Hujan pun akan pulang.

(25/09/2017)

Jati diri

Apalah guna balutan pakaian
Jika diri tak berpandang
Apalah guna berseragam
Jika tak mampu termaknakan
Kebanggaan bukan sekedar apa yang dilihat
Bukan apa yang terpampang
Bukan apa yang dipakai

Kebanggaan hadir untuk hasil dari perbuatan
Balutan penutup tubuh hanya simbol
Simbol balutan kelompok
Bukan untuk dipertontonkan dan disombongkan

Balutan batin dengan akhlak
Lebih terpandang, jika diketahui!
Balutan batin dengan tanggung jawab
Lebih diutamakan, jika dirasa!
Semua hanya membutuhkan kesadaran.

(25/11/2017)

Putri Malu

Putri...
Sebuah nama dengan berbagai makna
Putri sebagai raja
Putri sebagai perempuan
Putri sebagai sebutan
Putri sebagai sikap

Putri malu...
Putri yang memiliki sifat
Malu yang bermakna ambigu
Malu sebagai atau untuk

Jika dipandang sebagai
Jadilah putri malu sebagai pohon 
Pohon dengan duri-duri kecil 
Menghiasi lekuk-lekuk tubuhnya
Dengan bunga di pucuknya

Putri malu...
Jika dipandang untuk
Jadilah putri malu untuk dipertontonkan
Diibaratkan putri raja yang berwibawa
Memiliki bunga yang indah tapi tak berbau
Memiliki duri tapi seorang putri
Tak lantas di dunia ini melebih lebihkan
Dan merendah-rendahkan..

(17/02/2018)

Ego Berjiwa

Yang terlalu salah
Dan tersalahkan
Berbisik lirih membela diam
Getar timbul dalam raga
Menahan dan tertahan

Kapan?
Jiwa menjadi durjana
Membabi buta
Tak peduli sesama
Tak tertahan untuk bercerita

Kapan?
Baik sirna menjadi dusta
Hanya untuk menutupi
Jiwa yang usang 
Tampilkan darah didih bersama

Jujur tak lagi manjur
Jujur tanpa kedok terselubung
Muncul dusta dengan beribu opini
Yang selalu dipercayai
Itulah kenyataan yang terjadi.

(09/03/2018)

Isyarat Hati

Takut kehilanganmu adalah alasanku, jika sikapku ini membuatmu terpaku. 
Maka jadikanlah aku sebagai angin lalu, 
yang hanya datang tanpa bersinggah.
Jika ucapanku penuh dusta, 
maka jadikanlah ucapanku sebagai bisikan tanpa kau ketahui siapa yang berbisik.
Percayalah, terkadang sifat ini ingin ku buang, 
berjalan normal seperti lelaki yang bangga dengan apa yang dilakukan wanitanya. 
Tapi rasa khawatirku melebihi  kesadaranku, 
yang akhirnya mengancam egoku.

(09/03/2018)

Terang Malamku Bersama-Mu

Malam ini
Lautan gemerlap terpandang
Titik titik putih bersiul-siul
Memanjakan pancasona
Indah..
Tenang dan terkenang

Damai terasa dalam hati
Membidik tepat dalam relung
Datanglah angan-angan
Dan terkenang

Betapa rasa syukur ini
Tak terelakkan
Untuk selalu terucap
Atas segala karya-Mu

Lingkar besar sebagai cahaya malam
Tanpa tertutup gumpalan awan
Bebas
Lepas dengan senyuman
Masa silam menjadi kenangan
Yang selalu terkenang

(30/03/2018)

Yang terasa

Inginku kembali seperti dulu
Merasakan kenikmatan masa
Bertemu selalu dalam canda
Berhias tawa dengan logat beragam

Kini hanya terlihat..
Pergantian malam yang terasa
Membebani insan yang tak semestinya
Rindu dengan keadaan yang lalu
Tubuh berbuat dengan suka rela

Saat ini, 
Tubuh ini,
Rapuh dan letih
Apa yang terasa, hanya ingin kembali
Saat semua terlihat tanpa cacat...

Kapan?
Raga ini kembali bergumam
Kesana kemari menikmati jalan
Berdendang dengan senyuman
Bersyukur akan pemberian..

Dan kini,
Rasa takut menyelimuti.
Rasa bosan terlalu menakuti
Insan ini hanya ingin kembali
Entah kembali kepada-Nya?
Atau kembali seperti dulu kala?

(25/06/2018)


Maftukhin, lelaki kelahiran Magelang, 
lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Tidar. 
Kini dirinya memilih jalan mengabdi di SMA Negeri 1 Bandongan
Ia juga turut bergiat di Pasar Tradisional Watu Gedhe.