-->

Selayang Pandang untuk Rindu karya Maftukhin (Part I)


Yang tak Terasa

Tak tersadar
Jatuh
Terbayang luka
Hal yang biasa
Terjadi
Lagi, setiap waktu berturut turut

Hampa
Bagaimana seharusnya
Tragedi yang sama
Membawa duka
Lupa
Tak terbiasa

Biarlah
Hanya merasa dan tak terasa
Rapuh tak terkuatkan
Layulah
Dan jatuh

(28/08/2018)


Puisi kertas

Berayun-ayun dengan lembutnya
Berirama dengan merdunya
Bersiul-siul dengan indahnya
Membagi isi hati
Terkenang dan mengenang

Singkat berasa padat
Lama terlihat sekejap
Berasa irama yang padu
Antara dia dan waktu

Satu persatu
Tumbuh, tertulis dalam kertas
Bercorak rindu
Berparas candu
Itulah coretan kertasku
28/08/2018


Dusta

Jerit hati ingin berkata
Mulut tak mampu terbuka
Hanya diam diam diam
Menahan dan tertahan
Sampai kapan?

Berasa terbakar
Tanpa kobaran
Tertahan dan bertahan
Sampai kapan?

Sampai hati ini bungkam dengan sendirinya.

(28/08/2018)


Apa bisa?


Perjalanan yang tak tahu
Panjang pendeknya waktu
Saat ini berujung esok hari
Kemarin berlanjut
Tanpa berhenti untuk berlabuh

Terkuatkan oleh alasan
Yang tak bisa diabaikan
Yang seharusnya berpandangan
Untuk berhirup sejenak

Apa bisa?
Hal yang terdambakan
Terwujudkan tanpa beban
Ketika kewajiban harus dijalankan
Hak pun tak ikut berkumandang.

(08/09/2018)



Inginku

Pikiran yang selalu tertuju pada-Mu
Sujud untuk-Mu sepanjang waktu
Tangan terangkat
Raut wajah pasrah tak tertahan

Hati berucap
Bibir tertutup hening
Batin berteriak
Suara tertahan

Pikiran yang memikirkan
Tuhan tahu dengan pasti
Inginku...

(12/09/2018)

Memayu Hayuning Bawono

Negeri Indonesia nan bermakna
Budaya berbalutkan nurani
Adat istiadat berbudi
Tunduk terhadap tatanan Ilahi

Suku bangsa bersanding
Membentuk satuan berbakti
Tak luluh dengan peradaban
Satu panutan Bhinneka Tunggal Ika

Anak bangsa berpendidikan
Jiwa raga berpedoman
Sopan santun diterapkan
Budi pekerti tak terelakan

Batin dibudayakan
Belajar untuk masa depan
Jiwa dipahat dengan lantunan
Teladan para pahlawan

Bayangan masa depan
Menjadi penerus yang budiman
Berbakti sebagai anjuran
Generasi muda yang terelokan

(10/03/2019)






Maftukhin, lelaki kelahiran Magelang, 
lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Tidar. 
Kini dirinya memilih jalan mengabdi di SMA Negeri 1 Bandongan
Ia juga turut bergiat di Pasar Tradisional Watu Gedhe.