-->

Resensi Buku Man’s Search For Meaning

Sumber Gambar : Kompasiana //Cristian Hutahaean

Identitas Buku

Judul : Man’s Search For Meaning
Penulis : Viktore E. Frankl
Penerbit : Noura Books
Dimensi Buku : 20 cm x 14 cm
Jumlah Halaman : 256 Halaman
Tahun Terbit : 2018
Jenis Cover : Soft Cover
Bahasa : Indonesia
No. ISBN : 9786023854165
Genre : Non Fiksi, Psikologi, Memora, Inspirasi
Harga : -

Dia yang punya alasan Mengapa harus hidup akan mampu menanggung segala bentuk Bagaimana caranya hidup. Frasa tersebut merupakan ungkapan pemikiran seorang filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche yang sering ditekankan si penulis dalam buku ini.

Frasa tersebut memiliki makna mendalam yang menggambarkan bagaimana manusia dapat bertahan hidup manakala ia memang masih memiliki banyak alasan untuk tetap hidup.

"Mengapa" memiliki makna sebagai alasan-alasan yang mendorong kita untuk tetap bertahan hidup dalam situasi apa pun. "Bagaimana" bermakna beragam situasi yang akan kita hadapi dalam hidup, yang salah satunya adalah keadaan yang penuh sengsara dan derita.

Keadaan itulah yang ditekankan dalam buku ini. Penderitaan demi penderitaan yang dialami si penulis di bawah kekejaman Nazi dijabarkan dengan sangat terperinci, membuat setiap orang yang membacanya seolah tidak percaya bagaimana bisa orang - orang yang tersiksa di bawah kekuasaan Nazi tetap memiliki harapan serta alasan-alasan yang kuat agar bisa lepas dari penderitaan yang dialaminya.

Harapan dan dorongan untuk bertahan hidup ini digambarkan secara mendalam dalam buku ini. Masih adanya harapan si penulis beserta tawanan-tawanan Nazi lainnya untuk dapat keluar dengan selamat dari cengkeraman Nazi membuat mereka bisa melihat hal-hal kecil untuk mereka syukuri.

Hal ini dinarasikan penulis dengan sebuah cerita semangkok sup yang diambil dari dasar panci. Biasanya, setelah bekerja secara tidak manusiawi selama seharian, para tawanan hanya diberikan semangkok sup encer. Namun, ada kalanya beberapa orang dari mereka beruntung mendapatkan sup dengan lumayan banyak kacang karena diambil dari dasar panci. Mereka yang mendapatkan sup dengan banyak kacang itu pun akan sangat bersyukur, seolah - olah derita dari kerja paksa yang baru saja mereka kerjakan, yang hampir membuat mereka mati, hilang begitu saja hanya dengan semangkok sup yang banyak kacangnya.

Di sisi lain, Viktor E. Frankl, penulis buku ini juga menarasikan perbedaan-perbedaan yang sangat kontras antara tawanan yang masih punya dorongan kuat untuk tetap hidup, dengan mereka yang sudah tidak memiliki alasan lagi untuk hidup. Narasi komparatif tersebut membuat esensi buku ini bisa tersampaikan dengan sangat baik. Secara sederhana, penulis melalui buku ini ingin menyampaikan bahwa akan ada saat-saat dimana manusia tidak dapat menghindar dari penderitaan dan situasi- situasi sulit lainnya.

Ketika penderitaan itu datang, manusia pun akan merespons sesuai dengan seberapa banyak alasan yang ia miliki untuk bertahan menghadapi serta melewati penderitaan tersebut. Penulis menekankan bahwa penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan yang tidak terhindarkan lagi. Karena, adalah sebuah tindakan yang masokistis apabila manusia tidak mau menghindari penderitaan padahal penderitaan itu nyatanya masih bisa dihindari. Secara keseluruhan, buku ini memiliki pembahasan yang mendalam dengan bahasa yang sederhana.

Sama halnya seperti Carl Sagan yang menulis buku Kosmos untuk orang - orang yang tidak pernah bersentuhan dengan Astronomi dan Sains, Viktor E. Frankl menulis buku Man's Search For Meaning untuk orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan Psikiatri maupun Psikologi. Sehingga orang-orang awam bisa sangat dekat dan familiar dengan bidang keilmuan yang mereka geluti.  

Viktor Emil Frankl lahir pada tahun 1905 dan meninggal pada tahun 1997 dalam usia 92 tahun. Viktor merupakan seorang Psikiater berkebangsaan Austria yang selamat dari Holocaust Nazi sekaligus menemukan kebermaknaan hidup dibawah kekejaman Nazi. Semula, ia memiliki kesempatan untuk pergi meninggalkan Jerman. Namun, karena ia tidak sampai hati meninggalkan orangtuanya, ia memilih untuk bertahan. Alhasil, ia pun harus menghadapi kenyataan dengan menjadi tawanan di kamp-kamp konsentrasi paling mematikan Nazi pada tahun 1942 - 1945.

Selama menjadi tawanan, Viktor tetap setia memelihara harapannya akan kehidupan yang jauh lebih baik dan senantiasa memimpikan hari - hari dimana ia akan dibebaskan. Harapan - harapan itulah yang membuat ia mampu bertahan dibawah tekanan dan siksaan dari para serdadu NAZI. Singkat cerita, setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, para tawanan, termasuk Viktor pun dibebaskan.

Namun, setelah bebas, Viktor tidak pernah berjumpa lagi dengan keluarganya yang kemungkinan besar telah meninggal di kamp NAZI yang berbeda. Kendati demikian, Viktor tidak merasa bahwa harapan yang senantiasa dipeliharanya menjadi sia-sia. Ia menemukan cinta kembali serta tetap menjadi seorang yang produktif dan memberikan pengaruh besar di bidang keilmuannya hingga akhir hayatnya.

Salah satu kontribusi besar Viktor Frankl, khususnya di bidang keilmuannya adalah Logoterapi, yaitu sebuah terapi psikologis (Psikoterapi) atau terapi eksistensial dengan metode yang agak berbeda dari terapi-terapi psikologis pada umumnya. Jika pada umumnya Psikoterapi cenderung lebih objektif dalam menganalisis kondisi pasien, sehingga Psikoterapis kerap menggeneralisasi konklusi atas kondisi psikologis pasien yang berbeda-beda, maka dalam Logoterapi pasien lebih dibebaskan untuk menentukan dan menemukan apa sebenarnya yang menjadi masalah psikologisnya.

Terapis yang menerapkan logoterapi tersebut semata-mata hanya membantu si pasien dalam menemukan akar permasalahan psikologisnya, bukan menghakimi secara analitis-teoritis. Metode psikoterapi Viktor Frankl ini tidak terlepas dari pengalamannya selama berada di kamp NAZI yang membawanya ke perenungan terdalam tentang berbagai kondisi psikologis manusia, terkhusus dalam menghadapi tekanan dan penderitaan yang tak terelakkan.

Viktor E. Frankl merupakan tokoh yang layak menjadi panutan bagi semua orang, khususnya bagi mereka yang mendalami psikiatri dan psikologi. Karya- karyanya telah menginspirasi banyak orang. Salah satunya adalah melalui buku Man's Search For Meaning ini. Viktor sendiri telah berhasil menemukan kebermaknaan hidupnya dalam situasi paling buruk yang dapat dibayangkan oleh manusia.

Penemuannya akan makna hidup itu pun telah mendorong orang lain untuk menemukan makna hidup mereka. Suatu ketika dalam sebuah kelas perkuliahan, seorang mahasiswa bertanya kepada Viktor mengenai apa yang menjadi makna hidupnya.

"Menurutmu apa?" Viktor balik bertanya. Dengan lugas si mahasiswa menjawab, "Makna hidup anda adalah membantu orang lain menemukan makna hidup mereka".

 

Rest In The Peace Of God, Viktor Emil Frankl.