-->

Bermain Drama | Materi Bahasa Indonesia

Drama merupakan cerita atau kisah yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku atau akting atau dialog yang dipentaskan. Drama merupakan proyeksi kehidupan yang dipentaskan. Drama dipentaskan sebagai sarana hiburan dan pendidikan. Ketika melihat drama, Anda harus memahami drama tersebut babak per babak. Anda juga harus memperhatikan dengan baik konflik dan penyelesaian sebuah drama. Selain itu, Anda dapat melihat ada beberapa karakter dalam naskah drama.

Mengidentifikasi Alur Cerita dan Konflik dalam Drama yang Dibaca atau Ditonton

Drama dapat diartikan sebagai sebuah lakon atau cerita dalam bentuk dialog dan lakuan tokoh yang memuat sebuah konflik. Drama terdiri dari beberapa bagian yang tersusun secara sistematis. Bagian-bagian dalam drama membentuk suasana alur drama. Alur drama bergerak dari suatu permulaan, melalui bagian pertengahan yang berisi konflik, dan menuju bagian akhir drama. Struktur drama meliputi babak, adegan, prolog, dialog dan epilog.

Bagian awal drama diawali dengan prolog. Prolog merupakan pembukaan, pengantar, atau latar belakang cerita, yang biasanya disampaikan oleh narator atau tokoh tertentu dalam drama. Bagian inti drama disebut dengan dialog. Dialog adalah bagian dari naskah drama yang berupa percakapan  antara satu tokoh dan tokoh lain. Dialog merupakan bagian dari naskah drama yang berupa percakapan adalah hal yang membedakan antara drama dan jenis karya sastra lain. Bagian akhir drama ditutup oleh epilog. Epilog merupakan kata-kata penutup yang berisi simpulan atau amanat atau pesan tentang keseluruhan isi drama. Epilog biasanya disampaikan oleh narator atau tokoh tertentu.

Dialog dalam drama dibedakan menjai bagian orientasi, komlikasi dan resolusi.

  1. Orientasi dalam sebuah drama menentukan aksi dalam waktu dan tempat tertentu. Pada bagian orientasi drama digunakan untuk memperkenalkan para tokoh, menyatakan situasi suatu cerita, mengajukan sebuah konflik yang akan dikembangkan pada tahap selanjutnya, dan adakalanya membayangkan resolusi yang akan diambil dalam akhir drama.
  2. Komplikasi dalam sebuah drama merupakan bagian tengah atau inti drama. Dalam tahap ini konflik mulai dikembangkan. Pelaku utama mulai mendapat rintangan dalam mencapai tujuannya. Tokoh utama mengalami konflik, permasalahan, dan kesalahan pemahaman dengan tokoh lain. Dalam tahap ini tokoh utama mulai melakukan perjuangan untuk menyelesaikan masalah dan rintangan yang ia hadapi.
  3. Resolusi disebut juga denouement tahap ini muncul secara logis dari yang mendahuluinya dalam tahap komplikasi. Titik batas memisahkan antara komplikasi dan resolusi disebut klimaks. Pada tahap klimaks terjadi perubahan penting mengenai nasib tokoh utama. Kepuasan penonton terhadap suatu cerita bergantung pada sesuai atau tidaknya perubahan yang dialami oleh tokoh utamanya. Dalam resolusi ini masalah yang dihadapi tokoh utama mulai mendapatkan jalan keluarnya.

Setiap tahap dalam dialog drama dapat diubah cara penyajiannya tidak semua drama menyajikannya dialog secara urutan sesuai dengan tahapan dialog. Suatu saat dialog dapat diawali dengan konflik, kemudian diikuti dengan tahap orientasi, seperti memperkenalkan masa lalu tokoh sebelum terjadinya konflik untuk memberikan motivasi bagi tokoh. Tahap seperti ini disebut dengan flashback.

Bagian-bagian drama tersebut dibagi dalam babak dan adegan. Satu babak dalam drama mewakili satu peristiwa dalam drama yang ditandai dengan suatu perubahan atau perkembangan peristiwa yang dialami oleh tokoh dalam drama. Dengan kata lain, babak merupakan bagian dari naskah drama yang merangkum sebuah peristiwa yang terjadi di suatu tempat dengan urutan waktu tertentu. Adegan meliputi satu pilihan atau bagian dalam dialog antara beberapa tokoh. 

 

Drama sebagai sebuah karya sastra memiliki berbagai bentuk. Bentuk-bentuk drama sebagai berikut.

Berdasarkan Sastra Cakupannya

Berdasarkan sastra cakupannya drama dibedakan menjadi drama puisi dan drama prosa. Drama puisi adalah drama yang sebagian besar cakupannya disusun dalam bentuk puisi atau menggunakan unsur puisi. Drama prosa merupakan drama yang cakupannya disusun dalam bentuk prosa.

Berdasarkan Penyajian Lakon

  1. Tragedi merupakan jenis drama yang menyampaikan kisah-kisah ataupun cerita tentang kesedihan. Drama ini biasanya mengangkat tema ‘gelap’, seperti tentang kematian, bencana, serta penderitaan. Umumnya, tokoh protagonist dlaam drama jenis ini akan memiliki kisah yang berakhir tragis.
  2. Komedi merupakan jenis drama yang sepanjang ceritanya berisi penuh dengan kelucuan. Drama jenis ini akan mendramatisasi suatu kejadian lucu dengan tujuan membuat penonton tertawa. Drama jenis ini biasanya memiliki akhir yang bahagia.
  3. Traged ikomedi merupakan perpaduan antara drama tragedy dan drama komedi. Tragedikomedi menggunakan alur dukacita, tetapi berakhir dengan bahagia.
  4. Farce merupakan drama yang menyerupai dagelan, namun bukan sepenuhnya drama tersebut merupakan dagelan. Drama ini biasanya berisi tentang kejadian yang ditanggapi secara berlebihan (over acts) serta humor-humor slapstick.
  5. Kolosal merupakan drama yang mengangkat kisah-kisah tentang perjuangan, peperangan, maupun latar tentang zaman kerajaan. Beberapa contoh drama kolosal seperti Angling Darma dan Mahabarata.

Berdasarkan Kualitas Cakupannya

  1. Panomin, yaitu drama tanpa kata-kata.
  2. Minikata, yaitu drama yang menggunakan sedikit sekali kata-kata.
  3. Dialog-monolog, yaitu drama yang menggunakan banyak kata-kata.

Berdasarkan Besarnya Cakupan Unsur Seni Lainnya

  1. Opera merupakan jenis drama yang dialog dalam drama tersebut disampaikan dengan cara dinyanyikan serta diiringi music. Drama jenis ini berkembang pesat di daratan Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19. Operan umumnya dimainkan oleh penyanyi dan diiringi orchestra lengkap.
  2. Melodrama hampir mirip dengan opera, melodrama merupakan perpaduan antara seni peran dan music. Hal yang membedakan adalah dialog pada melodrama diucapkan sebagaimana biasanya, hanya saja tetap diiringi dengan music.
  3. Tablo  merupakan jenis drama yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan gerak-gerik dan permainannya. Pemain-pemain tersebut tidak mengucapkan dialog, namun menyampaikan pesan dari drama tersebut lewat gerakan.
  4. Sendratari merupakan jenis drama yang memadukan seni peran dengan seni tari. Aktris dan aktor yang memainkan drama ini mengucapkan dialog secara biasa, namun pada bagian-bagian penting suatu drama (misalnya peperangan) disampaikan lewat tarian. Sendratari yang terkenal di Indonesia salah satunya adalah Sendratari Ramayana yang dipentaskan di pelataran Candi Prambanan.

Berdasarkan Sarana Penyampaiannya

  1. Drama panggung, merupakan drama yang dipentaskan secara langsung di atas panggung.
  2. Drama radio, merupakan drama yang diperdengarkan lewat radio. Drama jenis ini dahulu popular pada abad 20-an.
  3. Drama televisi, merupakan drama yang disiarkan lewat stasiun TV. Drama ini sering berupa sinetron maupun FTV. Dalam pembuatannya, berbeda dengan drama panggung yang menuntut kesempurnaan pemainnya dalam mementaskan suatu drama, drama televisi dapat diulang pembuatannya jika terjadi kejadian.
  4. Drama film, pembuatannya mirip dengan drama televisi, namun biasanya tema yang diangkat dan eksekusinya lebih spektakuler serta pertunjukannya diputar di bioskop.
  5. Drama wayang, merupakan drama yang penyajiannya menggunakan sarana wayang untuk menggantikan aktris dan aktor. Wayang-wayang tersebut dimainkan oleh seorang dalang.
  6. Drama boneka, hampir mirip dengan drama wayang, hanya saja media yang digunakan dalam penyampaiannya cerita berupa boneka yang dapat dimainkan oleh satu atau beberapa orang.

Berdasarkan Keberadaan Naskah (Ada atau Tidak Naskahnya)

  1. Drama tradisional, merupakan drama yang tidak menggunakan naskah, pemain biasanya hanya diberikan gambaran umum tentang jalan ceritanya saja (storyline), sedangkan setiap adegan yang dipentaskan merupakan kreativitas antarpemain (improvisasi).
  2. Drama modern, merupakan drama yang menggunakan naskah.

 

Berdasarkan Bentuk-Bentuk Lain

  1. Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan berkembang sesuai dengan festival rakyat yang ada (terutama di perdesaan).
  2. Drama domestic, yaitu drama yang menceritakan kehidupan rakyat biasa.
  3. Drama baca, yaitu naskah drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan dipentaskan.
  4. Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konvensi alur, penokohan, tematik.
  5. Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri dari satu babak, berpusat pada satu tema dengan sejumlah kecil pameran gaya, latar, serta pengaluran yang ringkas.
  6. Drama borjuis, yaitu drama yang bertema tentang kehidupan kaum bangsawan (muncul di abad ke-18).
  7. Drama litugris, yaitu drama yang pementasannya digabungkan dengan upacara kabaktian gereja (di abad pertengahan).
  8. Drama duka, yaitu drma yang khusus menggambarkan kejatuhan atau keruntuhan tokoh utama. Drama ini juga drama yang melukiskan tikaian di antara tokoh utama dan kekuatan yang luar biasa yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan/tragedi.

 

Drama sebagai karya sastra dibentuk dengan unsur-unsur tertentu. Unsur-unsur yang membentuk sebuah drama yakni unsur indtrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsic merupakan unsur yang terdapat pada struktur karya drama itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur-unsur penyusun drama yang terletak diluar struktur karya sastra.

 

Unsur Intrinsik

Tema merupakan ide pokok yang mendasari jalan cerita suatu drama. Tema sendiri dapat diungkapkan secara langsung (eksplisit) maupun secara tidak langsung (implisit).

Alur merupakan rangkaian peristiwa yang dirangkai secara seksama. Dalam rangkaiannya, alur memiliki tahapan-tahapan yang menyusun cerita dalam drama menjadi sedemikian rupa. Tahapan-tahapan tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Orientasi merupakan tahapan awal meliputi pengenalan latar dari cerita dalam drama tersebut, baik latr waktu, tempat, maupun suasana yang terjadi.
  2. Komplikasi, pada tahapan ini berisi urutan kejadian-kejadian dalam drama yang sistematis yang dikembangkan dari hubungan sebab akibat. Pada bagian ini, tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita mulai memperkenalkan, serta karakter masing-masing tokoh mulai dimunculkan. Selain itu, pada tahapan ini konflik mulai sedikit diperkenalkan.
  3. Evaluasi, pada tahapan ini merupakan puncak dari rangkaian alur. Konflik cerita menjadi focus utama pada bagian ini. Tahapan pada evaluasi terdiri dari pengenalan konflik lebih lanjut, klimaks, hingga penyelesaian konflik mulai sedikit diperkenalkan.
  4. Resolusi yakni fokus pada tahap ini adalah penyelesaian konflik yang dihadapi tokoh utama. Pada tahapan resolusi ini, solusi-solusi dari konflik dimunculkan, serta teka-teki yang dimunculkan pada tahap awal-awal cerita akan terjawab pada tahap ini.
  5. Koda (Coda), pada bagian ini semua konflik sudah terselesaikan dan menjadi akhir dari suatu drama. Tahapan terakhir ini biasanya menyimpulkan kembali amanat, nilai, maupun pelajaran yang ingin disampaikan sepanjang pertunjukan drama.

Secara umum, alur dibedakan menjadi dua, yakni alur maju (alur progresif) dan alur mundur (alur regresif). Alur maju merupakan rangkaian kejadian kejadian yang diceritakan maju atau menceritakan kejadian-kejadian yang akan terjadi seiring berjalannya waktu. Adapun alur mundur merupakan rangkaian kejadian yang diceritakan secara mundur atau menceritakan kejadian sekarang namun rangkaian lanjutannya merupakan kejadian-kejadian yang sudah terjadi sebelumnya, sebelum kejadian sekarang. Dalam perkembangannya, dikenal pula alur maju mundur, yakni alir yang memiliki rangkaian cerita berupa kombinasi dari alur maju serta alur mundur.

Penokohan

Penokohan merupakan penggambaran watak dari tokoh yang tergambar dari sikap, perilaku, ucapan, pikiran, dan pandangan tokoh tersebut dalam setiap situasi yang dihadapi dalam drama. Berdasarkan pengungkapan watak tokohnya, penokohan terdapat dua metode, yaitu sebagai berikut.

  1. Metode analitik, yakni diungkapkan secara langsung melalui narasi yang disampaikan oleh narator.
  2. Metode dramatik, yakni diungkapkan melalui tingkah laku, ucapan, perasaan, serta penampilan fisik tokoh.

Berdasarkan perannya, tokoh dalam suatu drama dapat dibedakan menjadi tiga tokoh, yakni sebagai berikut.

  1. Protagonis merupakan tokoh yang memiliki watak baik atau berperan sebagai orang baik.
  2. Antagonis merupakan tokoh yang memiliki watak kurang baik (tercela) atau berperan sebagai orang jahat.
  3. Tritagonis merupakan tokoh pembantu yang menjadi pendukung tokoh protagonois, namun di sisi lain terkadang menjadi pendukung tokoh antagonis.

Jika dilihat dari kedudukan tokoh dalam cerita atau drama, tokoh dibedakan menjadi tokoh utama (sentral) serta tokoh bawahan (sampingan). Tokoh utama merupakan tokoh yang memiliki jalannya cerita, atau dalam kata lain jalannya cerita dalam drama tersebut berpusat pada sekitar tokoh utama. Adapun tokoh sampingan merupakan tokoh yang muncul dalam cerita yang masih memiliki hubungan dengan tokoh utama, serta bukan sorotan utama jalannya cerita.

Latar

Latar merupakan keadaan yang ingin digambarkan dalam drama yang meliputi tempat, waktu, serta suasana yang ingin ditampilkan. Selain itu latar sosial seperti hubungan tokoh dengan lingkungannya juga masuk dalam unsur latar.

  1. Aspek Ruang yakni menggambarkan tempat kejadian dari suatu cerita atau babak dalam sebuah drama.
  2. Aspek Waktu menggambarkan kapan suatu cerita atau babak dalam sebuah drama terjadi. Aspek ini sangat berpengaruh pada penyampaian alur yang akan dibawakan dalam drama.
  3. Aspek Suasana menggambarkan suasana yang terjadi dalam suatu cerita atau babak dalam sebuah drama. Biasanya hubungan antartokoh juga dimasukkan dalam aspek ini karena hubungan suatu tokoh dianggap dapat menciptakan suasana yang akan dibangun dalam sebuah cerita.

Amanat atau pesan merupakan unsur yang wajib ada dalam sebuah drama maupun karya sastra lainnya. Amanat atau pesan merupakan nilai didik yang ingin disampaikan penulis naskah kepada penonton melalui pertunjukan yang dipentaskan, baik secara eksplisit maupun implisit. Nilai-nilai yang terkandung dapat berupa nilai agama, sosial, moral, dan budaya yang pada intinya memberikan suatu pelajaran hidup yang bermanfaat bagi penoton.

 

Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik dalam drama merupakan unsur-unsur pendukung jalannya sebuah drama yang berasal dari luar struktur sastra drama tersebut. Unsur-unsur pendukung tersebut, antara lain pimpinan produksi, sutradara, tim kreatif, penata rias dan kostum, penyumbang dana, serta unsur-unsur pendukung lainnya dalam pementasan suatu drama. Selain itu, unsur ekstrinsik dapat berupa faktor-faktor yang tengah berkembang dalam masyarakat, seperti perkembangan ekonomi, situasi politik, situasi sosial budaya, tingkat pendidikan, akses terhadap masyarakat. Hal ini dikarenakan unsur-unsur tersebut dapat memengaruhi penulis dalam menentukan jenis cerita yang akan dipentaskan serta memengaruhi tanggapan penonton terhadap suatu pertunjukan drama. Selain itu, faktor psikologis, baik dari pemain, kru, maupun penonton juga termasuk dalam unsur ekstrinsik yang dapat memengaruhi jalannya sebuah drama.


Memperagakan Tokoh dalam Drama

Drama disusun dari beberapa bagian penting. Bagian-bagian penting drama tersebut tertuang dalam unsur intrinsik dan ekstrinsik drama. Sebelum mementaskan sebuah naskah drama, Anda harus benar-benar memahami bagian-bagian penting dalam naskah drama tersebut. Situasi dan keadaan panggung atau pentas harus sesuai dengan bagian penting naskah drama.

Pementasan drama berawal dari sebuah naskah drama atau skenario. Dialog dan tata laku pelaku drama di atas pentas sudah diatur dalam sebuah naskah drama. Ide penulisan drama dapat ditemukan dari karya sastra yang sudah ada, misalnya cerpen, dongeng, novel, imajinasi, atau pengalaman yang dialami oleh penulisnya. Penulisan naskah drama tidaklah sulit karena ide drama, alur, latar, dan unsur-unsur lainnya dapat dilihat dari sumber ide drama. Naskah drama juga dapat bersumber dari peristiwa sehari-hari. Peristiwa itu ditata serta diperkaya dengan inspirasi dan imajinasi penulis naskah drama. Dengan demikian, Anda dapat menulis naskah drama dimulai dengan apa yang Anda saksikan atau alami sendiri.

Sebuah naskah drama dapat dipentaskan. Untuk mementaskan naskah drama, Anda harus benar-benar memahami tokoh yang akan diperankan. Anda harus menganalisis watak tokoh yang akan diperankan, kemudian Anda harus melakukan observasi terhadap orang-orang yang memiliki watak yang hampir sama dengan watak tokoh yang akan diperankan. Lalu, Anda dapat berlatih memerankan tokoh drama yang akan Anda perankan.

 

Menganalisis Isi dan Kebahasaan dalam Teks Drama yang Dibaca atau Ditonton

Sebuah drama biasanya menceritakan sebuah peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam diri tokoh. Hal yang diceritakan dalam drama disebut dengan isi drama atau tema drama. Tema drama adalah gagasan umum atau ide dasar dalam suatu drama yang disampaikan penulis drama kepada pembaca atau penonton drama. Tema merupakan pangkal otak seorang pengarang untuk menulis sebuah naskah drama. Tema dalam drama dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.

  1. Tema utama, adalah tema secara keseluruhan yang menjadi landasan dari naskah drama.
  2. Tema tambahan, adalah tema-tema lain yang mendukung tema utama. Tema drama disampaikan secara tersurat atau eksplisit dalam drama. Tema dapat ditemukan setelah membaca atau menyaksikan secara keseluruhan naskah drama. Anda dapat menyimpulkan ke seluruh isi drama dalam menemukan tema drama.

Tema dalam drama tertuang dalam dialog-dialog drama. Dialog dalam drama menggunakan kaidah kebahasaan yang khas. Kaidah kebahasaan yang digunakan dalam drama adalah sebagai berikut.

  1. Kalimat Langsung dan Tidak Langsung. Dialog pada drama dituangkan dalam bentuk kalimat langsung dan ada pula dalam bentuk kalimat tidak langsung. Kalimat langsung dalam drama terdapat dalam kalimat-kalimat dialog yang diucapkan tokoh-tokohnya. Kalimat tidak langsung terdapat dalam prolog dan epilog.
  2. Kata Ganti. Pada bagian prolog dan epilog drama menggunakan kata ganti orang ketiga, yaitu ‘dia’. Dalam prolog dan epilog terkadang juga menggunakan kata ganti ‘mereka’ untuk menyebutkan nama tokoh yang banyak. Dalam dialog drama kata ganti yang digunakan adalah kata ganti orang pertama dan kedua, seperti aku, saya, kamu, kita, kami, dan Anda.
  3. Kata Suruhan, Seruan, dan Pernyataan. Dialog dalam drama sering menggunakan kata seru, suruh, dan kalimat tanya. Kata-kata seperti oh, ya, aduh, sih, dong, sering muncul dalam teks drama meskipun kata-kata tersebut tidak baku.
  4. Menggunakan Kata Urutan Waktu. Dalam dialog drama sering menggunakan kalimat yang menyatakan urutan waktu. Kalimat yang mengandung urutan waktu terdapat kata penghubung atau konjungsi kronologis, seperti sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian, dan sebagainya.
  5. Penggunaan Kata Kerja. Kata kerja yang digunakan dalam dialog drama merupakan kata kerja yang menggambarkan sebuah peristiwa, seperti menyuruh, menanggapi, meminta menyingkirkan. Kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan tokoh, seperti mengaharapkan, mendambakan, merasakan, dan mengalami.
  6. Menggunakan Kata Sifat. Kata sifat yang terdapat dalam dialog drama merupakan kata sifat yang menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana. Kata sifat yang dimaksud, seperti rapi, bersih, baik, gagah, atau kuat.

 

Memerankan Drama dengan Memperhatikan Naskah Drama

Mementaskan drama berarti memerankan atau menyajikan segala sesuatu yang terdapat dalam teks drama ke dalam lakon drama di atas pentas. Aktivitas yang dilakukan dalam memerankan drama menonjolkan pemeranan dialog antartokoh, monolog, gerak anggota badan, mimik dan perpindahan letak pemain atau blocking.

Sebelum memerankan drama, para pemain drama harus berlatih mengucapkan kalimat dalam dialog drama dengan lafal, intonasi, nada, dan tekanan yang sesuai dengan isi kalimat. Lafal (cara seseorang mengucapkan kata/bunyi bahasa) yang jelas, intonasi (naik turunnya lagu kalimat) yang tepat, nada (kuat lemahnya penurunan suatu kata dalam kalimat) yang tepa akan mendukung penyampaian isi drama kepada penonton.

Anda perlu memahami unsur-unsur drama. Pemahaman akan unsur-unsur drama sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan dalam memerankan sebuah drama karena pemahaman akan unsur-unsur drama dapat memberikan panduan bagi pemain untuk memerankan drama tersebut.

Sebelum memerankan drama, pemeran harus membaca dan memahami naskah drama. Naskah drama adalah bentuk penyajian dalam tulisan yang disusun sedemikian rupa berdasarkan alur cerita. Naskah drama berisi nama-nama tokoh, dialog yang diucapkan, latar, panggung yang dibutuhkan, dan pelengkap lainnya, misalnya kostum lighting, dan musik pengiring. Tingkah laku (acting) dan dialog (percakapan antartokoh) dalam naskah drama diutamakan sehingga penonton dapat memahami isi cerita yang dipentaskan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemeran drama harus membaca naskah drama sampai ia menguasai perannya.


Berikut adalah dua langkah utama yang harus kita lakukan ketika akan mementaskan naskah drama.

Memahami naskah dan karakter tokoh yang akan diperankan melalui dialog-dialognya dan kramagung atau petunjuk lakon yang dinyatakan langsung oleh pengarang.

Memperhatikan aspek lafal, intonasi, nada/tekanan, mimik (ekspresi atau raut muka yang menggambarkan emosi (gembira, sedih, takut, kecewa, dan sebagainya), dan gerak-geriknya (berbagai gerak anggota badan atau tingkah laku seseorang dalam menyatakan maksud tertentu). Intonasi untuk mengucapkan kalimat kegembiraan atau kesedihan, berita, perintah, dan kalimat tanya juga harus berbeda.