-->

Tetapak Wayang (Historis, Kronologis, Filosofis)


Sumber Gambar : Merah Putih (dot) com

Nusantara. Berlimpah ruah ragam budaya, adat, tradisi dan seni dari Sabang hingga Merauke. Budaya, adat, tradisi dan seni dari para leluhur Nusantara tumbuh subur dan berkembang menjadi karakter kehidupan di Nusantara. Gelombang pasang surut nafas dan mati surinya kesenian pun banyak ditemui di berbagai daerah di bumi Nusantara ini.

Beragam genre kesenian di Nusantara saat ini masih banyak yang dapat dijumpai, dinikmati dan juga dilacak jejaknya. Ragam kesenian tradisi-tradisi di bumi Nusantara tidak hanya berupa seni tari, namun juga seni musik, rupa, sastra dan wayang. Seni wayang merupakan mother of art¹, sebab di dalam pagelaran wayang memuat unsur tari, musik, sastra, rupa dan teater.

Wayang yang merupakan sebuah seni kriya bukan hanya sakadar dijadikan sebagai sebuah pertunjukan di depan publik, namun wayang juga sebagai media pembelajaran karakter. Dalam setiap tokoh wayang, ada suatu gambaran mengenai sifat antagonis dan protagonis yang dapat disaksikan melalui warna wajah, wajah, jenis suara dan geraknya dalam  suatu pertunjukan. Wayang sendiri merupakan sebuah seni yang bukan hanya menjadi sebuah tontonan, namun juga sebagai tuntunan bagi penonton. Sebab, di dalam seni wayang banyak mengandung nilai-nilai luhur (akhlak mulia), baik menurut filsafat dan falsafah, utamanya dalam kalangan masyarakat Jawa.

Seperti yang dibicarakan oleh Magnis-Suseno (1984:161) bahwa orang Jawa memperoleh pelajaran moral secara efektif dari wayang, sementara Anderson (1965:8) mengatakan bahwa lakon-lakon dalam pewayangan penuh dengan masalah-masalah yang menimbulkan pertanyaan moral. Wayang bagi orang Jawa dapat disebut sebagai agama tanpa  nabi, tanpa amanat, tanpa kitab suci, tidak punya Juru Selamat, tidak mendakwahkan pesan keselamatan yang universal (Anderson, 2010:10-11).

Wayang, digemari oleh rakyat sejak kurang lebih 1.000 tahun yang lalu (Muskes; 1973:42). Menurut Moerdowo, berita tentang wayang pun telah ditemukan dalam Kakawin Arjuna Wiwaha, yang ditulis pada awal abad ke-11 pada masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur, yang berbunyi:

Hannanonton ringgit manangis asekel muda hidepen, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap, hatur ning wang tresneng wisaya malaha tan wihikana, ri tatwan jan maya sahan-haning bhawa siluman. 

[mereka yang menonton permainan wayang, meneteskan air mata dan haru serta kacau jiwanya, walaupun mereka sadar bahwa apa yang mereka lihat hanyalah boneka yang berbicara khayal bergerak seperti manusia, orang yang haus akan kenikmatan benda, sadar bahwa dunia perasaan adalah dunia maya.]

Namun, pada masa sekarang ini penggemar akan wayang sudah mulai luntur. UNESCO (Paris, Perancis, 21 April 2014), telah menetapkan sebagai Adikarya Budaya Lisan dan Nonbendawi Warisan peradaban Manusia (Masterpiece of Oral and Intangible Haritage of Humanity); di masyarakat bangsa Indonesia, utamanya para pemudanya tidak begitu tertarik lagi terhadap cerita/pertunjukan wayang, dan telah/sedang terjadi degradasi dan dekandensi moral. Hal tersebut terjadi dikarenakan masyarakat sekarang sudah terpengaruh oleh budaya modern (Barat), sehingga tanpa disadari kecintaannya kepada tanah kelahirannya pun mulai luntur sedikit demi sedikit. Sebagai generasi muda penerus peradaban Nusantara, seharusnya kita harus lebih mencintai apapun yang ada di bumi Nusantara ini, agar kejayaan dan peradapan nusantara tidak hancur begitu saja karena ulah diri kita sendiri yang lalai.

Di Nusantara, ada banyak jenis wayang. Sepertihalnya, wayang purwa yang merupakan salah satu dari pertunjukan wayang kulit yang bersumber pada Ramayana dan Mahabharata dari India. Ada juga wayang kulit yang tidak bersumber dari Ramayana dan Mahabharata, seperti wayang gedhog yang mengambil cerita Panji, wayang suluh dengan cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia, wayang menak yang bersumber dari ajaran Islam, dan wayang wahyu dengan cerita dari Injil. Ada juga wayang yang mengambil cerita dari Ramayana dan Mahabharata, tetapi tidak menggunakan media kulit, yaitu wayang golek menggunakan kayu, dan wayang wong yang menggunakan orang sebagai figur.²

Secara kronologis, jenis-jenis wayang di Jawa dapat disebut (1) wayang purwa, mencakup masa paling awal sejarah hingga pemerintahan Parikesit; (2) wayang gedhong, sejak pengganti Parikesit, tentang pemerintaan Gandrayana, termasuk perintahan Panji; dan (3) wayang klitik (Jawa Tengah) atau wayang krucil (jawa Timur) yang mengambil cerita berdirinya kekaisaran di barat (Pejajaran) hingga runtuhnya kekaisaran di timur (Majapahit) dengan cerita populer Minak Jingga dan Damar Wulan, yang juga digelar sebagai wayang buber (Raffles, 1965:338-340).

Secara filosofis, gelar pakeliran wayang memaparkan empat tingkatan mistik, yaitu (1) sarengat, wayang sebagai tontonan atau hiburan; (2) tarekat, wayang sebagai tuntunan atau ajaran; (3) hakikat, wayang sebagai saraba pemahaman dan pendalaman nilai; dan (4) mekrifat, wayang sebagai penghayatan simbol penyatuan kawula dengan Gusti (Ciptoprawiro, 1980:33). Dalam tingkat hakikat dan makrifat, sangat diperlukan metode varstehen untuk memahami, menghayati, mendalami dan menginternalisasi nilai yang termuat dalam wayang. Secara mistik yang berkaitan dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti, pertunjukan wayang baru memberikan sebua gambaran hubungan tingkat sarengat. Sementara tingkat tarekat, hakikat,makrifat secara berturut-turut digambarkan oleh tari barong, tari topeng dan tari ronggeng.

 

Sumber:
Ahmad, Sri Wantala. 2014. Ensiklopedia Karakter Tokoh-Tokoh Wayang. Yogyakarta: Araska.
Soegeng. 2016. Nilai-Nilai Pembentukan Karakter dalam Cerita/Pertunjukan Wayang Purwa. Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama
[K. Prasetyo Utomo]